Perkenalannya dengan Indonesia sudah dimulai sejak sekolah dasar, namun sempat terhenti karena kesibukan. Sekarang Jane Ahlstrand, mahasiswa S3 Universitas Queensland menjadi penari dan guru Tari Bali di sana, dan murid-murid yang diajarnya ada yang berasal dari komunitas Indonesia di Brisbane.
Berikut pembicaraan Jane Ahlstrand di Brisbane, dengan wartawan ABC Australia Plus L. Sastra Wijaya di Melbourne yang dilakukan lewat email, dan semuanya dijawab dalam bahasa Indonesia.
Sejak kapan anda bisa menari tarian Bali?
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mengapa tertarik mempelajarinya? Apa keunikannya? Apakah susah bagi 'orang bule' untuk belajar tari Asia seperti Bali?
Pertama kali saya ke luar negeri itu ke Bali sama keluarga pada tahun 1998. Saat itu saya menemui tari Bali dan itu adalah pengalaman yang tidak bisa dilupakan. Namun, saya tidak sampai membayangkan saya sendiri bisa menjadi penari Bali. Itu mimpi yang terlalu lebay! Lebih dari 10 tahun ke depan, saya mulai jenuh dengan kerja kantoran dan sedikit demi sedikit saya mewujudkan rencana untuk 'kabur'.
Saya ingat perasaan saya saat pertama kali menyaksikan tari Bali dan mulai bermimpi. Dalam riset online, saya menyadari ternyata memang ada kemungkinan untuk orang bule seperti saya belajar seni tari Bali langsung di Indonesia melalui program Darmasiswa.
Tari Bali itu sangat indah. Dari tata rias dan data busana yang warna-warni dan berkilau penonton bisa dibuat kagum. Gerakan mata dengan muka bersenyum manis itu juga sangat mempesona. Bentuk badan juga ada nilai estetik tinggi. Sambil menari kita bisa berkomunikasi dengan penonton, membuka jiwa, seolah-olah masuk dunia lain. Perasaan itu mirip dengan perasaan mimpi terbang.
Sebagai 'murid dewasa', situasi saya sangat berbeda dengan orang Bali yang rata-rata mulai proses pembelajaran dari umur 6 tahun. Apa lagi mereka sudah terbiasa dengar suara gamelan yang mengiringi tariannya. Buat saya, semuanya menjadi tantangan. Pada awalnya, tari Bali itu terasa sangat asing kepada saya, seorang yang kerap dibilang 'bule banget'! Saya masih ada dokumentasi dari les pertama. Aduh! Malu jadinya melihat badan saya masih kaku! Walaupun begitu, saya sudah siapkan diri dan siapkan mental untuk menghadapi tantangan tersebut.

Dengan penari cilik pada ujian kenaikan tingkat di Sanggar Tari Lokananta, Singapadu, Bali
Sejak bisa menari Bali, aapakah anda sering tampil membawakan tari Bali?
Setelah saya kembali ke Australia, saya mulai menampilkan tari Bali. Pada awal, saya masih 'beginner' dan masih malu-malu jadi kalau ditawarkan job saya terkadang menolak karena perasaan untuk 'manggung' belum mantap. Sekarang situasi saya sangat berbeda. Dari semakin banyak pengalaman, saya tambah PD dan semakin tenang saat 'mentas'.
Selain kemampuan menari, kemampuan tangan saya untuk 'ngerias' menjadi lebih bagus juga khususnya kalau dibandingkan 3 tahun yang lalu. Dulu, karena gemetaran tangan, saya mengalami kesulitan kalau mau membuat garis alis mata. Tahun lalu saya diundang oleh KBRI untuk ikut pentas di National Gallery Australia di Canberra dan sampai sekarang itu pengalaman yang tidak ada bandingannya bagi saya. Ya, itu pengalaman yang justru bisa dibilang 'life changing'.
Tarian favorit saya adalah Tari Oleg Tamulilingan yang menceritakan kisah cinta dua ekor 'lebah' yang jatuh cinta di kebun bunga. Pada awal, lebah betina menari sendiri tapi pada bagian kedua, dia ditemui oleh lebah jantan dan mereka akhirnya menari bersama penuh dengan rasa kasmaran. Saya suka tari Oleg karena ceritanya mirip dengan situasi saya.
Dulu, saya menari sendiri dan berjuang sendiri, sekarang saya ada pendamping juga, dalam sosok Gede, seorang penari Bali juga yang betah di Australia. Kebetulan saat menari di National Gallery itu sebenarnya tari Oleg Tamulilingan bersama Gede. Mulai dari momen spesial itu, kami menjadi semakin dekat.

