Sejumlah Menteri Australia Kembali Persoalkan Posisi PM Tony Abbott

Sejumlah Menteri Australia Kembali Persoalkan Posisi PM Tony Abbott

Australia Plus ABC - detikNews
Senin, 14 Sep 2015 12:56 WIB
Jakarta -

Posisi Tony Abbott sebagai perdana menteri Australia kemungkinan besar kembali menghadapi tantangan di internal Partai Liberal sebelum akhir tahun ini. Sejumlah menteri kepada ABC mengakui kali ini PM Abbott kemungkinan akan tergeser.

ABC telah berbicara dengan delapan orang anggota kabinet Pemerintah PM Abbott. Enam di antaranya meyakini Abbott akan menghadapi pemungutan suara internal, terlepas apapun hasil dari pemilu sela di dapil Canning, Australia Barat, akhir pekan ini.

"Kali ini sepertinya Tony Abbott akan tergeser," ujar salah seorang menteri yang tak mau disebut namanya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam pemilu di Canning, diperkirakan jumlah pemilih mengambang yang menolak Partai Liberal akan mencapai dua digit. Hal ini membuka peluang terjadinya keresahan dan tuntutan perubahan kepemimpinan di tubuh Partai Liberal.

Dugaan ini dikuatkan oleh prediksi yang dikeluarkan oleh dua lembaga survei, News Limited Galaxy poll dan Fairfax Ipsos poll yang menyatakan jumlah pemilih mengambang mencapai 10 poin.

Jajak pendapat Ipsos memperkirakan Partai Liberal akan mengungguli Partai Buruh meski diwarnai sedikit penurunan suara yakni, 52-48 persen. Padahal pada Pemilu 2013 lalu, jumlah perolehan suara Partai Liberal mencapai 62-38 persen.

"Dan itupun setelah Partai Liberal menggelontorkan dana sebesar $1 juta untuk menyelamatkan kursi Perdana Menteri, dan Partai Buruh tidak menggelontorkan dana apapun," kata salah seorang menteri.

"Dia (Abbott) mengatakan: 'Beri aku enam bulan.' Nah, ia sudah mendapatkan tenggat waktu enam bulan itu dan kondisinya berubah dari buruk menjadi lebih parah. Dia seharusnya mengundurkan diri saja," tambahnya.

Menteri Imigrasi, Peter Dutton kepada Sky News mengakui pemilu di Canning akan sulit, namun dirinya optimistis Partai Liberal akan menang.

Menteri lainnya mengatakan kepada ABC, "Semua orang (di Partai Liberal) cukup gelisah dan sedih".

"Kondisi ini didorong oleh jajak pendapat nasional dan fakta bahwa setiap jajak pendapat pemilu di Canning memiliki 10 persen pemilih mengambang," katanya.

"Dan fakta bahwa begitu banyak hal merugikan diri sendiri yang bersumber dari kantor Perdana Menteri, dan mayoritas dari hal itu sangat merugikan Partai Liberal," jelasnya lagi.

Salah satu pendukung PM Abbott mengakui memang sedang terjadi gerakan perubahan kepemimpinan.

"Situasinya saat ini sangat cair, tapi saya kira tidak akan terjadi apa-apa pada pekan ini," katanya.

"Wacana perubahan tampuk kepemimpinan ini sangat merusak. Saya tidak percaya mereka melakukannya lagi. Tapi saya juga tidak ada menyangkal kalau ini adalah kampanye yang terkoordinasi," jelasnya.

Wacana gerakan perubahan tampuk kepemimpinan di tubuh Partai Liberal pekan ini didorong oleh keyakinan kalau Abbott kemungkinan akan mendesak dipercepatnya pemilu sebagai akibat dari hasil pemilu sela di Canning untuk mencegah tantangan kepemimpinan.

Sementara itu, Perdana Menteri yang tengah berada di Australia Barat hari Minggu(13/9) mengatakan dia "tidak akan menanggapi permainan orang dalam di Canberra ini."

Menteri Sosial Scott Morrison juga menolak berkomentar mengenai perubahan kepemimpinan dan menganggapnya sebagai "spekulasi orang dalam" dan mengatakan ia tidak tahu apa-apa tentang hal itu.

"Saya mendukung Perdana Menteri, semua orang tahu itu, jadi saya duga mereka pasti tidak membicarakan hal ini kepada saya," ucapnya.

Wakil Perdana Menteri Warren Truss meminta partainya, Partai Naional, untuk tetap memberi dukungan pada Abbott.

"Kita memiliki pemimpin yang terpilih melalui pemungutan suara," katanya.

"Dan saya kira penting bagi semua tim untuk mendukung dia dan memberikan pujian atas pencapaiannya dan memastikan kita bekerja secara konstuktif untuk masa depan," tambahnya.

Sebelumnya PM Abbott selamat dari voting internal di Partai Liberal pada Februari lalu dengan 61 suara mendukungnya dan 39 orang menentang kepemimpinannya.
(nvc/nvc)


Berita Terkait