Luigi Pralangga dan Serunya Jadi Staf Lapangan Misi Perdamaian PBB

- detikNews
Jumat, 26 Apr 2013 10:19 WIB
(Foto: flickr Luigi Pralangga)
Jakarta - Awalnya bermimpi pergi ke Kanada, kemudian nekat ke Amerika Serikat (AS), terus jadi staf Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) hingga akhirnya 'nyasar' ke negara-negara konflik. Sempat ditugaskan di bagian verifikasi senjata pemusnah massal di Irak hingga dievakuasi mendadak. Itulah pengalaman Luigi Pralangga, staf lapangan Misi Perdamaian di PBB. Seru!

Petualangannya ini dimulai dari mimpi untuk pergi ke Kanada yang tercetus saat mengikuti pertukaran pelajar summer camp ke Jepang saat kelas 1 SMA tahun 1989. Nah, saat masing-masing peserta bercerita tentang keunggulan negaranya, Luigi tertarik dengan cerita temannya dari Kanada.

Mimpi pergi ke Kanada timbul saat 7 tahun kemudian dia menjadi panitia pertukaran pelajar yang dulu pernah dijalaninya. Masa krisis moneter, menikah dengan Fenty Juliawaty hingga akhirnya diterima di satu perusahaan telekomunikasi terkemuka di Indonesia tak membuatnya lupa akan impiannya hingga akhirnya dia mendengar ada program sister city pertukaran budaya ke New York, AS. Simpel saja alasannya, dari New York City, menuju perbatasan Kanada hanya 8 jam perjalanan darat.

"Tahun 97 melamar nggak keterima, tahun 98 melamar nggak keterima, tahun 99 menikah dan tahun 2000 melamar lagi, diterima," jelas Luigi ketika ditemui di kantor detikTV, Jalan Kapten Tendean, Jakarta Selatan, Kamis (25/4/2013).

Visa training AS didapatkan, hingga Luigi bisa berangkat ke Negara Paman Sam itu saat istri hamil anak pertama. Sedikit merayu sang istri yang saat itu tak mau ditinggal, akhirnya Luigi membuat istrinya menyusul ke AS.

"Nah tak ada kontak sama sekali di sana. Akhirnya saya mencari teman yang mau menitipkan barang ke kerabat atau temannya di sana. Nah, saya jadi punya kontak deh di sana. Sambil memberikan bumbu pecel titipan teman, saya bertanya-tanya gimana caranya bekerja di sini," kisah pria kelahiran 29 April 1974 ini.

Sambil menjalani pertukaran budaya beberapa bulan, Luigi mencari peluang. Informasi yang didapatkannya pun macam-macam, mulai dari pekerjaan cuci piring yang bergaji US$ 5 per jam, penjaga toko US$ 6-10 per jam, pelayan restoran hingga menghampiri toko-toko di kawasan Times Square yang memasang lowongan.

"Pokoknya pekerjaan yang keras-keraslah," kenang ayah 3 orang anak sambil tersenyum.

Hingga, di satu pertemuan di Perwakilan Tetap RI (PTRI) New York, Luigi bertemu dengan salah satu pejabat PTRI New York. Pejabat PTRI itu bertanya-tanya pada Luigi, berapa lama tinggal dan rencana ke depannya, mengajaknya ngobrol dalam bahasa Inggris. Luigi pun tak tinggal diam dengan percaya diri dia menyodorkan berkas lamaran pekerjaan.

"Langsung saya ambil CV di tas, saya kasihkan ke dia. Ini Amerika lho, segala sesuatunya harus direncanakan," jelas dia.

Hingga akhirnya Luigi dipanggil untuk membantu PTRI New York yang saat itu sibuk menyambut kedatangan Presiden Abdurrahman Wahid dalam rangka sidang tahunan PBB. Luigi saat itu digaji US$ 100 per hari, selama 10 hari. Setelah momentum penyambutan Presiden Gus Dur dan Luigi serta keluarganya berniat hendak kembali ke Tanah Air, Luigi malah ditawari magang menjadi asisten pribadi Penasihat Pertahanan PTRI New York dengan gaji US$ 1.700 per bulan.

Gara-gara magang itu, Luigi bolak-balik ke Kantor Pusat PBB di New York yang jaraknya selemparan batu dari PTRI New York untuk mengurusi dokumen tentara pasukan perdamaian dari RI. Dari yang hanya senyum-senyum dengan petugas keamanan hingga staf, say hi, hingga akhirnya dia mendapat informasi lowongan untuk staf PBB.

