Rabu, 15/08/2012 08:56 WIB
Polisi Bukan Superman
Sangat repot tentunya apabila negara tanpa polisi, contoh ringan misal di jalan raya bakal menjadi kisruh ketika banyak pengemudi menyerobot rambu lalu lintas.
Apa saja tujuan berdirinya institusi Kepolisian? sebagaimana rumusan pasal 4 UU No 2 tahun 2002, memberikan isyarat bahwa substansi tujuan pokok didirikannya kepolisian ialah, Pertama: Memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat.
Kedua: Menegakkan hukum. Ketiga: Memberikan perlindungan, pengayoman dan pelayanan kepada masyarakat. (Bunga rampai ilmu kepolisian, Irjen Pol. Purn. Momo Kelana, M.si, 2002)
Dalam menghadapi dinamika kehidupan yang begitu komplek, tugas kepolisian memang tidaklah mudah. Perlu kesiapan lahir bathin agar kinerja kepolisian berjalan optimal.
Selama ini polisi sudah dipandang cukup miring oleh sebagian masyarakat karena kinerjanya yang mengecewakan, seperti halnya menyangkut kasus korupsi, suap menyuap, dsb. Bahkan Polisi 'paksa' harus bentrok dengan masyarakat pada beberapa kejadian.
Kini citra Kepolisian kembali tercoreng, setelah mencuat kasus rekening gendut, akhir-akhir ini muncul kasus korupsi simulator SIM. Kasus yang menjadi rumit ketika KPK dan POLRI berebut dalam penanganannya.
Pihak POLRI rela 'pasang badan', meski kasus rekening gendut sampai detik ini belum juga jelas juntrungannya.
Sebagaimana diberitakan, pada 27 Juli lalu KPK menetapkan Djoko Susilo, yang juga Gubernur Akademi Polisi Inspektur dan kawan-kawan sebagai tersangka kasus simulator SIM.
KPK menduga Djoko menyalahgunakan kewenangan dalam proyek berbiaya Rp 196 miliar itu sehingga menimbulkan kerugian negara puluhan miliar. (tempo online, 10/08)
POLRI juga menetapkan beberapa tersangka yang berasal dari institusi polri dan dari pihak swasta.
Dari kepolisian, diantaranya Wakil Kepala Korps Lalu Lintas (Korlantas) Polri Brigadir Jenderal (Pol) Didik Purnomo sebagai Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) proyek simulator SIM, Ketua Pengadaan Simulator SIM yakni AKBP Teddy Rusmawan, dan Bendahara Korlantas Polri seorang Kompol berinisial LGM.
Ditambah satu lagi seorang Bendahara Korlantas, yaitu Kompol inisial LGM. Dua lainnya adalah pemenang tender yakni, Direktur Utama PT Citra Mandiri Metalindo Abadi (PT CMMA) Budi Susanto dan Direktur Utama PT Inovasi Teknologi Indonesia (PT ITI) Sukoco S Bambang. (kompas.com, 02/08)
Banyak pihak merasa pesimis bahwa kasus ini dapat diselesaikan dengan baik.Seperti halnya kasus-kasus besar lainnya, setidaknya ada beberapa tembok penghalang untuk mengusut tuntas kasus. Diantaranya:
Pertama: Posisi tawar penegak hukum yang lemah. Lembaga pemberantasan korupsi seperti KPK adalah minim dukungan politik.
Politisi DPR, Fachri Hamzah justru pernah mengusulkan untuk membubarkan KPK, atau juga Beny K Harman, Ketua Komisi III DPR yang pernah menyebut KPK sebagai teroris gaya baru.
Maka hal ini membuat perumpamaan Cicak vs Buaya menjadi tepat ketika KPK harus menghadapi kasus yang melibatkan pihak bigpower.
Kedua: Timbul tenggelamnya desakan publik. Mandegnya penyelesaian kasus korupsi acapkali juga diakibatkan karena melemahnya desakan publik disebabkan sebuah kasus yang mudah reda ketika muncul kasus lain yang menjadi trending topik.
Ketiga: Penguasa yang lamban. Presiden terlihat kurang tegas dalam menyikapi kasus simulator SIM ini. Padahal sebagai pihak atasan dari kepolisian, Presiden bisa mengambil keputusan.
Misalnya memberikan komando kepada kepolisian supaya menyerahkan kasus ini kepada KPK agar kasus dapat segera diselesaikan.
Butuh Syariah Islam
Melihat fenomena bobroknya penegakkan hukum selama ini, maka pengusutan kasus simulator SIM maupun kasus-kasus korupsi lain yang merugikan banyak uang negara tersirat bakal sulit diusut tuntas.
Hal ini juga membuktikan ketidakmampuan hukum (sistem) sekulerisme ketika dijadikan landasan kehidupan berbangsa dan bernegara.
Karena itu, negri ini butuh sistem yang tangguh, tiada lain adalah sistem Islam. Sistem yang telah terbukti selama berabad-abad mampu melukiskan keindahan di kanvas peradaban dunia. Syariah Islam tidak akan sempurna penerapannya kecuali dengan berdirinya Khilafah.
Dalam Islam, hukum menjadi penting karena Allah telah mewajibkan siapapun untuk terikat pada aturan-aturan Allah, yang menjadi sumber hukum. Baik penguasa, polisi, maupun rakyat biasa.
Mereka juga memiliki persamaan di depan hukum, tidak pandang bulu orang biasa maupun pejabat sehingga tidak ada satupun pihak yang kebal hukum.
Syariah Islam memiliki seperangkat aturan hukum pidana yang keras untuk menimbulkan efek jera bagi pelaku, sekaligus solusi prefentif yakni mencegah bagi calon pelaku korupsi.
