Beberapa lembaga survei mencatat kemenangan sementara kepada pasangan Calon Gubernur Joko Widodo (Jokowi) dan wakilnya Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dalam Pemilukada 2012. Pengamat Politik Andrinof Chaniago menilai, kemenangan sementara yang diperoleh pasangan nomor tiga itu sebagai buah dari serangan agresif calon gubernur dan wakilnya, Fauzi Bowo (Foke) dan Nachrowi Ramli (Nara).
"Ini merupakan sebuah bentuk hukum sosial, dimana yang satu pihak menggunakan cara agresif menyerang dalam kampanye namun kemudian serangan tersebut berbalik memukul sendiri. Hemat saya ini adalah senjata makan tuan," kata Andrinof saat berbincang dengan detikcom, Rabu (11/7/2012).
Pengamatan Andrinof, dalam perjalanan kampanyenya, pasangan incumbent terus mengecilkan peran pasangan Jokowi-Ahok. Bukan hanya itu, dalam kampanye putaran akhir pasangan tersebut, kata Andrinof, mengeluarkan kata-kata yang tidak seharusnya disampaikan oleh seorang calon pemimpin.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, dari serangan-serangan itu publik mulai tergerak untuk mengetahui sosok yang diserang tersebut.
Menurutnya, Jokowi berhasil menarik simpati publik dengan kredibilitas yang telah dilakukannya. Dia mencontohkan Jokowi yang berhasil memimpin Kota Solo dengan anggaran yang terbatas, seperti pembangunan 14 pasar tradional selama kepemimpinannya.
Padahal, imbuhnya, sebelum memimpin sebuah pemerintahan kota Jokowi tidak memiliki dasar sama sekali memimpin pemerintahan. Ini berbeda dengan beberapa calon lainnya yang sudah banyak makan asam garam di kursi birokrasi.
"Intinya adalah soal kepemimpinan, kecerdasan, kepribadian, dan tidak ketinggalan adalah kecerdasan emosional," jelasnya.
(ahy/ahy)











































