Kartun karya David Pope itu menggambarkan seorang pria berpakaian hitam serba tertutup dengan laras senjata yang asapnya masih mengepul. Di depannya, tergeletak sesosok mayat.
Lalu, pria berpakaian hitam itu berkata, "He Drew First" yang secara harafiah berarti "Dia yang Menarik (Pelatuk Senjata) Duluan" namun bisa pula diartikan "Dia yang Menggambar Duluan", merujuk pada profesi kartunis.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menlu Julie Bishop di kantor Charlie Hebdo di Paris. (Foto: istimewa/Channel 9)
;
Menlu Bishop datang ke kantor majalah itu di Paris, Senin (20/4/2015) di sela-sela kunjungannya ke Eropa. Ia menyerahkan kartun yang ditandatangani oleh kartunisnya.
Menurut dia, David Pope menggambar kartunnya ini saat laporan live peristiwa di Paris itu masih berlangsung di TV.
"Sangat sederhana namun begitu kuat menggambarkan tanggapan brutal teroris atas karya majalah ini," katanya.
Kartunis Charlie Hebdo Renald Luzier, yang dikenal dengan nama pena Luz, turut menyambut kedatangan Menlu Bishop. Ia menyatakan terima kasih atas dukungan Australia.
Menlu Bishop menyatakan karya-karya yang ditampilkan Charlie Hebdo menunjukkan kuatnya tradisi satire dalam masyarakat Perancis yang telah berlangsung berabad lamanya.
"Di mata orang Austarlia, kami melihat satire merupakan bagian tak terpisahkan dari masyarakat Perancis. Sama dengan roti croissant," tutur Bishop.
Ia berada di Perancis setelah sebelumnya berkunjung ke Iran.
(nwk/nwk)











































