detikcom
Sabtu, 20/04/2013 14:16 WIB

Ketika Mendikbud Menjawab Pentingnya UN ke Siswi SMU Palangkaraya

Danu Damarjati - detikNews
Palangkaraya - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan M Nuh mengikuti kunjungan silaturahmi Wakil Presiden Boediono ke SMA 1 Palangkaraya. Ada satu siswi yang mengutarakan kegelisahan lantaran khawatir menghadapi Ujian Nasional (UN).

"Katanya UN mau dibubarkan ya, Pak? Kita berjuang belajar selama tiga tahun, tapi ditentukan hanya dalam beberapa hari dalam UN," tanya siswi kelas XI SMA 2 Palangkaraya, Putri, di SMA 1 Palangkaraya, Jl AIS Nasution, Palangkaraya, Kalimantan Tengah, Sabtu (20/4/2013).

Pertanyaan itu disampaikan setelah Gubernur Kalimantan Tengah, Agustin Teras Narang membuka kesempatan bagi siswa untuk bertanya kepada Boediono atau M Nuh. Dari atas panggung, M Nuh menjawab.

"Kalau anak ditanya setuju nggak ada UN? Jawaban 90 persen pasti nggak setuju. Sama juga, ditanya setuju nggak ada ulangan? Pasti 90 persen nggak setuju. Maunya itu nggak pakai ulangan nggak pakai ujian, langsung lulus," jawab Nuh setengah berkelakar.

Lantas, mantan rektor ITS ini merujuk pada uraian Boediono sebelumnya, bahwa ujian negara itu sudah ada sejak zaman Nabi Konghucu, 2500 tahun lalu.

"Kata Pak Konfusius, nggak ada ceritanya sekolah nggak pakai ujian. Jadi, tetap pakai ujian," tegasnya.

Nuh menjelaskan, UN bukan satu-satunya komponen penentu kelulusan siswa. UN menempati 60 persen penentu. 40 persen sisanya adalah komponen penyelesaian program pendidikan, serta harus lulus ujian sekolah.

Nuh menasihati Putri agar tak perlu khawatir menghadapi UN, kelak. Nuh mengatakan, banyak permasalahan di kehidupan yang ditentukan hanya oleh sedikit bagian dari rangkaian perjuangan. Contohnya sepakbola, kemenangan bisa ditentukan di menit terakhir.

"Banyak perkara yang ketentuannya ditentukan dalam waktu hanya satu menit saja, bisa merubah smuanya. Persis seperti pertandingan sepak bola. Meski menang, menang, menang, tapi terakhir kena penalti, ya jadi selesai," ucapnya beranalogi.



Ikuti berbagai berita menarik hari ini di program "Reportase" TRANS TV yang tayang Senin sampai Jumat pukul 16.45 WIB

(dnu/rvk)



Sponsored Link
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
ProKontra Index »

Harga BBM Harus Naik

Terbatasanya kuota BBM bersubsidi berimbas pada langkanya BBM di sejumlah SPBU plus antrean panjang kendaraan. Presiden terpilih Jokowi mengusulkan pada Presiden SBY agar harga BBM dinaikkan. Jokowi mengatakan subsidi BBM itu harus dialihkan pada usaha produktif, ditampung di desa, UMKM, nelayan. Menurutnya anggaran subsidi jangan sampai untuk hal-hal konsumtif seperti mobil-mobil pribadi. Bila Anda setuju dengan Jokowi bahwa harga BBM harus naik, pilih Pro!
Pro
45%
Kontra
55%