Perjuangan Kepala SD di Melbourne yang Mayoritas Muridnya Imigran

Perjuangan Kepala SD di Melbourne yang Mayoritas Muridnya Imigran

Australia Plus ABC - detikNews
Jumat, 23 Okt 2015 15:53 WIB
Jakarta -

Di Flemington, salah satu wilayah di Melbourne dengan harga rata-rata rumah mencapai 800 ribu dollar (sekitar Rp 8 miliar), terdapat sebuah sekolah dasar yang muridnya mayoritas anak-anak paling miskin di Australia.

Itulah SD Debney Meadows Primary School, dengan 90 murid, umumnya anak-anak imigran dan pengungsi.

"Mungkin karena persepsi atau sudah kebiasaan, anak-anak dari sekitaran sini biasanya justru masuk sekolah di SD lain," ujar Vicki Watson, Kepala SD Debney Meadows Primary School.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Anak-anak orang berada di sekitar situ, biasanya masuk ke SD Flemington Primary School yang letaknya di sekitaran situ juga.

SD Flemington memiliki 475 murid, dan 40 persen di antaranya berasal dari keluarga paling beruntung di Australia.

Fenomena ini oleh para pakar dikenal sebagai white flight yaitu terjadinya pemisahan kalangan warga kulit putih dari percampuran dengan warga non-kulit putih, di wilayah perkotaan.

Selain di Flemington, fenomena serupa terjadi pula di wilayah Melbourne lainnya bernama Carlton, serta di wilayah Sydney bernama Redfern dan Glebe. Kebetulan di semua wilayah itu terdapat perumahan flat bertingkat yang dibangun pemerintah untuk menampung para imigran.

Pakar pendidikan dari Universitas Melbourne Prof. Richard Teese memperingatkan adanya risiko terjadinya ghetto jika fenomena yang terjadi di SD Debney Meadows terus berlanjut.

"Ini terjadi di sekolah negeri yang secara historis memiliki misi sebagai lembaga terbuka untuk semua sehingga terjadi saling belajar dan saling mendukung satu sama lain," jelas Prof. Teese.

Kepsek SD Debney Meadows, Vicki Watson, baru menjabat selama setahun di sana, namun ia bertekad mengajak para orangtua di wilayah Flemington untuk memasukkan anak-anaknya ke sekolah tersebut.

"Saya paham keinginan penduduk yang berada di sisi lain jalan ini, serta penduduk lainnya yang berada di sisi berbeda," katanya.

Vicki akan menerapkan langkah-langkah perubahan, dimulai dengan mengenalkan baju seragam baru mulai tahun ajaran mendatang.

Kini, murid-muridnya bahkan sudah dilengkapi komputer untuk masing-masing anak. Tingkat literasi murid-murid pun mengalami peningkatan berarti.

"Lebih dari itu, murid-murid saya mulai belajar Bahasa China mandarin, mampu menyanyikan tujuh lagu dan brhintung hingga 100 dalam bahasa tersebut," tutur Vicki.

Berbagai kendala dihadapi Vicki sebagai kepala sekolah di sana. Makanya, ia terus berusaha mengajak murid dan orangtua mereka untuk menjadi bagian dari masyarakat Australia.

"Sekolah kami ini umumnya diisi anak-anak dari Afrika. Saya saya pertama kali bertugas di sini, mereka tidak menyanyikan lagu kebangsaan Australia. Bahkan tiang bendera dan bendera nasional pun tidak ada di sekolah ini," katanya.

"Dalam konteks politik, aya pun menyadari peran yang bisa saya mainkan," kata Vicki.

"Yaitu menjadikan murid-murid ini membangun identitas Australia mereka dan menyatu dengan masyarakat luas," tambahnya.

Prof. Teese menjelaskan, biasanya para orangtua dengan aspirasi tinggi tidak memasukkan anak mereka ke sekolah negeri karena khawatir tidak akan mendapatkan dukungan yang diperlukan.

"Hal ini biasanya hanya berdasarkan asumsi menegnai sekolah negeri di kawasan perumahan untuk imigran," jelasnya.

Prof. Teese memperingatkan, sejumlah sekolah di Australia mengalami sebagian fenomena ghetto, dimana murid-murid kurang beruntung dididik terpisah dari murid-murid dari keluarga beruntung.

Christina Ho, dosen pada University of Technology, Sydney, secara terpisah menjelaskan sekolah negeri di daerah yang secara tradisional dihuni kelas pekerja biasanya tidak akan dipilih oleh kelas menengah.

"Ada fenomena 'white flight', istilah yang agak menghasut, namun jika sekolah itu penuh anak-anak imigran, keluarga kulit putih lantas khawatir menyekolahkan anaknya ke sana," jelas Ho.

"Bisa juga disebut segregasi sebab pada dasarnya orang menghindari tetangganya sendiri," katanya.

(nwk/nwk)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads