Sebagian bumiputera Aborigin di Australia Barat berhasil bertahan hidup selama beberapa turunan di tengah iklim bagian tengah benua itu yang tak bersahabat, antara lain berkat sebuah proses mutasi gen.
Hal ini terungkap dari penelitian sejumlah ilmuwan dari University of Cambridge, Inggris, yang mendalami data dari tahun 1980an. Mereka mendapati bahwa sebagian keturunan Aborigin yang diteliti memiliki tingkat hormon thyroxine yang berbeda-beda. Hormon ini dikenal sebagai pengatur metabolisme.
Mutasi genetis yang dialami sebagian keturunan Aborigin membantu tubuh mereka mengatur suhu dalam menghadapi demam, jelas para ilmuwan.
"Ada mekanisme khusus yang mengakibatkan pelepasan ketika tubuh memasuki keadaan demam. Perubahan yang terjadi pada orang Aborigin membatalkan pemicu pelepasan ini," jelas Profesor Emeritus Robin Carrell.
Suhu di bagian tengah benua Australia terbilang ekstrim, dan terkadang sangat tinggi dan kering. Ini bisa berbahaya, terutama bagi anak-anak.
Namun, menurut para peneliti, mutasi gen yang dialami sebagian kaum Aborigin yang tinggal di daerah itu membantu mereka bertahan hidup.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mutasi yang dimaksud diturunkan selama beratus-ratus tahun ke beberapa generasi, hingga akhirnya menjadi perubahan genetis.
Temuan para ilmuwan ini juga memberi manfaat dalam memperkaya pengetahuan tentang manusia secara umum. "Temuan bahwa kaum Aborigin telah mengadopsi perubahan ini mengkonfirmasi bahwa pelepasan thyroxine memang amat penting bagi kesehatan individu," ucap Carrell.
"Temuan bahwa pelepasan ini harus diubah dalam situasi khusus menunjukkan bahwa proses yang tengah terjadi berpengaruh pada tubuh, dan kita menjadi berpikir tentang hal-hal lain, misalnya, dan jangan tertawa ya, tentang sauna dan mandi air panas," tambahnya.
(gah/gah)











































