detikcom
Selasa, 21/05/2013 11:07 WIB

15 Tahun Reformasi

Curhat Soeharto pada Cak Nun: Kalau Rakyat Menjarah, Saya Ketakutan

Tim Harian Detik - detikNews
Halaman 1 dari 2
(Foto: Getty Image)
Jakarta - Ribuan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi masih menduduki gedung Dewan Perwakilan Rakyat. Tapi bukan itu yang membuat ketegangan menjalar di Istana Presiden, tempat Presiden Soeharto sedang menjamu sembilan tamunya pagi itu, Selasa, 19 Mei 1998.

“Cak, kalau gerakan mahasiswa mungkin tidak menakutkan, tapi kalau rakyat menjarah, saya menggigil dan ketakutan,” kata Soeharto kepada budayawan Emha Ainun Nadjib hari itu.

Kekuasaan Presiden Soeharto sedang berada di ujung tanduk. Kepemimpinannya rontok bersamaan dengan mundurnya 14 menteri Kabinet Pembangunan VII.

Desakan supaya Presiden mundur bermunculan, termasuk dari lima tokoh nasional yang disampaikan dalam sepucuk surat pada 16 Mei 1998, yaitu Nurcholish Madjid, Malik Fajar, Utomo Dananjaya, S. Drajat, dan Can Nun―panggilan akrab Emha.

Pada 19 Mei, Presiden meminta kelima tokoh untuk bertandang ke Istana, disertai empat tokoh nasional lain, antara lain Abdurrahman Wahid dan Kiai Haji Ali Yafie. Di antara mereka juga terdapat Yusril Ihza Mahendra, saat itu asisten Menteri-Sekretaris Negara Saadilah Mursjid.
Suasana dalam pertemuan itu, kata Cak Nun, tak terlalu tegang karena keputusan lengser sudah diambil sehari sebelumnya.

“Kalaupun ada 'mercon’ kecil, itu adalah adanya pernyataan 'tidak jadi presiden tidak patheken',” katanya.

Dalam kesempatan itu, Soeharto sekali lagi menegaskan dirinya akan lengser. Next

Halaman 1 2

Akhiri hari anda dengan menyimak beragam informasi penting dan menarik sepanjang hari ini, di "Reportase Malam" pukul 01.30 WIB, hanya di Trans TV

(nwk/nrl)


Setelah eksekusi 6 terpidana mati narkoba, dua negara menarik duta besarnya. Bagaimana perkembangan terkini? Simak di sini.


Sponsored Link
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
ProKontra Index »

Penangkapan BW Adalah Balas Dendam Polri ke KPK

Banyak pihak yang mengecam penangkapan Wakil Ketua KPK Bambang Widjojanto (BW) oleh Bareskrim Polri. Bahkan, mantan Plt Pimpinan KPK Mas Ahmad Santosa berpendapat penangkapan oleh Polri terhadap BW merupakan tindakan balas dendam terkait penetapan tersangka Komjen Pol Budi Gunawan oleh KPK. Bila Anda setuju dengan Mas Ahmad Santosa, pilih Pro!
Pro
79%
Kontra
21%