detikcom
Minggu, 22/07/2012 10:13 WIB

Indonesia Diminta Turut Perhatikan Nasib Suku Rohingya di Myanmar

Prins David Saut - detikNews
foto: Tim ACT untuk Rohingya
Jakarta - Suku Rohingya di Myanmar masih mendapatkan teror dan penindasan selama 20 tahun lebih. Sejumlah upaya dilakukan agar dunia internasional dan Indonesia memperhatikan hal tersebut.

"Kami mengimbau dunia internasional, terutama dalam momentum Ramadan ini, dunia Islam berbuat sesuatu yang lebih tegas untuk meminimalisasi ekses kekerasan di Myanmar. Perserikatan Bangsa Bangsa sudah saatnya menggelar Sidang Khusus mengingat krisis ini menyengsarakan ratusan ribu orang. Indonesia sebagai negara besar di ASEAN juga harus berbuat karena etnik Rohingya ini ada di kawasan ini," kata Vice Presiden Aksi Cepat Tanggap (ACT), Imam Akbari, melalui rilis yang diterima detikcom, Minggu (22/7/2012).

Suku Rohingya merupakan suku yang menganut agama Islam di Myanmar. ACT mengaku telah bergerak sejak 2009 dalam memperjuangkan hak suku Rohingya.

"Kami sudah membantu mereka tahun 2009. Isu Rohingya ternyata eskalatif, bukan mereda malah makin parah," ungkap Imam.

Imam menjelaskan ACT telah membentuk tim khusus dalam upaya memasukan pengungsi dari suku Rohingya ke Indonesia. Mereka mencatat pengungsi Rohingya telah berada di Aceh bahkan Bogor.

"Insya Allah dalam Ramadan ini juga, ACTion Team for Rohingya bisa ke Bangladesh. Namun kami tidak semata-mata menanti izin itu, tetapi menggerakkan relawan mendeteksi pengungsi Rohingya yang masuk wilayah kita," jelas Imam yang mendapat mandat memimpin Global Humanity Response (GHR).

Pengungsi Rohingya di Bogor diketahui berjumlah 12 orang dan mungkin lebih. Salah satu relawan ACT mengharapkan dukungan kemanusiaan.

"Jumlahnya menurut informasi sementara, ada 12 orang. Besar kemungkinan, jumlahnya di atas itu. Untuk menolong mereka, Badan Amil Zakat Daerah (Bazda) Bogor siap mendukung aksi kemanusiaan ACT melalui Komite Indonesia Peduli Rohingya dan Suriah (Kiprah)," jelas anggota ACT, Lutfi, dalam rilis yang sama.

Informasi resmi dalam rilis tersebut menyebutkan sebanyak 55 warga Myanmar ditemukan terdampar di perairan Bluka Tubai, Krueng Geukuh, Aceh Utara (1/2). Petugas imigrasi dan Pemda Aceh Utara kemudian mengevakuasi mereka ke tempat penampungan sementara di bekas kantor imigrasi di Peunteut, Blang Mangat, Lhokseumawe, Aceh. Pihak Imigrasi dan Pemda Aceh Utara mengirimkan pengungsi tersebut ke Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim) pusat di Tanjung Pinang, Kepulauan Riau.


Ikuti berbagai peristiwa hangat yang terjadi hari ini di "Reportase Sore", Pukul 16.30 WIB, Hanya di TRANS TV

(vid/vit)





Sponsored Link
Silakan  atau daftar untuk mengirim komentar
Tampilkan Komentar di:        

Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
ProKontra Index »

Jokowi Lebih Dahsyat Nyapres di 2019

Dalam berbagai survei, nama Gubernur DKI Jokowi menempati posisi teratas capres potensial 2014. Suara-suara yang menginginkan Jokowi maju menjadi Capres di Pilpres 2014 juga cukup kencang. Tetapi menurut peneliti politik senior LIPI, Siti Zuhro, Jokowi akan lebih kuat jika berkompetisi di Pilpres 2019. Bila Anda setuju dengan Siti Zuhro, pilih Pro!
Pro
34%
Kontra
66%