Sebuah acara bergaya 'reality show' ala TV memberi kesempatan kepada para mahasiswa China di Australia untuk berkompetisi mendapatkan peluang kerja di depan panel pengusaha - dan para penonton.
'Ajang Pencarian Kerja' tahunan baru-baru ini digelar untuk kedua kalinya di Melbourne. Ajang ini menarik perhatian 200 mahasiswa China untuk menyaksikan 6 anak muda yang berkompetisi mendapatkan kesempatan magang di perusahaan terkemuka Australia, termasuk ABC.
Direktur 'Ajang Pencarian Kerja' ini, Shuang Xia, mengatakan, sebagai seorang pelajar internasional, ia memiliki pengalaman pribadi dalam menghadapi tantangan-tantangan yang dialami para sebayanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Nama ajang ini dalam bahasa China adalah 'Qian Cheng Si Jin', yang diartikan sebagai 'Prospek yang Menjanjikan' atau 'Masa Depan yang Cerah', dan para konstestan yang terpilih dari ratusan pelamar, bekerja keras memenangkan kesempatan dari para pengusaha.
Mereka membuka acara ini dengan sebuah nyanyian yang bercerita soal keberanian untuk mengejar mimpi, sebelum akhirnya kontestan diperkenalkan ke hadapan penonton dengan video berisi referensi mereka masing-masing, dalam gaya acara kencan populer di China yakni 'Fei Cheng Wu Rao' (Jika kamu Jodohku).
Para konstestan kemudian menyaksikan bagaimana profil mereka dikritisi, sebelum merespon pertanyaan dari panel pakar industri tentang skenario kerja yang spesifik.

Sebagai destinasi pelajar internasional terpopuler ketiga di dunia, Australia mendapat manfaat ekonomi dan budaya. Namun menurut penelitian terbaru, peluang kerja pasca studi bagi mereka masih tetap kecil, dan kondisi ini kini menjadi 'penentu utama' bagi para mahasiswa dalam mempertimbangkan negara tujuan studi mereka.
Shuang Xia mengatakan, para mahasiswa internasional yang menghabiskan beberapa tahun belajar di luar negeri ingin mendapat pengalaman kerja untuk meningkatkan kemampuan mereka, memperoleh pengalaman praktis dan meningkatkan peluang kerja mereka secara global di masa mendatang.
"Para pelajar membutuhkan informasi tentang kualitas beragam yang dicari para pemberi kerja di Australia. Acara ini adalah jendela bagi proses perekrutan kerja yang sulit dicari oleh para pelajar internasional tersebut, dan sebuah peluang yang penting bagi perluasan jaringan," ungkapnya.

Para mahasiswa yang menghadiri acara ini sepakat bahwa isu utama yang mereka hadapi dalam mencari pengalaman kerja adalah perbedaan budaya yang mempengaruhi performa mereka dalam situasi wawancara, kemudian hambatan bahasa, kurangnya pengetahuan industri serta tantangan networking.
Jin Lei Cao, seorang mahasiswa Universitas Melbourne, mengatakan, perbedaan budaya antara karakter wawancara kerja di China dan Australia bisa sulit untuk disesuaikan.
"Sulit bagi pelajar internasional untuk terlibat karena latar belakang budaya mereka dan juga hambatan bahasa. Misalnya, di China, hal yang penting untuk menunjukkan perilaku rendah hati kepada pewawancara yang anda bidik, sementara di Australia, hal yang penitng untuk menunjukkan dan mempromosikan diri anda sebagai kandidat yang superior bagi pos kerja tersebut," tuturnya.
Jin Lei mengutarakan, perbedaan budaya ini seharusnya diterima oleh para perekrut kerja karena ini bisa membantu perusahaan untuk berkembang dan menciptakan variasi. "Dunia tengah berubah sangat cepat sehingga jika anda menginginkan perkembangan yang lebih baik di dunia, anda membutuhkan orang-orang internasional untuk terlibat dalam usaha anda," sebutnya.
Ia meneruskan, 'Ajang Pencarian Kerja' ini adalah pengalaman yang berharga bagi mahasiswa seperti ; dirinya.
"Kami bisa mendapat sejumlah tips tentang pencarian kerja hingga peluang yang mengarah pada pekerjaan yang kami inginkan," ujarnya.
Kate Li, seorang mahasiswa di Universitas Melbourne, mengatakan, kampus masih tetap membidik para pelajar lokal. "Ini sulit, kami punya banyak pameran kerja di Universitas Melbourne tapi hanya ada sedikit opsi bagi para pelajar internasional," keluhnya.
Mahasiswa RMIT, Qian Deli, mengatakan, sarannya untuk para pelajar internasional yang tengah berburu kerja adalah agar fokus ke perusahaan kecil. "Anda bisa punya kontak langsung karena mereka tak memiliki banyak departemen sehingga anda bisa berinteraksi dengan pemberi kerja," kemukanya.
Qian menekankan pentingnya utnuk bergaul dan berinteraksi dengan para pemberi kerja yang potensial. "Bergantung pada aplikasi online itu tak cukup," akunya.
Momo Su, yang baru saja lulus dari Universitas Monash, mengatakan, ia mendapat beberapa tips berharga dari ajang ini.
"Acara ini fantastik. Seluruh kontestan menunjukkan mereka bisa tampil dengan baik dan para pemberi kerja membagikan banyak tips untuk para kandidat dan juga penonton, misalnya, bagaimana cara menulis resume yang bagus dan bagaimana cara menghadapi wawancara yang baik," ungkapnya.
Tak ada yang pulang dengan perasaan kecewa, sementara 6 kontestan mengantongi tawaran magang dari para pemberi kerja di ajang ini.











































