Siapapun Presidennya, Hubungan Indonesia - Australia akan Rumit

Siapapun Presidennya, Hubungan Indonesia - Australia akan Rumit

- detikNews
Rabu, 09 Jul 2014 09:57 WIB
Jakarta -

Sejumlah pengamat memperingatkan hubungan Indonesia dengan Australia tampaknya akan semakin sulit, karena kedua kandidat presiden lebih nasionalis dibanding Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Pemilihan Presiden di Indonesia hari ini terjadi saat pemerintah Australia belum menyelesaikan masalahnya dengan pemerintah Indonesia terkait masalah pencari suaka dan pengembalian perahu yang menuju Australia.

Para pengamat politik memperingatkan bahwa hubungan dengan Australia nampaknya akan semakin sulit, karena kedua kandidat lebih nasionalis dibanding SBY.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dekan di fakultas ilmu politik Universitas Pelita Harapan Aleksius Jemadu mengatakan bahwa bahwa para pemilih mempertimbangkan dua karakter yang berbeda dari kedua calon.

"Lihat bagaimana Joko Widodo melakukan kampanyenya -- dia menunjukkan dirinya sebagai pemimpin yang rendah hati dan berorientasi terhadap rakyat," katanya.

Namun ada kesan bahwa rakyat Indonesia menginginkan adanya pemimpin yang tegas setelah kepemimpinan SBY.

"Program kampanye Prabowo, penekanannya pada sosok pemimpin bangsa yang kuat. Karena itu dia menekankan pada semangat nasionalisme pada kampanye dan juga kebijakan politik luar negerinya," dia berkata.

Greg Fealy dari Australian National University mengatakan bahwa siapapun yang menang, hubungan Indoensia dengan Australia akan semakin rumit.

"Saya pikir pemerintah Australia perlu memikirkan ulang pendekatannya karena ada kemungkinan bahwa presiden yang baru akan semakin enggan memaafkan Indonesia," ujarnya.

Kedua calon presiden, katanya, sangatlah nasionalis dan nampaknya akan mempersulit Australia jika kita bertindak secara sepihak dalam mengambil keputusan.

"(Joko Widodo) orangnya lebih stabil dan dia lebih pragmatis dan lebih terukur dalam pendekatannya untuk menyelesaikan masalah kebijakan. Prabowo Subianto lebih sulit untuk ditebak karena perilakunya yang berubah-ubah dan dia sangat temperamental," tambahnya.

Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) akan mengakhiri dua periode pemerintahannya pada bulan Oktober. Dia merupakan presiden Indonesia pertama yang dipilih secara langsung oleh rakyat.

Pemilu hari ini adalah sebuah tantangan besar dengan 185 juta pemilih yang tersebar di 6.000 pulau di seluruh Indonesia.

Hari ini dinyatakan sebagai hari libur nasional untuk memberikan kesempatan kepada pemilih untuk menggunakan hak pilihnya di 470.000 TPS yang tersebar di seluruh Indonesia.

Pemilih akan mencoblos gambar calon presiden di surat suara dengan paku untuk menyatakan pilihannya.

Hasil polling terakhir menunjukkan bahwa persaingan antara kedua calon sangat ketat.

Hasil survey yang dilakukan kepada 2.400 orang oleh Institut Survei Indonesia menunjukkan bahwa pendukung Prabowo dan Jokowi hanya terpaut 3,6 persen.

Prabowo, mantan petinggi militer di pemerintahan Suharto yang dituduh atas pelanggaran HAM, telah berhasil meningkatkan popularitas di beberapa bulan terakhir.

(nwk/nwk)


Berita Terkait