Badan intelijen keuangan Australia telah memantau lebih dari 100 orang yang diduga terlibat dalam pendanaan terorisme. Jumlah laporan yang diterima pihak berwajib telah naik tiga kali lipat selama setahun.
Pemerintah Federal Australia sedang meningkatkan upaya melacak pendanaan terorisme di tingkat regional, salah satunya lewat pertemuan yang akan digelar di Sydney pada akhir bulan November dengan mengundang negara Indonesia.
"Pertemuan ini akan menjadi kesempatan untuk mengamankan usaha regional dalam berkolaborasi dan berbagi informasi keuangan dan lainnya untuk mengidentifikasi, memahami ancaman dari pendanaan terorisme, pejuang teroris asing dan ekstremisme kekerasan," ujar Michael Keenan, menteri yang membantu Perdana Menteri Australia dalam mengatasi masalah terorisme.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jumlah laporan di periode 2014 - 2015 ada 367 kasus, dibandingkan 118 kasus pada periode sebelumnya.
"Volume pendanaan terorisme di Australia memiliki hubungan dengan jumlah warga Australia yang bepergian untuk bergabung kelompok teroris di Suriah dan Irak," demikian laporan AUSTRAC.
"Kami telah memantau lebih dari 100 orang dan tetap meminta lembaga mitra kami untuk melaporkan kegiatan keuangan mereka," tambah laporan tersebut.
Dari 81.074 laporan mencurigakan yang diterima pada akhir tahun keuangan 2015, 536 laporan memiliki keterkaitan dengan terorisme.
Laporan-laporan ini memiliki nilai moneter sekitar $53 juta, atau lebih dari Rp 530 miliar , lebih dari 110 miliar rupiah adalah dalam bentuk tunai.
AUSTRAC mengatakan dana tersebut digunakan untuk operasi penyerangan yang dilakukan secara individu, tapi ada juga yang mendanai kelompok-kelompok teroris.
Saat peringatan teror Australia ditingkatkan bulan Oktober tahun lalu, pemerintah meningkatkan pendanaan AUSTRAC hingga $20 juta atau sekitar Rp 200 miliar. Dana ini untuk mencegah penyaluran dana ke kegiatan-kegiatan yang diduga terkait teroris.
(nwk/nwk)











































