detikcom
Senin, 04/02/2013 21:33 WIB

Laporan dari Jeddah

SBY: Saya & Keluarga Laporkan Pajak Sesuai Ketentuan, Tak Ada Penyimpangan

Arifin Asydhad - detikNews
Jakarta - Presiden SBY merespons berita mengenai pembayaran dan pelaporan pajak yang diberitakan The Jakarta Post. SBY menegaskan dirinya dan keluarganya patuh membayar pajak dan melaporkannya sesuai ketentuan. Tidak ada penyimpangan.

"Saya berterima kasih saya dikasih tempat untuk menjelaskan mengenai berita ini dan saya dengar ada sejumlah pihak yang mengadukan hal ini ke KPK," kata SBY menjawab pertanyaan wartawan dalam jumpa pers di Hotel Hilton, Jeddah, Senin (4/2/2013).

"Keluarga saya, yaitu saya sendiri, anak saya pertama Mayor Agus Harimurti dan anak kedua saya Edhi Baskoro adalah orang-orang yang patuh bayar pajak," tegas SBY.

Selama ini, selain patuh membayar pajak, SBY juga telah memberi contoh melaporkan harta kekayaan ke KPK. Laporan kekayaan ke KPK terus diupdate sesuai ketentuan.

"Saya melaporkan harta kekayaan sebelum menjabat presiden, kemudian pada saat tengah jabatan, dan di akhir jabatan presiden. Sudah dicek apakah pelaporan saya keliru atau tidak dan verifikasi juga telah dilakukan," terang SBY.

Dalam melaporkan pajak, menurut SBY, dirinya menjalani proses yang akuntabel. "Prosesnya akuntabel. Setelah mengisi kewajiban saya, tolong dicek petugas pajak, ada yang lebih, atau ada yang kurang," kata SBY.

Pengecekan selama ini, kata SBY, tidak ada penyimpangan dalam laporan pajak itu. "Setiap saat setelah dicek dan diperiksa, benar tidak ada penyimpangan. Dan itu saya dapat laporan dari Ditjen Pajak," ujar SBY.

Menurut SBY, kedua anaknya juga melakukan hal yang sama, termasuk menantunya, Anisa Pohan. "Anak saya Mayor Agus juga bayar pajak, sesuai ketentuan di TNI. Menantu saya, karena punya pendapatan dari bekerja sebagai presenter, model, membayar pajak secara terpisah. Sudah dicek dan diverifikasi Ditjen Pajak," tegas SBY.

Sementara Edhi Baskoro alias Ibas, lanjut SBY, karena sebagai anggota DPR juga melaporkan kekayaannya ke KPK dan melaporkan pembayaran pajak. Semua hal itu juga sudah diverifikasi.

"Dirjen Pajak sudah jelaskan, baik saya, maupun anak-anak saya sudah menyampaikan kewajibannya sesuai UU dan tidak ditemukan kesalahan apa pun," kata SBY.

Menurut SBY, sesuai laporan dari Ditjen Pajak, apa yang dimuat Jakarta Post tidak sama persis dengan data di Ditjen Pajak. "Tahunnya pun 2011. Sedangkan pelaporan pajak terbaru saya tahun 2012," jelas SBY.

"Poin saya, saya telah membayar pajak dengan sebenar-benarnya. Anak-anak saya pun melakukan hal itu," imbuh SBY.

Presiden SBY prihatin dengan munculnya berita yang menganggap dirinya tidak taat bayar pajak. "Harta saya tidak spektakuler, sementara banyak kasus, pihak yang punya uang triliunan atau ratusan miliar, ada ketidakberesan dalam membayar pajak. Ini juga soal keadilan," kata SBY.

Pada kesempatan itu, SBY juga menyinggung seorang politisi yang merupakan sahabatnya yang turut serta melaporkan tudingan kasus pajak dirinya dan keluarganya ke KPK. Menurut dia, sahabatnya itu pernah dilaporkan memiliki kasus besar. "Sehingga saat itu, saya tidak jadi memilih sahabat saya itu sebagai menteri," tegas dia.



Ikuti berbagai peristiwa hangat yang terjadi hari ini di "Reportase Sore", Pukul 16.30 WIB, Hanya di TRANS TV

(asy/ahy)





Sponsored Link

Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
ProKontra Index »

Jokowi Lebih Dahsyat Nyapres di 2019

Dalam berbagai survei, nama Gubernur DKI Jokowi menempati posisi teratas capres potensial 2014. Suara-suara yang menginginkan Jokowi maju menjadi Capres di Pilpres 2014 juga cukup kencang. Tetapi menurut peneliti politik senior LIPI, Siti Zuhro, Jokowi akan lebih kuat jika berkompetisi di Pilpres 2019. Bila Anda setuju dengan Siti Zuhro, pilih Pro!
Pro
34%
Kontra
66%