detikcom
Jumat, 19/04/2013 09:19 WIB

Ini Penyebab Hujan Dua Hari di Jakarta

Prins David Saut - detikNews
Jakarta - Mungkin banyak yang bertanya kenapa Jakarta masih diguyur hujan dua hari belakangan ini. Ada yang mengira seharusnya saat ini Indonesia sudah memasuki musim panas. Namun, berdasarkan keterangan BMKG, saat ini Indonesia sedang memasuki masa transisi dari musim hujan ke musim panas.

Hujan deras yang melanda Jakarta pada Rabu (17/4) dan Kamis (18/4) kemarin dikarenakan adanya perbedaan suhu dan tekanan udara. Hujan yang membuat beberapa wilayah di Jabodetabek tergenang tersebut ditandai dengan suhu panas hingga siang hari.

"Masa transisi indikasinya biasanya secara alami pagi hingga siang udara cerah cukup panas, diikuti dengan pertumbuhan awan yang berpotensi hujan. Seperti awan berwarna abu-abu kehitaman yang muncul hari Rabu kemarin. Sedangkan yang hari Kamis itu intensitasnya sedang, tapi durasinya lama," ujar Kepala Subbid Informasi BMKG, Hary Tirtodjatmiko, saat berbincang dengan detikcom, Jumat (19/4/2013).

Masa transisi yang dimaksud adalah perpindahan musim hujan ke musim kemarau. Namun cuaca tidak berubah secara tiba-tiba, ada sebuah proses alamiah yang memakan waktu sekitar tiga bulan sebelum iklim benar-benar berganti.

"Masyarakat otomatis nanya ini, masuk musim kemarau belum? Kalau kondisi seperti itu apakah Jakarta sudah memasuki musim kemarau atau belum, lebih elegannya ada transisi di Maret, April, dan Mei. Kondisi saat ini transisi musim menuju kemarau," ujar Hary.

Hary menjelaskan hujan yang terjadi dua hari lalu dikarenakan kondisi cuaca yang bertekanan rendah di Samudera Hindia bagian barat Bengkulu dan pertemuan angin dengan massa udara yang berpotensi terjadi pembentukan awan hujan yang signifikan.

"Dilihat dari hasil analisis data curah hujan yang terjadi hari Rabu, itu cukup signifikan. Boleh dikatakan intensitasnya itu sangat lebat, dengan konsentrasinya di bagian selatan, sekitar Depok," ujar Hary.

"Yang hari Kamis kurang lebih sama, tapi relatif intensitasnya tidak sederas Rabu, tapi lama durasinya. Proses itu kan selain pola tekanan, juga ada suhu yang masih cukup hangat terutama disekitar Jawa Barat dan Sumatara bagian barat. Jadi ada penguapan cukup tinggi dan kondisi lokal yang cukup lembab. Itu yang berpotensi pembentukan awan hujan," tutup Hary.


Ikuti berbagai berita menarik hari ini di program "Reportase" TRANS TV yang tayang Senin sampai Jumat pukul 16.45 WIB

(vid/trq)



Sponsored Link
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
  • Minggu, 14/09/2014 14:52 WIB
    Lulung: Yang Penting Pak Ahok Manis Bicara, Ai Dukung
    Gb Haji Lulung mengaku sudah tidak ada masalah dengan Ahok yang bersuara keras soal kebobrokan DPRD jika pilkada tidak dilakukan langsung. Dia mengingatkan Ahok berhati-hati bicara sehingga tidak ada yang tersinggung.
ProKontra Index »

Harga BBM Harus Naik

Terbatasanya kuota BBM bersubsidi berimbas pada langkanya BBM di sejumlah SPBU plus antrean panjang kendaraan. Presiden terpilih Jokowi mengusulkan pada Presiden SBY agar harga BBM dinaikkan. Jokowi mengatakan subsidi BBM itu harus dialihkan pada usaha produktif, ditampung di desa, UMKM, nelayan. Menurutnya anggaran subsidi jangan sampai untuk hal-hal konsumtif seperti mobil-mobil pribadi. Bila Anda setuju dengan Jokowi bahwa harga BBM harus naik, pilih Pro!
Pro
46%
Kontra
54%