Membawa tari Bali ke sekolah dasar di Canberra.
Apakah ketertarikan anda dengan Tari Bali ada juga hubungan dengan studi anda.
Sayangnya, Tari Bali itu sama sekali tidak ada hubungan dengan studi saya. Saya lagi ambil S3 di bidang media studies mengenai keterwakilan politisi perempuan Indonesia di media online di University of Queensland.
Apakah menurut anda ketertarikan anda menari/mempelajari budaya lain seperti Indonesia bermanfaat bagi hubungan kedua negara?
Semoga ada manfaat. Yang paling penting bagi saya itu membagi ilmu. Ternyata kebanyakan murid saya asal dari Indonesia. Memang, itu situasi yang bisa dibilang agak 'spesial', ya, karena orang Indonesia diajari tarian Indonesia oleh orang Australia. Menurut ajaran agama Hindu, sebagai murid, kami mempunyai 'hutang' kepada guru. Salah satu cara untuk 'melunasi' hutang itu adalah dengan meneruskan ilmunya.
Hati saya senang kalau saya bisa membagi ilmu tari Bali dengan yang orang lain, apa lagi kalu murid saya berbakat dan bersemangat! Dari orang Indonesia sampai orang Afrika, saya siap mengajari semua yang ada minat untuk mengetahui tari Bali. Semoga orang Indonesia tidak merasa tersinggung. Saya tidak pernah bermaksud untuk 'menklaim' tarian Indonesia, saya hanya ingin menghidupkan tari Bali di Australia.
Apakah ini sekarang pekerjaan tetap anda, atau hanya sambilan saja?
Nah, ini bukan pekerjaan saya, menari adalah hidup saya! Kalau menjadi rakus dengan mencari duit saja melalui tarian Bali, nilai kesenian dan kesuciannya akan dirugikan. Semoga saya bisa menari terus sampai sudah tua. Nanti kalau saya diberkati dengan anak, saya mengharapkan anak saya bisa menuruskan warisan saya. Semoga saya bisa lulus S3 dan menjadi dosen tapi menjadi dosen pun saya tetap aja menganggap diri sebagai penari.

Bersama penari Bali asal Sudan dan Congo di Australia.
Lalu anda mengajar tari Bali di Queensland dimana saja, apakah private atau di sekolah tertentu?
Saya pernah mengajar tari Bali di mana-mana. Di rumah teman, di pinggir pantai, bahkan di parkiran mobil. Sekarang saya sudah dikasih izin oleh kampus untuk meminjam ruangan kecil di Multi Faith Centre. Dulu kami sering menari di luar dengan menggunakan kaca gedung sebagai cermin. Syukurlah kami sudah dapat tempat yang lebih nyaman sekarang. Saya sangat berterima kasih kepada murid saya yang tetap setia selama masa perjuangan kami.
Tahun lalu, sambil kuliah saya juga sempat kerja part time di sekolah khusus migran dan kebanyakan adalah pencari suaka atau pengungsi dari Afrika, Afghanistan dan Timur Tengah. Pada jam makan siang saya mengajak para murid berkumpul untuk mencoba belajar menari Bali. Tiga murid terbaik saya dipilih untuk ikut pentas pada akhir semester dan juga tampil pada acara ulang tahun sekolah. Alangkah senang perasaan saya setelah turung dari panggung!
Saya sangat sibuk dengan S3 sekarang tapi tetap mengajar les gratis sama les privat. Tapi sepertinya jadwal saya menjadi semakin mepet.
Bahasa Indonesia anda dalam menulis bagus sekali. Berapa lama dibutuhkan untuk bisa mencapai kemampuan seperti ini?
Wah, terima kasih. Lama atuh. Saya mulai waktu masih duduk di bangku SD dari tahun 1993 - 1995 tapi program LOTE dibatalkan di sekolah saya jadi saya juga berhenti. Pada akhir tahun 1999 saya mulai belajar sendiri setelah kembali dari liburan ke Bali. Pada tahun 2000 saya mulai kuliah S1 jurusan bahasa dan sastra Indonesia.
Setelah lulus kuliah, saya jarang pake bahasa Indonesia selama 6 tahun, karena sempat tinggal di Korea, Jepang dan juga menjadi sibuk dengan pekerjaan di kantor pendidikan pemerintah Queensland. Setelah kembali ke Bali tahun 2011, saya juga kembali ke 'cinta pertama' saya, yakni bahasa Indonesia. Sambil belajar tari Bali, saya meningkatkan kemampuan bahasa Indonesia saya.
Sekarang saya wajib bisa bahasa Indonesia karena itu terkait dengan riset saya. Saya tidak hanya harus mampu memahami bahasa Indonesia tapi harus bisa memahami inti dan pesan yang disampaikan dalam teks media online Indonesia.
Apakah dalam kehidupan sehari-hari sekarang anda banyak berhubungan dengan komunitas Indonesia?
Saya sering bergaul sama orang Indonesia. Kalau sama murid saya kita biasa pakai Bahasa Inggris tapi kalau sama anggota masyarakat Indonesia di Brisbane, kita biasa berkomunikasi dalam bahasa Indonesia.
Maaf pertanyaan yang pribadi: apakah anda sekarang masih single atau sudah menikah atau....? (Anda tidak harus menjawab hal ini namun biasanya orang Indonesia sangat ingin mengetahui status seseorang).
Ya, biasa atuh...belum. Lagi menunggu waktu yang tepat...
(nwk/nwk)











































