Rabu, 18/07/2012 12:23 WIB

Profesor AS Prediksi Internet 'Bunuh' Media Cetak Indonesia 10 Tahun Lagi

Nograhany Widhi K - detikNews
Melinda McAdams (dok Kedubes AS)
Jakarta - Melinda McAdams, profesor di bidang jurnalisme online dan media sosial dari University of Florida, Amerika Serikat (AS), memperkirakan media cetak di Indonesia akan bertahan paling tidak 10 tahun lagi. Gantinya, semua versi cetak dari media itu akan berpindah ke internet.

"Internet membunuh media cetak? Ya, karena iklan mereka menurun, pembaca mereka menurun," jawab McAdams saat mendapat pertanyaan dari salah satu wartawan apakah media online akan membunuh media cetak.

Hal dikatakan McAdams dalam sesi tanya-jawab dalam Media Workshop tentang Journalism in an Interconnected World & Social Media and Professional Use of Twitter yang digelar Kedubes AS di Pusat Kebudayaan Amerika @america di Pacific Place, SCBD, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Selasa (17/7/2012) sore kemarin.

Perempuan yang populer dipanggil Mindy ini mencontohkan perusahaan koran yang cukup tua di Inggris, The Guardian, bahkan sudah menutup versi cetaknya dan beralih dalam bentuk digital semua. Petinggi koran New York Times, menurut McAdams akan mempertahankan versi cetak paling tidak 5 tahun ke depan, sebelum beralih menjadi koran online.

"Kalau di sini, mungkin koran-koran cetak masih bisa meraih iklan, tapi setidaknya 10 tahun mendatang mereka mulai akan kehilangan pendapatan. Jurnalisme kebanyakan sekarang ada di internet," papar McAdams yang pernah berkarier menjadi jurnalis di Washington Post ini.

McAdams juga memaparkan, memang tidak semua orang terhubung ke internet. Pada awalnya, koneksi ke internet mahal dan susah dijangkau semua orang. Namun makin hari koneksi internet makin murah, orang bisa mengaksesnya dari komputer pribadi atau melalui telepon selular.

McAdams juga menjelaskan ada perubahan besar di dunia media. Dulu media hanya bisa memberikan informasi satu arah, namun kini dengan teknologi internet, tidak bisa memberikan informasi satu arah lagi. Ada user generated content di mana pembaca bisa berkomentar, memberikan umpan balik, bahkan bisa menjadi narasumber atau membuat berita sendiri.

Sumber informasi juga berlimpah, termasuk dari media sosial seperti Facebook dan Twitter. Tidak semua informasi benar. Sebagai jurnalis, tidak bisa menelan informasi itu mentah-mentah, namun bisa menggunakannya sebagai latar belakang dan mengkonfirmasinya kepada sumber resmi seperti pejabat pemerintah atau lembaga lain.


(nwk/nrl)





Sponsored Link

Komentar (0 Komentar)

    Silakan  atau daftar untuk mengirim komentar
    Tampilkan Komentar di:        

    Redaksi: redaksi[at]detik.com
    Informasi pemasangan iklan
    hubungi : sales[at]detik.com
    • Selasa, 14/05/2013 14:56 WIB
      50 Tahun Integrasi Irian Barat ke NKRI
      Tokoh Integrasi Papua Yahya Solosa: Riak Separatisme Memang Ada
      Gb Pada 1 Mei lalu bertepatan dengan 50 tahun integrasi Irian Barat (sekarang Papua) ke Indonesia. Namun pertanyaan saat ini tentunya adalah, selama setengah abad, adakah makna bergabungnya Papua ke wilayah Indonesia bagi masyarakatnya?
    ProKontra Index »

    Usut Aiptu Labora, Polri Jangan Ciut Usut Rekening Gendut Jenderal

    Polisi sangat blak-blakan mengungkap kasus rekening gendut yang dimiliki oleh Anggota Polres Raja Ampat, Papua, Aiptu Labora Sitorus. Komisioner Kompolnas, Hamidah Abdurahman mengatakan Polri juga harus terbuka dan berani jika itu menyangkut rekening para jendral. Bila Anda setuju dengan pernyataan Hamidah Abdurahman, pilih Pro!
    Pro
    100%
    Kontra
    0%
    Cari Penawaran Terbaik di Sini
    Info Promosi Travel