Hubungan Seksual Katak Dilakukan Berkelompok, Hanya Satu yang Menang

Hubungan Seksual Katak Dilakukan Berkelompok, Hanya Satu yang Menang

Australia Plus ABC - detikNews
Senin, 02 Nov 2015 16:37 WIB
Hubungan Seksual Katak Dilakukan Berkelompok, Hanya Satu yang Menang
Sejumlah katak jantan berkompetisi untuk satu katak betina di musim kawin. Foto: Bruno Buzatto.
Jakarta -

Dalam berkembang biak dengan jumlah populasi yang besar, katak jantan yang kuat bukan menjadi pemenangnya. Tetapi justru sebaliknya. Katak jantan yang lemah bisa memiliki kesempatan untuk bisa berhasil membuahi katak betina.

Studi baru yang dilakukan oleh University of Western Australia, atau UWA menemukan jika katak-katak jantan yang 'lemah' bisa lebih berhasil dalam berkembang biak, saat mereka berada dalam populasi yang lebih besar.

Studi ini dilakukan oleh UWA dekat rawa-rawa di kawasan Albany, Australia Barat, selama musim kawin 2013 dan 2014.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ahli evolusi biologi dari UWA, Bruno Buzatto mengatakan di populasi yang sedikit, katak dengan lengan yang lebih kuat bisa lebih berhasil berkembang biak. Tapi hal ini tidak berlaku di populasi katak yang lebih banyak.

"Terlepas dari kenyataan bahwa katak yang kuat akan menang dalam perkelahian dan bisa kawin, tapi ini hanya terjadi pada katak dengan populasi yang sedikit," kata Dr Buzatto.

Dr Buzatto menjelaskan bahwa katak melakukan hubungan seks secara berkelompok.

"Katak mengeluarkan cairan kesuburannya di luar, artinya laki-laki mengambil perempuan dan keduanya mengeluarkan cairan di luar tubuh. Sehingga telur dan sperma bertemu di dalam air."


Yang menurutnya menarik adalah fenomena dimana katak jantan dalam jumlah yang banyak mengambil satu katak betina dan mereka mengeluarkan cairan secara bersama-sama.

"Jadi pada populasi katak yang tinggi, katak-katak yang lemah mulai melakukan dengan baik, karenanya katak yang kuat tidak bisa bersaing dan tidak pula dapat menjaga betinanya untuk dirinya sendiri," jelas Dr Buzzato.


Ia menjelasnya langkah selanjutnya dari penelitian ini adalah menyelidiki apakah sperma yang lebih lemah atau yang kuat yang bisa menyebabkan pembuahan.

Kini para peneliti mengumpulkan telur dan melakukan analisis untuk mencoba memahami apa yang terjadi setelah pembuahan.

(nwk/nwk)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini