DetikNews
Senin 24 Oktober 2011, 09:40 WIB

Daniel Rudi Haryanto, Mendunia Lewat Film

- detikNews
Daniel Rudi Haryanto, Mendunia Lewat Film
Jakarta - Berkat film Prison and Paradise, Daniel Rudi Haryanto melanglang ke festival tingkat dunia. Dubai, Korsel, Jepang dan sebentar lagi ke Eropa dan Amerika. Oleh orang luar negeri, film itu dinilai membuka ruang diskursus baru tentang terorisme.

Beberapa waktu lalu, saat menghadiri diskusi di Kafe Kongko, Jalan Sirojudin, Tembalang, Semarang, Rudi--panggilan akrab Daniel Rudi Haryanto, sibuk mengambil gambar. Ia berputar ke sana-ke mari untuk mencari angle terbaik. Karena malam dan lampu tak cukup terang, sesekali lelaki kelahiran Semarang, 17 April 1978 ini menghidupkan lampu sorot kameranya.

\\\"Buat dokumentasi. Bisa jadi bahan film selanjutnya,\\\" kata Rudi kepada detikcom.

Rudi sempat bercerita sekilas tentang pengalamannya di Dubai Film Festival tahun lalu. Ia mengaku sama sekali tidak menyangka filmnya pantas masuk ke festival tersebut. Maka itu, saat panitia festival mengundangnya, ia kaget campur bingung.

\\\"Rasanya gimana gitu. Saya yang ndeso ini harus berjalan di karpet merah dengan orang-orang Hollywood. Tapi saya harus jaga image. Saya ke sana sebagai undangan, sebagai sutradara, nggak mungkinlah minta foto bareng dengan orang-orang Hollywood,\\\" ungkapnya.

Tak berpanjang lebar, Rudi beranjak usai acara diskusi. Katanya, ia masih ada agenda selain harus mampir ke rumahnya di Karangayu, Semarang Barat.

Prison and Paradise berdurasi 93 menit, bercerita tentang Bom Bali I, baik dari sisi pelaku maupun korban. Rudi berhasil mewawancarai Imam Samudra dan beberapa pelaku Bom Bali I. Efek meledak-ledak dalam wawancara itu, sangat terlihat. Sama dengan suara keluarga korban saat menghujat pelaku bom.

Saat dihubungi melalui ponsel, Sabtu (22\/10\/2011) lalu, Rudi bercerita tentang pengalamannya mengikuti festival film kelas internasional. Di Dubai, ia merasa diperlakukan istimewa. Diinapkan di hotel bertarif US$ 1.000 dan segala keperluannya dijamin.

\\\"Saya berjalan bareng sama Sean Penn. Rasanya kikuk juga,\\\" ucapnya.

Dari Dubai, beberapa waktu kemudian Rudi diundang ke Korea Selatan. Acaranya tidak terlalu wah, tapi cukup terkenal di negara tersebut. Festival tersebut merupakan puncak dari beragam festival film yang diadakan di berbagai daerah.

Tahun ini, Rudi juga sempat merasakan aura festival terkemuka di Jepang, yakni Yamagata Film festival. Ia diundang untuk mempresentasikan filmnya. Peminat dan penikmat film dari berbagai latar belakang, hadir.

Dalam waktu dekat Rudi kemungkinan besar bakal berangkat ke Roma, Montreal, dan Copenhagen. \\\"Festival (film) juga. Tapi saya tidak tahu jadwal dan detil acaranya. Masih di-fix-kan oleh tim saya,\\\" sambungnya.

Jika dibandingkan di luar negeri, bagaimana respons terhadap film tersebut di Indonesia? \\\"Wah, ya jauh banget. Di sini nyaris tidak ada apresiasi, tidak ada support,\\\" keluhnya.

Baik di Dubai, Korsel, atau Jepang, audiens sangat antusias menonton dan berdiskusi. Ruang-ruang diskursus baru pun tercipta, bahwa teror seperti dilakukan Imam Samudera cs pada 2003 silam bisa dilakukan orang berlatar belakang apa saja. Bukan hanya monopoli agama tertentu.

Melalui festival internasional, Rudi berkesempatan \\\'mengampanyekan\\\' pluralitas Indonesia. Ia selalu menyampaikan pelaku pemboman tidak mencerminkan orang Muslim Indonesia, melainkan dilakukan kelompok kecil yang tidak mungkin mempengaruhi masyarakat secara umum.

Di Indonesia, film itu telah di-road show-kan. Sementara baru beberapa kota, dan baru sampai di Sulawesi. Tapi rupanya respons audiens cukup menggembirakan. Meskipun dukungan pemerintah terhadap upaya rekonsiliasi pasca kejadian terorisme dirasakan masih kurang.

\\\"Tapi itu (road show) tetap jalan. Rencananya keliling Indonesia,\\\" kata lelaki pengagum sutradara Akira Kurosawa ini.

Rudi bukan orang baru di dunia perfilman. Alumnus Institut Kesenian Jakarta ini telah memproduksi sejumlah film pendek, di antaranya RED (1999), Oleh-oleh dari Jakarta (2000), Uro Raya (Lebaran) di Jakarta (2003), Bom Bali I (2003), Rimba Rumah Kami (2006), Muara Angke (2007), dan To Mompalivu Bure (2007). Sedangkan Prison and Paradise adalah film dokumenter dengan durasi terpanjangnya.

Rudi juga aktif di komunitas film, Cinema Society. Dia juga terlibat di berbagai festival seperti JIFFest, Independent Film Community (Konfiden), dan Partnership with Indonesian Documentary (In-Docs).

Saat berstatus mahasiswa, ia sempat \\\'berpolitik\\\', ikut aksi-aksi menentang Orba dengan bergabung di Front Jakarta. Tapi rupanya insting filmnya lebih kuat dibanding politik. Maka itu, selepas kuliah, ia menekuni film dengan menjadi sutradara.





(try/vit)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed