Skandal terbaru di militer Australia menguatkan desakan agar militer Australia tidak mentolerir pelanggaran etika seperti yang dilakukan 3 Perwira Tinggi Angkatan Pertahanan Australia.
Desakan itu antara lain disampaikan Komisioner Diskriminasi Seksual Australia, Elizabeth Broderick. Menurutnya rekomendasi serupa sudah pernah Ia sampaikan ketika menginvestigasi budaya seksis di Angkatan Pertahanan Australia kurang dari setahun lalu.
Broderick mengatakan dirinya terkejut dengan banyaknya pelaku yang terlibat dalam skandal ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Karena skandal ini tidak cuma melibatkan perwira ditingkatan yang sama dan melakukannya bersama-sama, tapi ini melibatkan perwira mulai dari Perwira Tinggi – Letnan Kolonel - sampai ke perwira di bagian pendaftaran umum.”
Budaya perempuan sebagai objek seksual
Sosiolog yang juga mantan infanteri, Ben Wadham, mengatakan perwira tinggi yang terlibat dalam skandal ini menunjukan isu kedisiplinan tidak cuma terbatas dikalangan anggota Angkatan Pertahanan yang berusia muda.
Ben Wadham yang pernah bertugas selama 5 tahun di Angkatan Pertahanan Australia dan kini pengajar di Universitas Flinders mengatakan penggunaan gambar untuk melecehkan perempuan sudah menjadi budaya yang melekat kuat di dalam Angkatan Pertahanan Australia.
Tapi keterlibatan Perwira Tinggi dalam skandal ini menunjukan masalah tersebut bisa jadi lebih buruk dari yang diperkirakan sebelumnya.
"Pengalaman pribadi Saya dengan tergabung dalam grup di Facebook, dan memantau bagaimana kalangan perwira menyikapi perilaku ini, baik yang muda maupun di level jabatan berbeda – dari kata-kata mereka, nama-nama yang dibahas serta materi yang mereka sebarkan terkadang sangat ekstrim,” tuturnya.
Dr Wadham juga mengatakan keterlibatan perwira tinggi menunjukan masalah seksisme tidak terbatas pada Perwira Muda di Angkatan Pertahanan saja.
“Dahulu kita sering menyalahkan perwira muda. Kita bilang ini sebagai perilaku di masyarakat luas, bahkan masalah pelajar di universitas. Ini contoh budaya yang sangat mengakar, budaya predator dikalangan kelompok laki-laki yang menjadikan perempuan sebagai objek seksual mereka.”
Wanita enggan bergabung dengan militer
Menanggapi skandal yang dilakukan anak buahnya, Kepala Militer Australia, Letnan Jenderal Gen Morrison terlihat sangat kecewa ketika diminta menjelaskan miskinnya perilaku dikalangan Angkatan Pertahanan.
"Saya tidak bisa menjelaskan mengapa, itu jujur Saya. Saya tidak memiliki teori sama sekali mengenai skandal ini, dan Saya tentu saja tidak menemukan cara yang mudah untuk menghentikannya," katanya.
“Saya menduga ini berakar pada kebiasaan alami manusia, tapi itu bukan alasan juga. Ini merupakan tanggung jawab saya. Saya Komandan Militer Australia.” tegasnya.
"Ini merupakan langkah mundur, tapi Saya akan menyikapinya, saya akan mengkomunikasikan masalah ini dan mencari penyebabnya, ; mengapa kesalahan seperti ini bisa terjadi dan membenahinya.”
Meski demikian, Gen Morrison tetap mendorong perempuan untuk bergabung menjadi tentara.
“Saya katakan lingkungan kerja di militer akan memberikan tantangan bagi Anda. Dan Saya pastikan ada ratusan ribu wanita yang menjadi bagian dari militer Australia telah melakukan kerja yang sangat luar biasa.”
Sementara itu Menteri Pertahanan Stephen Smith memerintahkan otoritas militer Australia untuk melakukan pendekatan yang tidak sama sekali mentolerir pelanggaran seperti ini.
"Bagi militer Australia baik AU, AL, Perwira tinggi dan siapa saja yang tengah berusaha mendorong wanita untuk bergabung, skandal ini merupakan kemunduran besar," kata Smith.
“Skandal ini akan membuat wanita enggan berpikir untuk bergabung menjadi tentara, baik itu AL maupun AU atau melanjutkan karir mereka di militer,” tegasnya.
(nwk/nwk)










































