Komisi HAM Australia: Tidak Ada Bukti Pencari Suaka Iran Bermotif Ekonomi

Komisi HAM Australia: Tidak Ada Bukti Pencari Suaka Iran Bermotif Ekonomi

- detikNews
Selasa, 02 Jul 2013 14:23 WIB
Jakarta - Komisi Hak Asasi Manusia Australia mengatakan, tidak ada bukti yang mendukung pernyataan Menteri Luar Negeri Bob Carr bahwa banyak pencari suaka Iran adalah imigran ekonomi.

Menteri Bob Carr mengatakan, Australia membutuhkan suatu sistem penilaian yang ketat atas pencari suaka guna mencegah semakin banyaknya apa yang ia sebut sebagai 'imigran ekonomi'.

"Apa yang kita lihat dari meningkatnya pencari suaka dari Iran tahun ini adalah mereka yang datang ke Australia dari kelompok mayoritas agama dan etnik di negara mereka, jadi bukan karena penindasan," katanya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Senator Carr mengatakan, ada beberapa kapal dimana 100 persen penumpangnya adalah orang-orang yang melarikan diri dari negara mereka tapi motivasi mereka adalah ekonomi.

Perdana Menteri Kevin Rudd juga mengatakan, banyak pencari suaka ke Australia bukan pengungsi murni.

Kemarin, dalam konferensi pers pertamanya sejak kembali menjadi perdana menteri, Rudd mengatakan, banyak orang yang datang ke negeri ini adalah imigran ekonomi.

Tapi Ketua Komisi HAM, Profesor Gillian Triggs, mengatakan kepada program Lateline ABC bahwa 90 persen pencari suaka benar-benar sebagai pengungsi murni.

"Ketika kami menilai permohonan suaka sampai 13 Agustus tahun lalu, kira-kira 90 persen permohonan status pengungsi mereka didapati sah," katanya.

"Jadi saya pikir Senator Carr hanya membuat asumsi tanpa bukti."


Tahanan anak-anak

Profesor Triggs juga mendesak pemerintah Australia agar mempercepat pembebasan anak-anak dan remaja yang tidak didampingi orang tua mereka dari rumah tahanan imigrasi.

Ia mengatakan, ini seharusnya menjadi prioritas nomor satu Menteri Imigrasi Tony Burke.

"Prioritasnya seharusnya membebaskan anak-anak dan khususnya remaja yang tidak disertai orang tua mereka ke penahanan ditengah komunitas," katanya.

Sementara itu, seorang remaja laki-laki berusia 16 tahun telah mengakhiri aksi mogok makan selama lima hari di rumah tahanan imigrasi Pontville, Tasmania.

Profesor Triggs mengatakan, terdapat sekitar 300 remaja di bawah umur yang tidak didampingi keluarganya di Pontville, dan paling tidak 26 di antaranya berada dalam tahanan tertutup selama delapan atau sembilan bulan.

"Yang kami khawatirkan bukan hanya mereka yang di Pontville. Seluruhnya terdapat sekitar 1,800 anak di tahanan imigrasi di seluruh Australia. Sebagian di antaranya sangat terisolir dan dalam kondisi buruk," katanya.

Pemerintah secara bertahap telah membebaskan anak-anak dan keluarga untuk tinggal di tengah masyarakat sementara permohonan mereka diproses.

Tapi Profesor Triggs mengatakan, pemerintah tidak bergerak cukup cepat.


(nwk/nwk)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini