Untuk periode hingga akhir Maret ini, Pemerintah Indonesia hanya mengeluarkan izin impor sapi Australia sebanyak 100 ribu ekor. Sebagai perbandingan, sepanjang 2014 lalu, Indonesia mengimpor sekitar 750 ribu ekor sapi Australia.
Dengan turunnya kuota impor kuartal pertama kali ini, mengakibatkan harga sapi ekspor di Australia mengalami penurunan, mengingat banyaknya suplai.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Karena itu, kalangan eksportir di Australia sangat berharap Indonesia bisa meningkatkan kuota impor sapinya menjadi sedikitnya 200 ribu ekor untuk kuartal kedua.
"Tapi beberapa minggu menjelang berakhirnya kuartal pertama, kami belum mendapat jaminan adanya peningkatan kuota," ujar Bernie Brosnan dari Wellard Rural Exports, kepada ABC.
"Kami berharap jumlah kuota impor sapi Australia ini bisa diumumkan beberapa hari mendatang, sehingga kami bisa mempersiapkan diri," tambahnya.
Menurut Brosnan, Indonesia menginginkan sapi untuk digemukkan dan bukan sapi ukuran besar yang sudah siap dipotong.
Dikatakan, jika pasokan sapi tetap ketat hingga menjelang Ramadan tahun ini, kemungkinan Indonesia akan menutupinya dengan mengimpor lebih banyak daging beku.
Sementara itu harga sapi eks-Darwin yang akan dikirim ke Indonesia saat ini jatuh ke kisaran 2,5 dolar (Rp 25 ribu) perkilo dari harga sebelumnya 2,8 dolar.
Menurut Brosnan, saat ini harga sapi di kawasan utara Australia akan terus jatuh jika kuota impor Indonesia tidak mengalami peningkatan.
"Jika kuota impor Indonesia rendah, maka suplai dari kawasan Kimberley, Northern Territory, dan Queensland akan segera mengisi kuota itu," jelasnya.
(nwk/nwk)











































