Gereja Anglikan Australia Minta Maaf pada Para Korban Pelecehan Seksual

Gereja Anglikan Australia Minta Maaf pada Para Korban Pelecehan Seksual

- detikNews
Rabu, 06 Agu 2014 12:22 WIB
Jakarta -

Gereja-gereja Anglikan di seluruh Canberra dan daerah Goulburn di Australia akan melangsungkan ibadah khusus di akhir pekan ini (10/8/2014) yang menyertakan permintaan maaf kepada para korban pelecehan seksual yang dilakukan pihak gereja.

Uskup Stuart Robinson secara terbuka meminta maaf kepada korban pelecehan seksual tahun 2013 lalu, namun mengatakan permintaan maaf itu akan dibacakan di semua ibadah gereja akhir pekan ini.

Uskup Robinson mengatakan Lamentation Sunday (Pekan Penyesalan) itu akan mengakui keprihatinan yang disebabkan oleh tindakan dan kebungkaman gereja terhadap pelecehan tersebut.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kami sebagai gereja selama 30 sampai 40 tahun tidak selalu memperlakukan orang sesuai dengan ajaran Kristus," katanya.

"Lamentation Sunday adalah kesempatan untuk mengakui kegagalan kami, untuk mencari pengampunan Tuhan dan mungkin bekerja menuju rekonsiliasi dengan orang-orang yang telah kehilangan haknya."

Pesan layanan untuk Lamentation Sunday itu telah diposting online menjelang akhir pekan, dan termasuk surat dari uskup untuk dibacakan pada layanan ibadah di seluruh keuskupan.

"Atas nama rekan-rekan Episkopal saya serta pimpinan Keuskupan Anglikan Canberra dan Goulburn, saya menulis untuk mengekspresikan kesedihan mendalam dan tulus terkait dengan keprihatinan dan kehancuran, bahwa orang-orang telah mengalami dampak dari keterkaitan mereka dengan Gereja kami," kata Uskup Stuart Robinson dalam surat itu.

"Saya mengambil kesempatan ini untuk meminta maaf atas setiap pelecehan atau penganiayaan pada mereka yang ikut dalam ibadah ini, dan mungkin telah mengalami baik secara individu mau pun kelompok yang terkait dengan Gereja kami."

Gereja juga mendesak orang-orang agar datang melaporkan pelecehan yang terjadi, atau minta bantuan serta pelayanan pastoral terkait dengan pelecehan di masa lalu, pada ahir pekan nanti.

Di tahun 2010 University of Sydney's Law School merilis sebuah laporan yang telah memeriksa 191 kasus pelecehan yang dilaporkan terjadi di Gereja Anglikan Australia.

Didapati bahwa terdakwa yang paling sering adalah pendeta, staf pastoral lain yang dipekerjakan, dan relawan yang membantu dalam program-program yang diorganisir gereja untuk anak-anak dan kaum remaja.

Tiga perempat dari semua pengadu adalah laki-laki, dan rata-rata, laki-laki butuh waktu 25 tahun untuk berani mengemukakan keluhan, dibandingkan dengan 18 tahun bagi korban perempuan.

(nwk/nwk)


Berita Terkait