detikcom
Jumat, 21/09/2012 03:23 WIB

25 Persen Suara Mengambang PKS Penyumbang Suara Jokowi

Prins David Saut - detikNews
Jakarta - Partai Keadilan Sejahtera (PKS) mendukung pasangan calon gubernur Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli pada putaran ke dua pilgub DKI Jakarta. Namun berdasarkan hasil perhitungan quick count, pasangan tersebut kalah. Bagaimana dukungan PKS?

"Kita belum lihat penghitungan suara real utamanya, tapi ya kita yakini bahwa di survei-survei kita solid. Tapi massa mengambang kita ada yang ke Jokowi sekitar 25 persen," kata Wakil Ketua DPP PKS Wilayah Dakwah Banten, Jakarta, dan Jawa Barat, Yudi Widiana Adia kepada detikcom, Kamis (20/9/2012).

Yudi menjelaskan suara PKS mengambang tersebut bukan anggota partai mereka. Suara tersebut lebih didominasi oleh para pemilih muda yang menginginkan adanya perubahan di Jakarta.

"Bukan anggota, kecenderungannya usia antara usia muda 30-40 tahun itu ke Jokowi. Jadi lebih kepada mereka yang ingin perubahan ini, yang sudah merasakan dinamika kehidupan Jakarta ingin adanya perubahan. Tapi yang konstituen partai mengikuti arahan semua," ujar Yudi.

Menurut Yudi, suara massa mengambang PKS terpengaruh oleh informasi seputar pilgub DKI Jakarta 2012 yang beredar melalui berbagai media. "Kalau massa mengambang itu kan massa yang terpengaruh pemberitaan, bagi kita itu tidak pernah ditanggap sebagai suara yang fix. Jadi suara yang bisa lari kemana saja," terangnya.

Walau begitu, Yudi menilai suara anggota PKS di Jakarta masih mampu menyamai jumlah suara PDIP di Jakarta. Para anggota PKS sendiri melihat dua pasangan calon gubernur pilgub DKI Jakarta berdasarkan perubahan yang ingin dirasakan.

"Untuk DKI, suara kita masih kejar-kejaran dengan PDIP, jadi kita masih kokoh untuk partai. Massa PKS menganggap Foke dan Jokowi bukan PKS, jadi mereka lebih berharap pada perubahan," ujar Yudi.

Yudi pun menanggapi hasil quick count sebagai hasil sementara dengan metode penelitian, namun hasil KPU DKI Jakarta tetap ditunggu oleh PKS. "Kalau quick count kan metode ilmiah, jadi saya bisa memahami cara-cara itu. Dan apa yang dihasilkan oleh quick count tidak akan persis seperti hasil sesungguhnya," tutup Yudi.

(vid/rmd)





Sponsored Link

Komentar (0 Komentar)

    Silakan  atau daftar untuk mengirim komentar
    Tampilkan Komentar di:        

    Redaksi: redaksi[at]detik.com
    Informasi pemasangan iklan
    hubungi : sales[at]detik.com
    • Selasa, 14/05/2013 14:56 WIB
      50 Tahun Integrasi Irian Barat ke NKRI
      Tokoh Integrasi Papua Yahya Solosa: Riak Separatisme Memang Ada
      Gb Pada 1 Mei lalu bertepatan dengan 50 tahun integrasi Irian Barat (sekarang Papua) ke Indonesia. Namun pertanyaan saat ini tentunya adalah, selama setengah abad, adakah makna bergabungnya Papua ke wilayah Indonesia bagi masyarakatnya?
    ProKontra Index »

    Melawan KPK Jadi Bumerang Buat PKS

    PKS melakukan perlawanan ke KPK dengan akan melaporkan penyidik KPK ke Mabes Polri. Menurut konsultan politik Dimas Oky Nugroho dari Akar Rumput Strategic Political Consulting, aksi PKS ini justru akan menjadi bumerang, kehilangan simpati publik. Lebih baik, PKS tak ikut campur dalam kasus Luthfi Hasan Ishaaq. PKS bisa mencontoh partai lainnya bila berhadapan dengan KPK dengan melakukan pembersihan internal. Bila Anda setuju dengan pernyataan Dimas Oky Nugroho, pilih Pro!
    Pro
    46%
    Kontra
    54%
    Cari Penawaran Terbaik di Sini
    Info Promosi Travel