Komunitas Australia-Indonesia Luncurkan Arsip Digital Inside Indonesia

Komunitas Australia-Indonesia Luncurkan Arsip Digital Inside Indonesia

Australia Plus ABC - detikNews
Selasa, 08 Des 2015 12:51 WIB
Jakarta -

Asosiasi Pemuda Australia-Indonesia (AIYA) di Jakarta bekerja sama dengan majalah online 'Inside Indonesia' luncurkan arsip digital berisi informasi tentang Indonesia dalam bahasa Inggris. Tim Fitzgerald, salah seorang pegiat AIYA menceritakan betapa pentingnya arsip ini bagi kedua negara.

Senin (30/11/2015) malam, 'Inside Indonesia' dan Asosiasi Pemuda Australia-Indonesia (AIYA) di Jakarta meluncurkan sebuah arsip digital, yang menyediakan informasi bagi warga Australia yang memiliki ketertarikan dengan Indonesia serta bagi warga Indonesia sendiri.

Sejarah arsip ini dimulai sejak 32 tahun yang lalu. Pada tahun 1983, sekelompok warga Australia yang terdiri dari peneliti, aktivis Hak Asasi Manusia (HAM) dan beberapa penulis yang tertarik pada Indonesia, bergabung untuk menciptakan majalah baru bernama Inside Indonesia.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Diskusi 'Peranan Media dalam hubungan Australia-Indonesia' (kiri-kanan: Jemma Purdey-ketua Inside Indonesia, Nick Baker-jurnalis Australia, Tim Fitzgerald moderator
Diskusi 'Peranan Media dalam hubungan Australia-Indonesia' (kiri-kanan: Jemma Purdey-ketua Inside Indonesia, Nick Baker-jurnalis Australia, Tim Fitzgerald moderator




Awalnya, pada pertengahan Orde Baru, salah satu misi utama Inside Indonesia adalah memperbanyak aliran informasi yang keluar masuk Indonesia tentang kehidupan sehari-hari masyarakat kecil dan situasi HAM.

Pada waktu itu, cetakan yang dikirim ke pembaca di Indonesia bahkan dikemas dengan amplop kertas coklat yang tak bertanda agar pembacanya tidak diduga melanggar hukum.

Bermula dari media cetak, majalah 3 dekade yang sempat terbit 4 kali dalam setahun selama kurun waktu 1983-2007 ini sudah bertransformasi mengikuti perkembangan zaman.

Sejak tahun 2007, Inside Indonesia mulai menerbitkan versi online di situs mereka. Kini, di penghujung tahun 2015, warga Australia pencinta budaya dan informasi seputar Indonesia bisa mengakses informasi-informasi yang telah diterbitkan sebelumnya.

Media ini juga telah mengalami perubahan sumber tulisan dan fokus berita yang diangkat dari edisi pertamanya hingga sekarang.

Tampilan depan situs 'Inside Indonesia' yang di dalamnya terdapat arsip digital.
Tampilan depan situs 'Inside Indonesia' yang di dalamnya terdapat arsip digital.




Dalam peluncuran arsip ini, dibahas pula peranan media dalam hubungan Australia-Indonesia yang berperan besar dalam hubungan kedua negara.

β€œKami memilih tema ini (Peranan Media dalam Hubungan Australia-Indonesia) karena memang tanpa kita sadari media sangat berperan penting dalam membentuk opini masyarakat, termasuk disini dalam kaitannya dengan hubungan bilateral kedua negara. Untuk itu melalui diskusi ini kami harapkan kami dapat menjadi jembatan bagi media dan masyarakat kedua negara untuk saling bertukar pikiran serta mendorong munculnya berita-berita yang lebih positif agar hubungan Australia-Indonesia menjadi lebih baik pula,” ungkap Wakil Presiden AIYA Jakarta, Sekar Langit.

Ketika ditanya mengenai betapa sedikitnya jumlah kontributor asli Indonesia dalam media berbasis relawan ini, Jemma Purdey -ketua umum Inside Indonesia -mengatakan, ia sangat menghargai peningkatan jumlah kontributor asal Indonesia yang telah dicapai selama ini, serta menceritakan usaha terus-menerus yang tengah dilakukan pihaknya untuk menambah jumlah kontributor tersebut.

"Bahkan tahun ini, jumlah konten Inside Indonesia yang berasal dari kontributor Indonesia telah naik di atas 50%," tutur Jemma.

Selain itu, ada pula pemutaran perdana film pendek yang berisi pendapat warga Jakarta tentang Australia dari berbagai aspek.

Tim Fitzgerald (jongkok kedua dari kiri) bersama dengan pegiat AIYA lainnya.
Tim Fitzgerald (jongkok kedua dari kiri) bersama dengan pegiat AIYA lainnya.




Seluruh pengurus Inside Indonesia, dari awal kemunculannya hingga sekarang ini, hanyalah berstatus relawan. Namun, komitmen dan keahlian mereka begitu tinggi sehingga majalah tersebut telah lama dianggap sebagai sumber berbahasa Inggris terpercaya bagi pembaca yang tertarik untuk mengetahui kehidupan warga maupun perkembangan Indonesia.

Inside Indonesia bukanlah jurnal akademis tetapi beberapa tahun terakhir ini telah dianggap setara dengan jurnal-jurnal tersebut dari segi standar editorial.

Dengan demikian, Inside Indonesia dianggap mampu menarik perhatian peneliti dan banyak pihak di seluruh dunia, ditambah dengan semakin meningkatnya jumlah pembaca tetap yang sebanyak 28 %-nya adalah warga Indonesia.

Tentu saja, kehadiran arsip digital yang melengkapi akses informasi online tadi diharapkan semakin meningkatkan pengetahuan warga Australia atas negara tetangganya, Indonesia.

* Tulisan ini adalah pendapat pribadi. Tim Fitzgerald aktif sebagai di AIYA Jakarta dan bekerja di harian berbahasa Inggris, The Jakarta Post.

(nwk/nwk)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads