detikcom
Selasa, 16/04/2013 16:06 WIB

Polisi Amankan Sabu Senilai Rp 1,2 M dari Penangkapan Buruh Marunda

Prins David Saut - detikNews
ilustrasi
Jakarta - Seorang buruh bergaji rendah di kawasan berikat Cilincing, Jakarta Utara ditangkap polisi karena memiliki dan mengkonsumsi narkoba jenis sabu. Yang mengejutkan, sabu yang dikonsumsi buruh tersebut termasuk kualitas terbaik dengan harga Rp 1 juta per gramnya.

"Pekerja di dalam ternyata upahnya minim, lalu dibelikan sabu. Ini sabu kan agak eksklusif, ternyata di level bawah ada yang menggunakan. Bayangkan kalau pelabuhan yang luas ini para pekerja menggunakan sabu kan pasti akan tidak terkendali operasionalnya," ujar Kapolres Pelabuhan Tanjung Priok, AKBP Asep Adi, di kantornya, Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Selasa (16/4/2013).

MT (37) ditangkap polisi di Rorotan, Cilincing, Jakarta Utara. MT yang sehari-hari menjadi buruh di Marunda ini ditangkap dengan barang bukti berupa 0,7 gram sabu. Dari MT, polisi kemudian melakukan pengembangan sehingga berhasil menangkap EP (37) rekan buruh MT, AR (37) yang bekerja sebagai wiraswasta, dan MC (39) pegawai swasta.

"MT tertangkap pada tanggal 7 April 2013, lalu dilakukan pengembangan. Pada hari yang sama, EP tertangkap dengan 0,5 gram sabu di rumahnya di Marunda, lalu AR tertangkap di Marunda dengan 3,74 gram sabu. Mereka bertiga mengarah ke MC yang menyimpan 1,2 Kg sabu di lemari pakaiannya di Rorotan Cilincing," ujar Kapolres.

Penangkapan ini berdasarkan laporan warga yang gerah dengan prilaku empat tersangka tersebut ketika bekerja. Polisi pun menyita 12 paket sabu seberat 1.221,27 gram atau 1,2 kg.

"Totalnya Rp 1,2 miliar. Turut disita uang tunai Rp 28 juta dari tangan MC, 1 unit timbangan digital, 1 buah sedotan berbentuk sendok kecil, dan seperangkat alat hisap sabu," ujar Asep.

"Sabu didapat dari Aceh, termasuk kualitas terbaik. Satu gramnya kurang lebih seharga Rp 1 juta. Kalau di pelabuhan baru bekisar di Marunda dan beberapa tempat di Pelabuhan Tanjung Priok," ujar Asep menambahkan.

Kini MT, AP, AR, dan MC akan dijerat pasal 114 subsider pasal 112 UU No 35 Tahun 2009 tentang narkotika. Polisi akan terus mengejar bandar di kalangan buruh pelabuhan tersebut, karena baru didapatkan pengedarnya.

"Ancaman hukumannya maksimal 20 tahun penjara," ujar Asep. Bandarnya masih kita kejar, mungkin mereka transaksinya di luar, penggunaannya di dalam pelabuhan. Ke depannya, regulasi akan lebih ketat terhadap sistem keluar masuk dan pelabuhan adalah areal bebas penggunaan narkotika," tutup Asep.

(vid/rmd)



Sponsored Link
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
ProKontra Index »

Pemprov DKI Larang Aplikasi Taksi Uber

Baru diluncurkan sepekan, aplikasi penghubung taksi Uber langsung mendapat respons negatif dari Pemprov DKI. Alasan pelarangannya, mulai dari tak ada izin, tak ada kantor, tak mengikuti tarif resmi, berpelat hitam sehingga dikhawatirkan merugikan konsumen. Bila Anda setuju dengan Pemprov DKI yang melarang aplikasi taksi Uber, pilih Pro! Bila tidak setuju pelarangan taksi Uber, pilih Kontra!
Pro
0%
Kontra
100%