Luigi pun melamar hingga akhirnya lolos. Kemampuan bahasa Inggris dan pengalaman kerjanya selama di Indonesia sangat membantu. Hal itu pula yang membuat Luigi akhirnya mengundurkan diri dari PTRI New York, padahal sudah ditawari untuk diangkat menjadi staf lokal tetap di sana.

Di PBB, Luigi tak puas hanya dengan menjadi staf di Kantor Pusat PBB, hingga akhirnya dia memutuskan untuk bergabung menjadi staf lapangan Penjaga Perdamaian PBB. Tugasnya, di negara-negara konflik. Selain menjanjikan tantangan, petualangan dan loncatan karier di PBB, Luigi mengakui bahwa salah satu daya tariknya ditempatkan di wilayah konflik adalah remunerasinya yang lumayan.

"Pertama, jelas bisa menabung. Ada tunjangan lapangan dan kebahayaan yang besarnya 2 kali lipat atau lebih dari gaji pokok. Semakin bahaya wilayah semakin tinggi tunjangannya," imbuhnya.

Selain itu, lowongan staf lapangan dan relawan di PBB lebih banyak daripada staf di kantor pusat. Di Pasukan Penjaga Perdamaian PBB, Luigi pertama bertugas di United Nations Monitoring Verification Inspection Comission (UNMOVIC) bagian pengadaan barang dan logistik di Irak tahun 2003, sesuai dengan perannya saat berkarier di perusahaan telekomunikasi sebelumnya.

Saat itu PBB memeriksa apakah Irak memiliki senjata pemusnah massal. Berada di negara yang tengah krisis membuat PBB mensyaratkan prosedur standar yang ketat bagi setiap staf sipilnya.

"Tiap berangkat ada radio check. Tiap jam 8 malam radio check. Ada HT, telepon satelit. Maksudnya supaya ketahuan posisi terakhir berada di mana. Tiap kerja lihat CNN, setiap hari di-briefing. Kalau keadaan gawat, pulang-pergi kita dikawal, diantar pakai kendaran lapis baja. Karena kalau diculik bisa lebih drama lagi," tutur jebolan Abang None Jakarta ini.

Saat di Irak dan situasi makin krisis, Sekjen PBB saat itu Koffi Anan, memerintahkan evakuasi darurat dalam beberapa jam ke depan karena kapal perang AS sudah mencapai Teluk Persia. Luigi dan rekan-rekannya harus membawa barang-barang yang penting saja, server-server berisi data sensitif dan beberapa potong pakaian untuk menjadi pengungsi di Siprus.

Tak cuma itu, terkadang negara konflik yang minim fasilitas, sekalinya ada fasilitas yang lumayan memadai harganya mendadak selangit. Ancaman yang nyata, seperti penculikan atau penembakan dari milisi lokal.

"Kalau sampai seperti itu berarti kita berada di tempat, waktu dan bersama orang yang salah," imbuh alumni teknik sipil dari salah satu universitas swasta ini.

Di sela-sela tugasnya sebagai staf sipil Penjaga Perdamaian PBB, Luigi masih sempat menyalurkan hobinya yaitu travelling, memotret dan memasak. Bagaimana cita-citanya pergi ke Kanada dulu?

"Belum. Ke-pending dulu ke sana kemari. Mungkin travelling atau jadi turis dulu," jawab pemilik akun twitter @pralangga itu.

Setelah selama sekitar 10 tahun menjalani berbagai misi di Irak, Liberia, dan Afrika Barat, Luigi menghimpun semua ceritanya dalam buku 'Ondel-ondel Nekat Keliling Dunia' yang terbit 2011 lalu. Bahasa dalam buku itu sangat renyah, khas anak muda. Cerita kelabu pun dituturkannya dengan jenaka.

"Supaya bisa menjangkau anak sekolah dan kuliah. Saya ingin menunjukkan bahwa banyak peluang lho kerja di PBB. Dari Indonesia perwakilannya masih sedikit, untuk staf sipil di seluruh dunia mungkin 80-an. Yang terbanyak dari Asia itu dari Filipina. Orang Filipina selalu ada di mana-mana," celotehnya.

Menurut Luigi, orang Indonesia sebenarnya pintar dan mampu. Hanya saja, percaya dirinya masih kurang. Luigi mengajak generasi muda Indonesia untuk berkarier di PBB.

Nah, siapa ingin mengikuti jejak Luigi Pralangga dengan segala pengalaman serunya itu?


(nwk/nrl)