Sabtu, 15/06/2013 14:04 WIB

Kekasih Sopir Mobil ATM yang Tertembak Polisi di Semarang Histeris

Angling Adhitya Purbaya - detikNews
Halaman 1 dari 2
Foto: Angling/detikcom
Semarang - Seorang wanita berbusana serba hitam tiba-tiba terjatuh di depan rumah Nuki Nugroho (25), sopir mobil pengisi uang ATM yang tertembak oknum anggota polisi di Semarang. Wanita tersebut terjatuh dan menangis histeris sambil berteriak.

"Kenapa kamu ninggal aku, cinta? Kenapa?" teriak wanita tersebut di depan rumah korban, Jl Lamper Mijen RT 03 RW 05 Kelurahan Lamper Tengah, Semarang Selatan, Sabtu (15/6/2013).

Menurut para tetangga, wanita tersebut bernama Dewi, kekasih Nuki. Sejak tiba di rumah duka, Dewi terus menangis histeris. Ia digotong oleh warga dan petugas kepolisian yang berada di sana.

Selain Dewi, sejumlah keluarga dan tetangga juga terlihat menangis di dalam rumah korban. Karangan bunga yang dikirim oleh Kapolrestabes Semarang juga nampak menghiasi rumah duka.

Dari informasi yang diperoleh, korban tertembak saat berada di dalam ruang istirahat kantor perusahaan pengisi uang ATM PT TAG, Jl Guntur, Semarang, sekitar pukul 02.30 WIB oleh oknum polisi Shabara Polrestabes Semarang, Briptu PRY.

"Katanya saat lagi bercanda," ujar Muryanto (63), ayah korban.

Nuki meninggal sekitar pukul 04.30 di RS Kariadi setelah sempat dirawat dalam kondisi kritis. Belum ada statemen resmi dari pihak polisi, begitupun dari tempat korban bekerja terkait peristiwa tersebut. Saat ini jenazah korban masih diautopsi di RS Kariadi Semarang.Next

Halaman 1 2

Akhiri hari anda dengan menyimak beragam informasi penting dan menarik sepanjang hari ini, di "Reportase Malam" pukul 01.30 WIB, hanya di Trans TV

(alg/nrl)



Sponsored Link
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
ProKontra Index »

Pilkada via DPRD Potensi Korupsinya Lebih Tinggi!

DPR hari ini akan mengesahkan RUU Pilkada yang salah satunya akan menentukan apakah pemilihan kepala daerah akan tetap dilakukan secara langsung atau dikembalikan ke DPRD. KPK berpandangan, Pilkada lewat DPRD justru potensi korupsinya lebih tinggi. Bila Anda setuju dengan KPK, pilih Pro!
Pro
58%
Kontra
42%