Pun sistem sanksi (berupa ta'zir) bertindak sebagai penebus dosa (al-jawabir), sehingga mendorong para pelakunya untuk bertobat dan menyerahkan diri.
Serta memiliki spirit ruhiah yang kental pada saat menjalankan hukum Islam, sehingga menjadikan mental satria pada aparat penegak hukum, termasuk juga Polisi.
Polisi bukanlah Superman, sosok fiktif yang selalu digambarkan sebagai pembela kebenaran. Namun Polisi merupakan figur nyata yang butuh syariah Islam, untuk menjadikannya selalu berada di jalur yang benar.
Polisi perlu pula waspada ketika membawa cemeti atau pentungan saat bertugas, janganlah mengikuti instruksi pemimpin dzalim untuk menyerang masyarakat seenaknya.
Sebab ada sebuah hadits Rasulullah Saw berbunyi: "Dua golongan penghuni neraka yang belum pernah aku lihat; kaum membawa cambuk seperti ekor sapi, dengannya ia memukuli orang. Dan wanita-wanita yang berpakaian (tapi) telanjang". (HR. Muslim)
Jelaslah bahwa polisi (Asy-Syurthah) harus menjadi pengawal kebenaran. Citra kepolisian yang sudah terlanjur negatif di tengah-tengah masyarakat, sudah saatnya dilakukan pembenahan menyeluruh di dalam tubuhnya. Kita yakin, masih banyak polisi yang baik, amanah dan profesional.
*Penulis adalah Analis CIIA (The Community Of Ideological Islamic Analyst)
Ali Mustofa
Ngruki, Cemani, Grogol, Sukoharjo
alie_jawi@yahoo.com
083866242539
(wwn/wwn)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Twitter Recommendation
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Opini Terbaru
Indeks Opini ยป
-
Jumat, 17/05/2013 08:56 WIB
KBT, Benahilah Sebelum Terlambat
-
Selasa, 14/05/2013 09:36 WIB
Jalan Layang dan Kemacetan
-
Selasa, 07/05/2013 12:42 WIB
Busway: Semestinya Lebih Baik
-
Senin, 06/05/2013 11:23 WIB
Muktamar Khilafah Untuk Indonesia Lebih Baik
-
Kamis, 02/05/2013 16:38 WIB
Sang Kartini
-
Selasa, 21/05/2013 12:52 WIB
Ini Dia Darin Mumtazah, Pelajar yang Dekat dengan Luthfi Hasan
-
Selasa, 21/05/2013 09:29 WIB
Ini Penyebab NN Tega Memotong Kelamin Abdul di Pamulang
-
Selasa, 21/05/2013 17:30 WIB
Kata Ibunda ke Tetangga: Biarin Darin Dikawinin, Daripada Dia Hidup Susah
-
Senin, 20/05/2013 14:05 WIB
4 Sentilan Pedas Sefti terhadap Selingkuhan Fathanah
-
Selasa, 21/05/2013 17:15 WIB
Kisah Keluarga Darin yang Berubah Drastis Setelah Mengenal Luthfi
-
Selasa, 21/05/2013 21:09 WIB
Ini Reaksi Luthfi Hasan Saat Ditanya Soal Darin Mumtazah
-
Selasa, 21/05/2013 15:23 WIB
Luthfi Kerap Bertandang ke Rumah Darin dengan VW Caravelle dan Mazda Putih
-
Selasa, 21/05/2013 08:25 WIB
Luthfi Jelaskan Pushtun, Suku di Pakistan yang Wanitanya Terkenal Cantik
-
359 Komentar
-
238 Komentar
-
229 Komentar
-
211 Komentar
-
210 Komentar
-
210 Komentar
-
175 Komentar
-
162 Komentar
-
Selasa, 21/05/2013 11:43 WIB
15 Tahun Reformasi
Emha Ainun Nadjib: Reformasi Itu Omong Kosong
Budayawan Emha Ainun Nadjib berada di pusaran arus perubahan kekuasaan 1998. Dia adalah salah satu tokoh yang dengan lantang meminta Presiden Soeharto mengundurkan diri dari jabatannya. Tapi reformasi yang terjadi sampai saat ini, kata dia, palsu belaka. Mengapa?
ProKontra
Index »
Usut Aiptu Labora, Polri Jangan Ciut Usut Rekening Gendut Jenderal
Pro
Kontra
Cari Penawaran Terbaik di Sini
Info Promosi Travel
- Rp 2,845.000
- Rp .000
MustRead
close
-
Selasa, 21/05/2013 16:52 WIB
Darin Mumtazah dan Keluarga Kontrak Rumah di Jatinegara Rp 75 Juta/Tahun
-
Selasa, 21/05/2013 16:07 WIB
Elite PKS Tak Tahu Hubungan Darin Mumtazah dan Luthfi Hasan
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Health News · Sexual Health · Diet · Ibu & Anak · Konsultasi · Health Calculator · Foto Balita · Bank Nama Bayi
- detikTravel · Travel News · Destinations · Photos · d'Trips · Hotels · Flights · ACI · d'Travelers Stories
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Pedoman Media Siber · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer








_5.gif)






Kenikmatan nasi goreng khas Indonesia juga tak bisa disangkal Mikhail Kouritsyn. Setiap mampir ke Indonesia, orang Rusia ini takkan lupa menyantapnya.
Dalam Forum Newsmaker Thomson Reuters di Singapura, beberapa waktu lalu, SBY lebih memilih pembangunan yang tak melulu tergantung pada sistem kapitalisme (pasar bebas) atau sosialisme (anti pasar). Jalan ketiga yang menjadi antithesis dari keduanya dianggap SBY lebih pas untuk konteks Indonesia.
