Rombongan Abbott Pernah Pesan Kamar Hotel Rp370 Juta Tapi Tak Dipakai

Rombongan Abbott Pernah Pesan Kamar Hotel Rp370 Juta Tapi Tak Dipakai

Australia Plus ABC - detikNews
Jumat, 23 Okt 2015 13:31 WIB
Rombongan Abbott Pernah Pesan Kamar Hotel Rp370 Juta Tapi Tak Dipakai
Mantan PM Tony Abbott saat berkunjung ke permukiman aborigin dan warga pribumi lainnya di Selat Torres. (AAP/Tracey Nearmy) (Credit: AAP)
Jakarta -

Tony Abbott saat masih menjabat perdana menteri Australia, Agustus 2015, pernah mengunjungi Pulau Thursday di Queensland, dan rombongannya memesan puluhan kamar hotel yang belakangan tidak dipakai. Akibatanya, negara harus menanggung biaya 37 ribu dollar (sekitar Rp 370 juta).

Mantan PM Abbott mengunjungi Pulau Thursday sebagai bagian dari kebiasaannya "blusukan" ke perkampungan warga Aborigin dan pribumi lainnya setiap tahun.

Dalam kunjungan tersebut, ia membawa rombongan kementerian dan pejabat lainnya, untuk menginap di wilayah yang dikunjungi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam rapat di Senat pekan ini diketahui, saat kunjungan bulan Agustus tersebut rombongan Tony Abbott menghabiskan 180 ribu dollar (Rp 1,8 miliar) untuk kunjungan selama seminggu.

Biaya tersebut mencakup 24.327 dollar untuk kunjungan ke Pulau Murray, untuk berziarah ke makan pejuang hak-hak pribumi bernama Eddie Mabo.

Selama kunjungan itu seorang pengelola penginapan telah menyampaikan masalah adanya 44 kamar yang dipesan namun dibatalkan di saat-saat terakhir.

Caroline Edwards, pejabat dari kantor Perdana Menteri, mengakui adanya diskusi dengan pemilik penginapan mengenai kamar-kamar tersebut.

Dia bersikukuh pihaknya tidak secara resmi memesan kamar, namun mengakui memang melakukan pemnbatalan tiga hari sebelumnya.

Manajer penginapan itu, Steve Mills, mengaku mengalami kerugian sebesar 53 ribu dollar (Rp 530 juta) akibat pembatalan tersebut.

Namun Caroline Edwards menjelaskan, setelah berkompromi kedua pihak sepakat untuk pembayaran yang "masuk akal".

Tony Abbott dan rombongannya ketika itu memilih bermalam di markas tentara yang ada di pulau tersebut.

Perdana Menteri yang baru Malcolm Turnbull sejauh ini tidak pernah menyatakan akan meneruskan kebiasaan pendahulunya melakukan "blusukan" ke permukiman warga Aborigin.



(nwk/nwk)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads