Jumat, 06/07/2012 17:41 WIB

Kolom Djoko Suud

Prabowo Ambil JK, Puan Atau Dahlan?

Djoko Suud - detikNews
Jakarta - Jusuf Kalla (JK) dinominasikan dampingi Prabowo. Calon lain yang dimunculkan adalah Mahfud MD. Bagaimana dengan Puan dan Dahlan Iskan? Adakah ini cara memecah atau hanya sekadar menggoda Ical dan Partai Golkar?

Partai Gerindra mulai 'usil'. Melalui Sekjennya, Ahmad Muzani, partai ini akan menduetkan JK dengan Prabowo Subianto dalam pilpres mendatang. Selain dalam banyak sigi Prabowo diunggulkan, dalam survei capres-cawapres pun pasangan ini tertinggi.

Survei itu layak menempatkan keduanya dalam urutan teratas. Sebab yang sudah memunculkan diri siap bertarung dalam pilpres 2014 nanti baru dua calon. Pertama adalah Partai Gerindra yang sejak dini mengusung Prabowo sebagai capres, dan Partai Golkar dengan Aburizal Bakrie (Ical).

Aklamasi Partai Golkar mengangkat Ical menjadi calon tunggal capres partai ini telah menghilangkan tradisi konvensi. Langkah itu memecah internal partai ini. Banyak tokoh yang 'sakit hati'. Bukan hanya merasa ditelikung agar kans ikut bertarung tertutup, tapi juga ada yang berpendapat, bahwa tradisi demokrasi itu kini 'dimonarkiskan'.

JK dianggap sebagai salah satu tokoh Partai Golkar yang 'sakit hati'. Mantan ketum Partai Beringin yang popularitasnya tidak surut itu lantang bersuara. Gelagat JK yang kurang sepaham itu ditangkap partai lain. Beberapa partai mulai melirik Ketua PMI itu untuk ditarik. Kini Partai Gerindra terang-terangan meminangnya untuk dipasangkan dengan Prabowo.

Peminangan JK hanyalah mengail di air keruh. Partai Golkar yang bermasalah dengan deklarasi Ical serta kadernya yang tersandung korupsi pengadaan Alquran jadi magnet untuk ditengok dan dilongok siapa saja. Situasi ini yang dimanfaatkan Gerindra untuk kian mengenalkan diri pada khalayak.

Gerindra sebenarnya sudah punya pilihan hati untuk dipasangkan Prabowo. Bukan JK atau Mahfud MD yang sudah digulirkan ke permukaan. Pilihan itu adalah Puan Maharani dan Dahlan Iskan. Problemnya, yang pertama masih menunggu Megawati Soekarnoputri 'nyapres' atau tidak, dan tokoh kedua ditunggu 'keseriusannya' ikut berlaga untuk menuju istana.

Pilihan ini tidak salah. PDIP merupakan partai yang konstituennya konstan. Kultus Bung Karno menjadi perekat. Slogan sebagai partainya wong cilik kuat untuk mengikat akar rumput. Dan itu yang membuat partai ini grafiknya stabil, malah cenderung meningkat di situasi politik sekarang.

Dahlan Iskan tak kalah moncer. Menteri BUMN yang juga bos Jawa Pos Group ini performanya terus meningkat. Gebrakannya berdampak positif baginya. Tokoh ini di mana-mana dielu-elukan. Dan di mana-mana pula digadang-gadang agar ikut tampil mengelola negeri ini.

Dahlan Iskan memang tidak bernaung di partai politik. Tapi jaringan medianya yang berjumlah ratusan tersebar hampir di tiap kabupaten negeri ini. Itu sudah lebih dari cukup untuk menunjukkan kekuatannya. Dahlan Iskan hampir sama dengan 'Ketua Umum Lintas Partai'. Dia mampu menggerakkan wartawan dari Sabang sampai Merauke.

Jika dihitung-hitung, maka kekuatan JK untuk menggerogoti Partai Golkar tidak sepadan dengan kekuatan Puan Maharani maupun Dahlan Iskan. Apalagi untuk pilpres, Golkar tidak digerogoti pun sudah tergerogoti dengan sendirinya. Itu berdasar pengalaman yang sudah-sudah. Benarkah Puan Maharani atau Dahlan Iskan yang akan dipinang Prabowo?

Pemilu masih lama. Segalanya masih bisa berubah. Termasuk kemunculan capres lain yang akan meramaikan pesta demokrasi lima tahunan ini.


Budayawan, menetap di Jakarta

(nrl/nrl)





Sponsored Link

Komentar (0 Komentar)

    Silakan  atau daftar untuk mengirim komentar
    Tampilkan Komentar di:        

    Redaksi: redaksi[at]detik.com
    Informasi pemasangan iklan
    hubungi : sales[at]detik.com
    Kolom Terbaru Indeks Kolom ยป
    • Selasa, 14/05/2013 14:56 WIB
      50 Tahun Integrasi Irian Barat ke NKRI
      Tokoh Integrasi Papua Yahya Solosa: Riak Separatisme Memang Ada
      Gb Pada 1 Mei lalu bertepatan dengan 50 tahun integrasi Irian Barat (sekarang Papua) ke Indonesia. Namun pertanyaan saat ini tentunya adalah, selama setengah abad, adakah makna bergabungnya Papua ke wilayah Indonesia bagi masyarakatnya?
    ProKontra Index »

    Usut Aiptu Labora, Polri Jangan Ciut Usut Rekening Gendut Jenderal

    Polisi sangat blak-blakan mengungkap kasus rekening gendut yang dimiliki oleh Anggota Polres Raja Ampat, Papua, Aiptu Labora Sitorus. Komisioner Kompolnas, Hamidah Abdurahman mengatakan Polri juga harus terbuka dan berani jika itu menyangkut rekening para jendral. Bila Anda setuju dengan pernyataan Hamidah Abdurahman, pilih Pro!
    Pro
    100%
    Kontra
    0%
    Cari Penawaran Terbaik di Sini
    Info Promosi Travel