Edward Snowden Terdesak, Tinggalkan Upaya Cari Suaka di Rusia

Edward Snowden Terdesak, Tinggalkan Upaya Cari Suaka di Rusia

- detikNews
Rabu, 03 Jul 2013 13:02 WIB
Jakarta - Nasib pembocor intelijen Amerika yang buron, Edward Snowden, masih tidak jelas, sementara sejumlah negara telah menolak permohonannya bagi suaka politik.

Mantan pegawai kontrakan badan intelijen itu kini terkatung-katung di bagian transit bandara Sheremetyevo di ibukota Russia, Moskow.

Wikileaks mengatakan, Snowden, 30 tahun, telah meminta suaka di 21 negara untuk menghindari diekstradisi ke Amerika untuk menghadapi dakwaan spionase.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pada hari Selasa ;presiden ;Vladimir Putin menyiratkan Snowden bisa menetap di Russia dengan syarat ia berhenti merugikan Amerika yang disebutnya "mitra Russia".

Akan tetapi kata sekretaris pers Putin, Dmitry Peskov, Snowden menghentikan upaya meminta suaka di Russia setelah presiden Putin mengeluarkan pernyataan itu.

Snowden menuduh Washington mendesak para kepala negara asing agar tidak memberinya suaka.

"Ini ada cara agresi politik lama yang jahat," kata Snowden dalam pernyataan yang dimuat dalam website WikiLeaks.

"Tujuan mereka adalah menakut-nakuti, bukan saya, tapi mereka yang akan menyusul saya."

WikiLeaks melaporkan, Snowden telah menyiapkan permohonan suaka di sejumlah negara, di antaranya India, Cina, Brazil, Irlandia, Austria, Bolivia, Kuba, Finlandia, Perancis, Jerman, Italia, Belanda, Nicaragua, Norwegia, Polandia, Spanyol, Swiss dan Venezuela.

Negara yang diinginkan Snowden, Ekuador, mengatakan tidak bisa mempertimbangkan permohonan suaka dari Snowden kalau ia tidak berada dalam wilayah mereka.

Reaksi atas permohonan suaka Snowden:
Yang sudah menolak

Brazil, Finlandia, Jerman, India, Polandia

Yang belum memberikan keputusan

Bolivia, Cina, Kuba, Perancis, Italia, Belanda, Nicaragua, Russia, Venezuela

Yang mengatakan Snowden harus berada di wilayahnya agar permohonan suakanya valid

Austria, Ekuador, Eslandia, Irlandia, Norwegia, Spanyol, Swiss
Austria, Eslandia, Norwegia dan Spanyol juga mengatakan Snowden harus berada di wilayah mereka untuk mengajukan permohonan itu.

Poland mengatakan tidak akan memberikan "rekomendasi positif" terhadap permohonan suaka, dan India mengatakan "tidak ada alasan" untuk menerimanya. Sementara itu Italia mengatakan sedang mengevaluasi permohonan itu.

Akan tetapi Presiden Venezuela Nicolas Maduro mengatakan Snowden adalah pejuang HAM yang pantas mendapatkan "perlindungan dunia".

"Ia belum meminta kepada kami. Bilamana ia melakukan hal itu, kami akan memberikan jawaban," kata Maduro.
Bolivia
Sementara itu, Menlu Bolivia membantah laporan bahwa Snowden terbang dengan Presiden Evo Morales dalam pesawatnya, yang mendarat di luar rencana di Austria.

Menlu David Choquehuanca mengatakan, Perancis dan Portugal menutup wilayah udara mereka untuk pesawat presiden Bolivia itu di tengah klaim bahwa Snowden berada dalam pesawat.

"Tersiar rumor yang tak berdasar bahwa Snowden boleh jadi ada dalam pesawat. Kami tidak tahu siapa yang mengarang bohong besar ini," katanya.

Presiden Morales menghadiri pertemuan negara-negara produsen gas alam di Moskow dan bertemu dengan Presiden Putin.

Sebelumnya, ia mengatakan kepada media Russia, negaranya akan "memperdebatkan dan mempertimbangkan" pemberian suaka politik kepada Snowden "kalau ada permintaan".

Snowden meninggalkan pekerjaan yang bergaji tinggi sebagai kontraktor intelijen di Hawaii dan pergi ke Hong Kong pada tanggal 20 Mei dan mulai membocorkan rahasia mengenai Badan Keamanan Nasional Amerika.

Ia mengungkapkan, badan intelijen itu punya akses ke data internet yang sangat banyak seperti email, chat rooms dan video di bawah program pemerintah yang disebut PRISM.

Snowden terbang dari Hong Kong ke Moscow pada tanggal 23 Juni.

Para pendukungnya menyebut Snowden seorang whistleblower, sementara para pengeritiknya menyebutnya kriminal dan bahkan juga pengkhianat.

ABC/wires


(nwk/nwk)


Berita Terkait