Dari Rumah Kardus di Hutan India ke Rumah Indah di Australia

Dari Rumah Kardus di Hutan India ke Rumah Indah di Australia

- detikNews
Rabu, 02 Jul 2014 12:24 WIB
Jakarta -

Bhakti Mainaly adalah seorang pengungsi dari Bhutan, yang terletak di Asia Selatan, berbatasan dengan India dan China. Sebelum menjalani kehidupan yang damai dan sejahtera di Australia, ia sempat tinggal di kamp pengungsi, bahkan dalam sebuah rumah dari kardus di belantara India.

Bhakti bercerita saat ia pertama kali tiba di Australia. Begitu banyak hal yang mengejutkan baginya.

"Saat baru tiba, saya pikir itu dunia lain. Saya belum pernah melihat hal-hal seperti mesin ATM dan pusat perbelanjaan yang bagus. Semua yang dibutuhkan ada di satu supermarket, tak harus berjalan bermil-mil. Sanitasinya bagus, bersih, orang-orangnya ramah," tuturnya, "Saya sadar, selama ini saya tinggal di neraka."

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bhakti dan keluarganya melarikan diri dari Bhutan saat Ia berusia sembilan tahun.

"Saat kita meninggalkan rumah, kita tak tahu mau kemana, tapi kita harus menyelamatkan diri. Kita tinggal di India selama dua minggu di hutan, dalam rumah dari kardus, kemudian kami naik truk besar ke sebuah kamp pengungsi di Nepal," ceritanya.

Orang tua Bhakti saat itu enggan memperbolehkan Bhakti dan delapan saudaranya bersekolah di kamp pengungsi, karena di sana gampang tertular berbagai penyakit.

Namun, Bhakti bersikeras pergi diam-diam. "Tak ada tempat khusus, tak terlihat seperti sekolah, tapi banyak anak-anak yang berkumpul di bawah pohon, kemudian datanglah para guru," katanya.

Bhakti dan keluarga di Nepal (Foto: Istimewa)

"Kita tak punya cukup kertas, jadi kita pakai berulang-ulang. Kalau sudah penuh tulisan, kita rendam kertas di wadah air besar semalaman. Esoknya, bisa gunakan kertas yang sama lagi."

Bhakti berhasil masuk universitas, dan menjadi guru matematika SMA. Ia memang pernah belajar bahasa Inggris, tapi begitu sampai di Australia, Ia mendapati bahwa kemampuannya belum mencukupi. Ia memutuskan mengambil sertifikat bidang layanan untuk anak.

"Awalnya, saya kesulitan bekerja. Saya bekerja sebagai juru masak di pusat perawatan anak, dan saya harus mengubah menu tiap minggu. Saya tak tahu nama-nama variasi makanan, dan sulit sekali. Saya juga harus belanja juga, untuk sekitar enam puluh anak dan selusin orang dewasa. Saya belajar banyak," ceritanya.

Yang membantu Bhakti adalah komunitas migran di Darwin, dan Ia pun bekerja sebagai penerjemah untuk membantu orang-orang lain yang menghadapi kesulitan serupa dengannya.

"Saya rasa, melayani masyarakat berarti melayani seseorang, maka Tuhan pun akan membantu saya. Kalau saya bekerja di komunitas, saya bisa mendengar pengalaman, masalah, penderitaan, dan saya bisa mengaitkannya dengan hidup saya. Kalau saya tak mendengar cerita mereka, saya akan merasa bahwa hanya sayalah yang punya masalah" ucapnya.

Bhakti tak bisa mengajar di Australia karena kualifikasinya tidak diakui. Namun, Ia bisa bekerja di sebuah sekolah dasar sebagai guru bantu. Saat ada pemotongan anggaran, Ia pindah bekerja melayani kaum berkebutuhan khusus dan lanjut usia.

"Saya jadi tahu bahwa orang-orang di dunia memiliki harapan yang berbeda, dan butuh waktu untuk memahami itu semua. Saya bekerja dengan seorang perempuan lansia. Di budaya kami, kami menghargai orang yang lebih tua dan tidak mengganggu mereka. Tapi perempuan itu malah mengira saya tidak sopan."

"Begitu kita mengenal budaya satu sama lain, kita bisa lebih memahami satu sama lain. Kini, rasa percaya diri saya lebih besar hingga bisa berurusan dengan orang lain."

Memang, sejak tiba di Australia, Bhakti sudah sulit membangun kepercayaan dirinya.

Baru-baru ini, Ia terkena berbagai masalah. Ia dan suaminya baru pindah rumah, dan dirinya saat itu sedang hamil, kurang sehat dan tidak bisa bekerja.


Bhakti bersama suami dan anaknya ; (Image supplied)

Ia kini sering mengkhawatirkan kesehatan anaknya, yang lahir sembilan minggu terlalu cepat, dan juga rindu orang tuanya, yang tinggal di Amerika Serikat.

Namun, Bhakti tetap optimis. "Senang tinggal di lingkungan ini. Aman tanpa rasa takut," katanya.

Ia bersyukur memiliki rumah baru dengan taman yang indah.

"Saya tak bisa menjelaskan betapa sulitnya selama ini, tapi saya kuat. Saya tak tahu apa yang akan terjadi di masa depan, tapi saya ingin punya anak lagi, itu impian saya," ucap Bhakti.

(nwk/nwk)


Berita Terkait