detikcom
Minggu, 01/07/2012 21:01 WIB

Maruarar Sirait: PDIP Tak Bercita-cita Jadi Partai Oposisi Seumur Hidup

Prins David Saut - detikNews
Jakarta - Golkar sudah mendeklarasikan Ketua Umum Aburizal Bakrie untuk menjadi calon presiden pada 2014. PDIP menanggapi dengan slow tidak ikut-ikutan mempercepat pencapresan. Karena bagi PDIP, tahun ini adalah tahun kaderisasi untuk mencapai cita-cita menjadi partai pemerintahan.

"Karena kita mau konsentrasi, tahun ini tahun kaderisasi. Kaderisasi nasional, kaderisasi wanita dan pemuda. Dan juga membuat program yang bersentuhan langsung dengan rakyat, jadi kita ingin menjelaskan bahwa memang kita melihat, karena kita tidak bercita-cita seumur hidup jadi oposisi, tapi jadi partai pemerintah dengan cara memenangkan pemilih," kata Maruarar Sirait.

Hal itu disampaikan Maruarar di sela-sela kampanye akbar untuk Jokowi-Ahok di Parkir Timur, Senayan, Jakarta, Minggu (1/7/2012). Berikut wawancara lengkap wartawan dan Ara, panggilan akrab Maruarar:

Bagaimana soal pencapresan Ical?

Tadi sekjen Golkar (Idrus Marham) telepon saya, jam 15.00 WIB di Sentul, mengundang untuk hadir di sana. Saya menghormati setiap calon presiden, apakah itu Pak Ical, apakah itu Pak Prabowo, saya hormati. Kalau saya pribadi, walau partai saya belum memutuskan, betul Ibu Mega sudah dua kali belum berhasil, betul ibu Mega sudah senior walaupun Pak JK dan Pak Ical lebih tua umurnya. Tapi juga realitasnya kalau partai PDIP bersaingnya dengan Golkar, harus jujur ya coba saja cek survei.

Tapi kalau partai untuk presiden kita juga harus jujur, artinya faktanya pada saat PDIP belum menetapkan capres, Ibu Mega belum berkampanye, Ibu Mega surveinya paling tinggi. Lihat saja survei LSI, Indobarometer, CSI. Saya melihat sendiri, dan survei itu bukan dibiayai PDIP atau Ibu Mega. Saya kira isu tua muda sudah tidak laku lagi, artinya sekarang yang dilihat siapa yang bisa menyelesaikan masalah bangsa.

Apa saja masalahnya?

Masalah bangsa ada tiga, satu ekonomi. Betul makro, Pak SBY makro bagus tapi tidak berkualitas dan tidak berkeadilan. Buktinya pemerataan kurang, kesenjangan tinggi. Sektor riil kurang bergerak, yang paling banyak bergerak sektor industri seperti otomotif dan telekomunikasi.

Kedua hukum, hukum masih tebang pilih. Century mana? BLBI mana? Mafia pajak mana?

Ketiga yang sangat memperihatinkan sebagai bangsa Pancasilais adalah pluralisme. Begitu banyak kekerasaaan atas nama agama dan suku.

Menurut saya, pemimpin ke depan dengan bantuan media, harus bisa menjawab tiga persoalan itu. Sehingga tidak pilih kucing dalam karung.

Kenapa PDIP belum menunjuk capresnya?

Karena kita mau konsentrasi, tahun ini tahun kaderisasi. Kaderisasi nasional, kaderisasi wanita dan pemuda. Dan juga membuat program yang bersentuhan langsung dengan rakyat, jadi kita ingin menjelaskan bahwa memang kita melihat, karena kita tidak bercita-cita seumur hidup jadi oposisi, tapi jadi partai pemerintah dengan cara memenangkan pemilih.

Ical jadi capres pengaruhnya apa?

Tidak ada, kita mengucapkan selamat ke Pak Ical. Selamat berjuang, mari kita bersaing dengan sehat. Saya rasa semua pesaing berat. Pak Ical didukung partai besar pak Prabowo juga bagus, silakan mari kita bersaing dengan sehat dan adil.

Kita ini negarawan dan sportivitas dibangun. Kita tetap bersahabat, mari kita walau berbeda ayo berkawan baik.

(nwk/vit)





Sponsored Link

Komentar (0 Komentar)

    Silakan  atau daftar untuk mengirim komentar
    Tampilkan Komentar di:        

    Twitter Recommendation
    Redaksi: redaksi[at]detik.com
    Informasi pemasangan iklan
    hubungi : sales[at]detik.com
    Wawancara Terbaru Indeks Wawancara ยป
    • Rabu, 22/05/2013 08:47 WIB
      Salim Segaf Galau Melihat Kondisi PKS
      Gb Salim Segaf Al Jufri, anggota Majelis Syuro PKS, mengaku prihatin dengan kondisi partainya saat ini. Salim mengingatkan semua kader PKS kembali berpolitik bersih dan tidak berurusan dengan kasus korupsi.
    ProKontra Index »

    Usut Aiptu Labora, Polri Jangan Ciut Usut Rekening Gendut Jenderal

    Polisi sangat blak-blakan mengungkap kasus rekening gendut yang dimiliki oleh Anggota Polres Raja Ampat, Papua, Aiptu Labora Sitorus. Komisioner Kompolnas, Hamidah Abdurahman mengatakan Polri juga harus terbuka dan berani jika itu menyangkut rekening para jendral. Bila Anda setuju dengan pernyataan Hamidah Abdurahman, pilih Pro!
    Pro
    56%
    Kontra
    44%
    Cari Penawaran Terbaik di Sini
    Info Promosi Travel
    • Rp .000
    • Rp .000
    MustRead close