Acara TV Berdampak pada Pandangan Kaum Muda Australia terhadap KDRT

Acara TV Berdampak pada Pandangan Kaum Muda Australia terhadap KDRT

Australia Plus ABC - detikNews
Rabu, 25 Nov 2015 15:11 WIB
Acara TV Berdampak pada Pandangan Kaum Muda Australia terhadap KDRT
Jakarta -

Data baru menunjukkan, televisi mungkin berkontribusi menimbulkan perspektif yang tak sehat pada kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).

Sebuah lembaga yang mewakili kaum muda telah menemukan, 60% dari pemuda Australia mendapatkan informasi tentang KDRT dari acara televisi, yang bukan berita.

Katie Acherson dari organisasi ‘Youth Action' New South Wales mengatakan, televisi bisa menyebabkan banyak anak muda terseret ke arah yang salah.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Ada banyak representasi dari hubungan yang tak sehat di media, yang tak pantas dilihat kaum muda sebagai panutan," sebutnya.

Lembaga Youth Action menemukan, 60% kaum muda Australia mendapat informasi tentang KDRT dari program televise. (Foto: Aaronyx, file photo, Flickr)
Lembaga Youth Action menemukan, 60% kaum muda Australia mendapat informasi tentang KDRT dari program televise. (Foto: Aaronyx, file photo, Flickr)


Studi, yang dilakukan oleh organisasi ‘White Ribbon' dan Youth Action, itu juga menemukan, 75% dari pemuda berusia 16-25 tahun tahu bahwa KDRT umum terjadi, tetapi mengalami kesulitan memahami apa yang menjadi tingkat normal dari konflik dalam suatu hubungan.

Moo Baulch dari lembaga ‘Domestic Violence' New South Wales percaya, kurangnya pendidikan membuat para remaja kesulitan untuk memahami apa yang dianggap normal dalam sebuah hubungan.

"Ketika orang menjalani hubungan pertama mereka, bisa jadi hal yang benar-benar sulit untuk mengetahui apakah perilaku pasangan Anda atau apa yang ia paksakan ke Anda itu adalah KDRT atau konflik normal dalam suatu hubungan," utaranya.

Studi yang dilakukan terhadap lebih dari 3.000 warga Australia berusia 16-24 tahun tak dilakukan selama 15 tahun dan juga mengungkap bahwa hanya 54% dari responden usia SMA mendapat informasi dari sekolah.

Perlunya pencegahan KDRT

Tahun ini, seorang gadis 14 tahun mengajukan petisi kepada Pemerintah New South Wales untuk memberi materi pencegahan kekerasan dalam rumah tangga di sekolah, menyusul kematian ibunya.

Pada (23/11), pemerintah memberi para guru alat peraga KDRT yang baru, yang bisa digunakan guru pengembangan pribadi, kesehatan dan pendidikan jasmani di dalam kelas mereka.

Katie mengatakan, alat peraga itu tidak cukup.

"Perlu ada pelatihan lebih untuk membantu guru mempersiapkan diri untuk memiliki percakapan yang sulit dan tidak ada jaminan bahwa itu akan diajarkan dan itu tidak berarti bahwa semua orang muda akan mendapatkan informasi yang sama," katanya.

"Apa yang kita benar-benar membutuhkan, adalah percakapan yang lebih besar tentang apa hubungan yang sehat seperti, apa yang harus dilakukan ketika Anda berada dalam hubungan yang dan khususnya, apa yang harus dilakukan untuk membantu seseorang yang Anda tahu siapa yang berada dalam hubungan yang kasar."

Penelitian ini juga menemukan bahwa banyak pemuda terus mendukung stereotip dan sikap yang mendukung kekerasan gender.

Dua puluh lima persen dari laki-laki muda keserakahan bahwa perempuan seperti laki-laki yang bertanggung jawab atas hubungan, sementara satu dari enam merasa bahwa pria lebih baik daripada wanita di beberapa hal.

Katie mengatakan, ‘Youth Action' berusaha untuk memerangi seksisme dan misogini pada kaum muda.

"Jika kita bisa bekerja untuk menyingkirkan stereotip gender dan sikap yang mendukung kekerasan, maka mudah-mudahan kita bisa membuat perbedaan," harapnya.

Ia berujar, "Ini tak hanya bergantung pada satu pihak seperti polisi, politisi dan pengungsi-pun bisa mengubah sikap seperti itu, ini perubahan jangka panjang."

Moo percaya, ada kapasitas untuk perubahan.

"Kaum muda benar-benar cerdas, hanya saja sebagai orang dewasa kita tak selalu jelas 100% jelas tentang bagaimana penampakan kekerasan dalam suatu hubungan," katanya.

Ia menyambung, "Itulah mengapa ada kebutuhan untuk menyampaikan pesan yang konsisten dan model hubungan yang sehat di luar sana.”

"Tumbuh dalam sebuah keluarga yang sarat kekerasan tak membuat Anda menjadi orang yang kasar atau korban dalam sebuah hubungan dewasa, tapi kami sekarang tahu ada beberapa dampak yang cukup serius juga dan bisa saja sulit untuk menemukan panutan yang positif dan melakukannya," terangnya.

(nwk/nwk)


Berita Terkait