Turis Pemetik Buah di Australia Sering Dieksploitasi

Turis Pemetik Buah di Australia Sering Dieksploitasi

- detikNews
Kamis, 19 Jun 2014 10:37 WIB
Jakarta -

Badan pengawas hubungan industrial Australia, Fair Work Ombudsman, memulai investigasi terkait laporan adanya turis backpacker yang dieksploitasi oleh agen tenaga kerja. Dikabarkan, para turis itu dipekerjakan sebagai pemetik buah dan dibayar murah dan terpaksa tinggal di akomodasi ilegal.

Investigasi itu akan difokuskan di Kota Bundaberg, Queensland. Di tempat itu setiap tahun ribuan turis bekerja selama sekitar 88 hari di perkebunan sebagai pemetik buah supaya dapat memperpanjang visa liburan sambil bekerja (visa 417).

Salah seorang turis asal Taiwan, Claire, pindah ke kota tersebut Juni lalu untuk bekerja di sebuah perkebunan tomat.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kepada ABC, Claire menyatakan dibayar jauh di bawah standar, terpaksa tidur di sebuah ruangan bersama 25 pekerja lainnya, sebagian besar dari Korea, dan tidak diizinkan beristirahat meskipun bekerja sepanjang hari di bawah terik matahari.

"Kami hanya dibayar 7 dollar sehari dan kami harus bekerja enam jam sehari memetik tomat," katanya.

Upah itu dibayar tunai oleh seorang agen tenaga kerja. Claire kemudian harus membayar 125 dollar setiap minggu untuk akomodasi kumuh.

Turis lainnya, William, juga dari Taiwan, menyatakan dibayar murah ketika bekerja di sebuah perkebunan stroberi di Caboolture, Brisbane.

"Kami bekerja enam hari seminggu tapi dibayar hanya 300 dolar, itu murah sekali," katanya.

Kata William, ketika para pekerja mengeluh, agen yang menempatkan mereka di perkebunan itu tidak mau tahu.

australia is food bowl for the region Perkebunan stroberi sering mempekerjakan turis backpacker.

Claire dan William akhirnya keluar dan mendapat pekerjaan lain di sebuah perkebunan stroberi di Caboolture, milik Merv Schiffke, yang sudah lebih dari 40 tahun menjalankan bisnis perkebunan.

Schiffke mengatakan, cerita seperti Clair dan William sudah sering terdengar dan sulit dipahami mengapa ada orang yang memperlakukan pekerja seperti itu.

"Kita butuh para pekerja ini. Mereka penting dalam industri kita tapi mereka dieksploitasi," katanya.

Sejak dulu Schiffke mempekerjakan pemetik buah secara langsung, tapi banyak petani dalam industri holtikultur menggunakan jasa agen tenaga kerja, dan kemudian timbul masalah.

Anggota Parlemen Federal yang mewakili Bundaberg, Keith Pitt, sedang mendesak dilakukannya perubahan legislatif untuk memberantas agen-agen pemeras dari industri hortikultur.

Para agen itu dibayar oleh petani untuk mencarikan tenaga pemetik buah dan bertanggung-jawab atas upah dan akomodasi mereka.

Tapi banyak pemetik buah mengeluh bahwa mereka tidak diberi upah penuh sehingga terpaksa tinggal secara ilegal dan berdesakan dalam satu rumah.

Rick Jillett, seorang agen tenaga kerja yang legal, menyatakan tidak dapat bersaing dengan harga yang ditawarkan oleh para operator nakal.

(nwk/nwk)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads