Pil Pencegah Kehamilan Tidak Efektif pada Perempuan Gemuk

- detikNews
Sabtu, 30 Nov 2013 10:23 WIB
Jakarta - Badan Pengawas Obat-obatan dan Perangkat Medis Australia (TGA) berencana mengubah aturan mengenai obat/pil pencegah kehamilan (morning-after pills) setelah perusahaan farmasi Perancis mengubah pedoman penggunaan obat kontrasepsi darurat tersebut.

Mulai tahun depan, perusahaan farmasi HRA merekomendasikan agar perempuan dengan bobot tubuh diatas 75kg tidak menggunakan produk pil pencegah kehamilan yang mereka produksi Norlevo karena bahan aktif didalam obat tersebut, levonorgestrel, dianggap tidak efektif bagi wanita yang memiliki bobot tubuh yang lebih besar.

Levonorgestrel adalah bahan aktif di dalam semua pil pencegah kehamilan yang dijual di Australia.

Dua tahun lalu peneliti Scotlandia mengingatkan HRA untuk melakukan penelitian karena hormon didalam Levonorgestrel tidak efektif pada wanita dengan berat badan diatas 75kg dan sangat tidak efektif penggunaannya pada wanita dengan bobot tubuh diatas 80kg.

HRA pharma awal pekan ini mengeluarkan pengumuman yang meminta Badan Pengawas Makanan dan Obat-obatan Amerika mengevaluasi semua produk pil kontrasepsi darurat.

TGA mengatakan pihaknya tengah mempertimbangkan apakah perlu dilakukan tindakan tertentu di Australia untuk menyikapi temuan ini.

Direktur Badan Kontrasepsi di Queensland, Dr. Caroline Harvey, mengatakan saat ini anjuran bagi wanita yang membutuhkan kontrasepsi mendadak yang berbobot tubuh diatas 75kg masih tetap sama.

"Pil ini merupakan obat yang aman. Sangat mudah diakses dan kita harus menawarkan itu sampai kita mendapat alasan yang bagus untuk menghentikan menganjurkan penggunaannya,” kata Dr. Harvey.

"Jadi kita berusaha mengatakan kepada masyarakat untuk tidak panik dan jika warga membutuhkan pil kontrasepsi darurat silakan mencari produk yang tersedia, yang dalam hal ini ya pil kontrasepsi darurat,” katanya lagi.

Pakar etika medis dari Universitas Monash, Dr. Leslie Cannold, mengatakan dirinya prihatin dengan tidak adanya tindakan cepat mengenai hal ini.

"Ini adalah masalah yang sangat memprihatinkan dan kita hendak melihat semua lembaga terkait di Australia memastikan informasi mengenai obat ini tersedia dengan lengkap dan jujur sehingga wanita bisa memahaminya dengan jelas,” katanya.

"Kalau ternyata manfaat dari obat ini tidak sebesar yang kita bayangkan dan hal itu bisa mengubah perhitungan resiko manfaat yang perempuan lakukan apakah mereka perlu mengkonsumsi pil pencegah kehamilan atau tidak.”

Terkait kasus aborsi

Dr. Cannold mengatakan terungkapnya ketidakampuhan levonorgestrel terhadap wanita berbobot diatas 75kg ini bisa jadi menjelaskan mengapa kasus aborsi di Australia tidak kunjung turun.

"Yang terjadi ketika pil kontrasepsi darurat ini tersedia bebas ditoko obat adalah kita dapat berharap jumlah kehamilan yang tidak diinginkan bisa menurun dan begitu juga angka aborsi berkurang," kata Dr. Cannold.

"Tapi hal itu tidak terjadi, jadi ini menunjukkan kalau obat itu tidak bekerja dalam persentase besar perempuan di Australia yang memang diketahui prosentase perempuan yang kelebihan berat badannya juga cukup tinggi. Dan ini semakin menunjukan pil kontrasepsi darurat sangat tidak efektif, “ paparnya.

Wanita yang membutuhkan kontrasepsi darurat di Australia memiliki dua pilihan yang pertama mengkonsumsi pil pencegah kehamilan atau memakai IUD.

Dr. Harvey mengatakan IUD jauh lebih efektif tapi memerlukan intervensi medis yang lebih besar, artinya obat tablet merupakan bentuk kontrasepsi yang lebih mudah diakes masyarakat.


(gah/gah)