Detik.com News
Detik.com
Jumat, 28/06/2013 09:11 WIB

Sidang Kasus Cebongan, 12 Terdakwa Kopassus Kembali Teriakkan 'Komando!'

Edzan Rahardjo - detikNews
Sidang Kasus Cebongan, 12 Terdakwa Kopassus Kembali Teriakkan Komando!
Bantul - Sidang lanjutan kasus penyerangan LP Cebongan hari ini memasuki yang ke empat kalinya. Pekik komando kembali terdengar dari para terdakwa.

Pada sidang kali ini, 12 terdakwa oknum Kopassus tiba di Pengadilan Militer sekitar pukul 7.45 WIB. Seperti biasa, 12 anggota Kopassus dari Denpom Yogya menuju Pengadilan Militer dibawa dengan mobil tahanan POM AD dengan pengawalan Polisi Militer.

Tiba di lokasi sidang, Jumat (28/6/2013), pasukan elite baret merah ini langsung masuk ke ruang tunggu untuk menunggu sidang dimulai. Dari luar, terdengar jelas suara lantang "Komando" Komando" oleh 12 Kopassus tersebut.

Sidang yang ke 4 kalinya ini, mengagendakan putusan sela dari majelis hakim. Pada sidang sebelumnya, oditur militer pengadilan militer 2/11 Yogyakarta menyatakan menolak eksepsi dari seluruh terdakwa.

Eksepsi 3 terdakwa pelaku utama penyerang LP Cebongan, yakni Serda Ucok Tigor Simbolon, Serda Sugeng Sumaryanto, dan Koptu Kodik dinyatakan tidak berdasar. Penerapan pasal pembunuhan berencana yang didakwakan kepada ketiganya tidak menyalahi norma hukum.


Ikuti berbagai berita menarik hari ini di program "Reportase Sore" TRANS TV Senin sampai Jumat pukul 16.45 WIB

(mad/mad)


Sponsored Link
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
  • Jumat, 17/04/2015 20:40 WIB
    Wawancara
    Luhut Panjaitan: Persiapan KAA Super Singkat
    Luhut Panjaitan: Persiapan KAA Super Singkat Kepala Staf Kepresidenan Jenderal (Purn) Luhut Binsar Panjaitan ditunjuk sebagai penanggung jawab peringatan 60 tahun KAA. Hanya tersedia waktu kurang lebih 6 minggu bagi panitia untuk mengadakan persiapan.
ProKontra Index »

Jokowi Presiden Pilihan Rakyat, Bukan Presiden Partai!

Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri mengungkap hukum demokrasilah yang mengatur presiden dan wapres ikut garis politik partai. Namun pengamat politik Universitas Paramadina Hendri Satrio membantah pernyataan Mega, karena presiden adalah pilihan rakyat, bukan presiden partai. Bila Anda setuju dengan pendapat Hendri Satrio, pilih Pro!
Pro
94%
Kontra
6%