Virus Mematikan MERS Diduga akan Masuk Australia

Virus Mematikan MERS Diduga akan Masuk Australia

- detikNews
Kamis, 29 Mei 2014 10:43 WIB
Jakarta -

Ketua Komite Virus MERS di Badan Kesehatan Dunia, WHO memperingatkan virus MERS diduga kuat akan masuk ke Australia. Virus mematikan ini pertama kali ditemukan di Timur Tengah.

200 Orang dilaporkan meninggal dunia dan 600 lainnya menderita sakit terkena sindrom pernafasan Timur Tengah (MERS), sejak pertama kali virus ini teridentifikasi di tahun 2012.

Professor Chris Baggoley dari Australia baru saja kembali dari Jenewa, sebagai ketua komite masalah MERS di Badan Kesehatan Dunia, atau WHO. Menurutnya kemungkinan besar akan masuk ke Australia.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Sudah ditemukan beberapa kasus di 11 negara sekarang ini," ujarnya. "Saya rasa kita (Australia) juga bisa mendapatkannya."

Virus MERS dimulai di Timur Tengah dan telah dideteksi di seluruh dunia. Virus ini memiliki kaitan dengan virus mematikan SARS, yang menewaskan 800 orang di tahun 2002.

Warga yang berpergian ke sejumlah tempat terdampak virus, seperti Timur Tengah diperingatkan untuk waspada.

"Jika kita (Australia) menemukan kasus, kita sudah siapkan dengan baik," tegas Professor Baggoley.

Virus MERS di Australia

Hingga saat ini, belum ditemukan kasus MERS di Australia, tetapi ada beberapa sampel virus ini di laboratorium milik lembaga peneliti CSIRO di Geelong, Victroia.

Para peneliti telah mempelajari sampel dari virus MERS selama 12 bulan.

Mereka meneliti pembentukan virus ini secara genetis dan bagaimana sistem kekebalan tubuh yang berbeda merespon, hal ini akan berguna untuk melakukan tes virus MERS pada manusia.

Peneliti juga melakukan tes pada unta-unta yang ada di Australia. MERS menyebar ke manusia melalui kontak dengan unta.

Ada sekitar 300 ribu unta di Australia bagian tengah dan beberapa di antaranya diekspor dari Timur Tengah.

Namun peneliti CSIRO, Gary Crameri mengatakan unta di Australia tidak mungkin memiliki virus ini.

"Tapi kita punya beberapa spesies kelelawar yang menjadi penyebab virus," ujar Crameri. "Kita baru memiliki unta sekitar 100 tahun, kecil kemungkinannya meski kemungkinan itu tetap ada."

Ia juga menambahkan tidak ada kelelawar atau unta di Australia yang positif memiliki virus MERS.

Lebih mematikan

Ahli virus mengatakan hingga saat ini MERS tidak terlalu menyebar seperti SARS. Alasannya, karena menimbulkan batu-batuk kecil.

Sebaliknya, SARS memiliki gejala bersin-bersin, sehingga menyebar lebih mudah.

Tetapi virus MERS dianggap lebih mematikan dibandingkan SARS. Gejalanya seperti demam, batuk-batuk, dan sesak nafas. Laju kematian akibat virus ini mencapai 40 persen.

Virus SARS pernah masuk ke Australia, dengan ditemukan satu kasus dan itu pun tidak fatal.

Disebutkan pula kalau virus MERS lebih berkembang agresif jika dibandingkan SARS.

Sementara itu, para dokter menyatakan mereka hanya bisa mempelajari kasusnya jika sudah ada di rumah sakit. Menurut mereka pun ada kemungkinan orang-orang terpapar virus tanpa gejala apapun.

Banyak kasus terjadi diantara pada pengembala unta dan mereka yang berkunjung ke peternakan unta, atau juga menkonsumsi susu unta yang belum melalui proses pasterisasi.

Dalam beberapa kasus, virus telah menyebar antar manusia melalui kontak yang sangat dekat, misalnya tinggal bersama orang yang terpapar virus.

Tetapi, tak ada bukti mengenai penyebaran virus MERS langsung di antara komunitas.

Badan Kesehatan Dunia, WHO mengatakan MERS ini bukan keadaan darurat kesehatan masyrakat mengingat rendahnya penyebaran langsung dari manusia ke manusia.

WHO mengatakan itu bukan keadaan darurat kesehatan masyarakat mengingat kurangnya berkelanjutan penularan dari manusia ke manusia.

Di Australia, dokter-dokter telah diingatkan untuk melihat mereka yang baru pulang berpergian, kalau-kalau memiliki gejala MERS.

Ikuti Kompetisi Belajar Bahasa Inggris di Australia - Klik tautan berikut: https://apps.facebook.com/australiaplus

(gah/gah)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads