detikcom
QuickCount Persentase Sampel
  • 6,90%
  • 9,20%
  • 6,90%
  • 18,90%
  • 14,30%
  • 11,80%
  • 9,70%
  • 7,50%
  • 6,70%
  • 5,40%
  • 1,60%
  • 1,10%
  • Last Updated : Kamis, 10 April 2014 18:39 , Sumber : Cyrus Network dan CSIS
  • 6.67%
  • 9.44%
  • 6.61%
  • 18.65%
  • 14.86%
  • 11.40%
  • 10.26%
  • 7.60%
  • 6.52%
  • 5.41%
  • 1.60%
  • 0.97%
  • Last Updated : Sabtu, 19/04/2014 08:54 , Sumber : Radio Republik Indonesia
Rabu, 17/04/2013 00:04 WIB

Siapa Penyelenggara Negara yang Terkait Penangkapan KPK di Sentul?

Fajar Pratama - detikNews
Jakarta - KPK menangkap tujuh orang di rest area di Sentul, namun tak satupun di antara mereka yang berstatus sebagai penyelenggara negara. Padahal penyuapan atau tindak korupsi yang bisa diusut KPK harus melibatkan minimal satu orang penyelenggara negara. Lalu siapa pejabat yang terkait itu?

Sesuai dengan UU 30 Tahun 2002, jenis tindak pidana korupsi yang diusut KPK di antaranya disebutkan harus melibatkan penyelenggara negara, atau kasus yang menjadi perhatian masyarakat atau kasus yang mengakibatkan kerugian negara dengan jumlah kerugian satu miliar.

Merujuk pada penjelasan Jubir KPK Johan Budi mengenai dugaan motif suap dalam penangkapan tujuh orang tersebut, maka dua syarat terakhir di atas tidak relevan. Dengan kata lain, untuk dapat mengusut kasus penyuapan tersebut KPK harus menemukan keterlibatan unsur penyelenggara negara.

Terkait dengan hal tersebut Wakil Ketua DPRD Kabupaten Bogor, Wasto Sumarno sempat memberikan sinyal bahwa ada anggotanya ada yang ditangkap KPK. Seorang anggota DPRD di tingkat kabupaten termasuk dalam kategori penyelenggara negara.

Informasi dari Wasto itu dibantah oleh pihak KPK. Johan Budi menyatakan, dari tujuh orang yang ditangkap KPK, tidak ada yang berstatus sebagai penyelenggara negara.

Namun kabarnya, informasi yang dinyatakan oleh Wasto tersebut sebenarnya tidak sepenuhnya salah. Konon KPK memang mencurigai adanya peranan seorang anggota DPRD Bogor sebagai makelar tanah. Salah satu dari tujuh pria yang ditangkap KPK, diduga merupakan kaki tangan seorang anggota DPRD.

"Kami masih memiliki waktu 24 jam," jawab Johan diplomatis ketika dikonfirmasi mengenai hal tersebut.

KPK memang masih memiliki waktu 1 x 24 jam untuk menentukan status hukum tujuh orang terperiksa tersebut. Bukan tidak mungkin di menit-menit akhir nantinya KPK akan mengumumkan seorang penyelenggara negara yang dijadikan tersangka, persis seperti pada saat operasi penangkapan pada kasus suap impor daging.


Rayakan kasih sayang anda dengan coklat. tapi bagaimana kalau coklat tersebut ternyata rekondisi? Simak di Reportase Investigasi, Pukul 16.30 WIB Hanya di TRANS TV

(fjp/rvk)


Punya info seputar #LaluLintas? Jangan lupa kirim ke pasangmata.com .

Sponsored Link

Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
  • Kamis, 17/04/2014 12:31 WIB
    Dirut PT KCJ: Jangan Dulu Berharap Kereta Tepat Waktu
    Gb "PT KAI menggunakan track untuk kereta penumpang dan barang. Komuter di track yang sama. Dan jangan berharap ada ketepatan waktu jika rel digunakan bersama," kata Dirut PT KCJ Tri Handoyo.
ProKontra Index »

Bagi-bagi Kursi dan Menteri Itu Tidak Baik

Calon presiden PDIP Jokowi bertekad menguatkan sistem presidensial jika nanti terpilih. Jokowi menegaskan koalisi yang dibangunnya bukanlah koalisi bagi-bagi kursi dan jatah menteri. Dia mengatakan, yang akan diajak koalisi adalah partai-partai yang siap bekerja sama membangun bangsa dan negara tanpa meminta jatah kekuasaan. Bila Anda setuju dengan gagasan Jokowi, pilih Pro!
Pro
80%
Kontra
20%