Ada Penyerangan di RSPAD, Polisi Perlu Evaluasi Besar-besaran
Jumat, 24/02/2012 07:44 WIB
Jakarta
Kelompok orang bersamurai dan berparang yang menyerang kelompok lainnya di RSPAD Gatot Subroto sepertinya tidak memiliki rasa takut. Penyerangan dilakukan di RS tentara yang tidak jauh dari kantor polisi. Untuk itu, perlu evaluasi besar-besaran di tubuh korps Bhayangkara.
"Polisi harus dievaluasi besar-besaran. Kok kelompok itu bisa lolos seperti dibiarkan. Apapun, siapapun, ini premanisme. Premanisme ini menakutkan, meski tidak berniat menakuti masyarakat luas. Bahkan mereka tidak takut beraksi di RS tentara sehingga masyarakat akan merasa seolah tidak ada tempat aman," ujar Koordinator Indonesia Crime Analyst Forum (ICAF), Mustafa B Nahrawardaya, dalam perbincangan dengan detikcom, Jumat (24/2/2012).
Menurut dia ada yang aneh dalam peristiwa penyerangan itu. Pertama, tidak takutnya pelaku melakukan penyerangan yang merupakan bagian dari tentara. Kedua, kedatangan iring-iringan pelaku tidak terendus polisi.
"Nah ini polisi tidak tahu atau sengaja membiarkan mereka. Pergerakan massa ini seharusnya bisa dibaca polisi, sehingga polisi juag bisa bergerak cepat. Bukan bergerak setelah peristiwa terjadi," sambung Mustafa.
Dia berpendapat sekelompok orang bisa melakukan kejahatan di tempat yang mereka tuju tanpa rasa takut jika merasa aman. Karena itu dia menangkap kesan pembiaran dari aparat.
"Ini sebenarnya sangat memalukan. Terjadi di RS tentara yang tidak jauh dari kantor polisi. Bayangkan, terjadi di depan hidung aset milik negara," imbuhnya.
Mustafa mengingatkan pesan Presiden SBY agar tidak membiarkan kejanggalan yang dapat berujung apada aksi anarkisme. Karena itu polisi ditutut bergerak lebih cepat dan lebih tegas agar tidak memunculkan kesan pembiaran.
"Kalau tidak, preman akan semakin berani membunuh di tempat terbuka. Waktu itu di Ampera, depan pengadilan. Sekarang di RS tentara. Kalau dibiarkan bukan tidak mungkin mereka berani beraksi di Mabes Polri," tuturnya.
Seperti diketahui, puluhan orang tiba-tiba menyerang kerumah duka RSPAD Gatot Subroto, Jakarta Pusat, Kamis (23/2) dini hari. Para pelaku menyerang kelompok korban dengan senjata tajam.
Dua orang tewas dalam peristiwa tersebut. Sementara empat lainnya mengalami luka berat dan luka ringan. Para korban saat itu tengah melayat keluarganya yang meninggal di RSPAD karena sakit kanker.
Tidak butuh waktu lama, polisi langsung mengamankan 7 orang pasca kejadian itu. Tiga orang di antaranya telah ditetapkan sebagai tersangka.
(vit/vit)
"Polisi harus dievaluasi besar-besaran. Kok kelompok itu bisa lolos seperti dibiarkan. Apapun, siapapun, ini premanisme. Premanisme ini menakutkan, meski tidak berniat menakuti masyarakat luas. Bahkan mereka tidak takut beraksi di RS tentara sehingga masyarakat akan merasa seolah tidak ada tempat aman," ujar Koordinator Indonesia Crime Analyst Forum (ICAF), Mustafa B Nahrawardaya, dalam perbincangan dengan detikcom, Jumat (24/2/2012).
Menurut dia ada yang aneh dalam peristiwa penyerangan itu. Pertama, tidak takutnya pelaku melakukan penyerangan yang merupakan bagian dari tentara. Kedua, kedatangan iring-iringan pelaku tidak terendus polisi.
"Nah ini polisi tidak tahu atau sengaja membiarkan mereka. Pergerakan massa ini seharusnya bisa dibaca polisi, sehingga polisi juag bisa bergerak cepat. Bukan bergerak setelah peristiwa terjadi," sambung Mustafa.
Dia berpendapat sekelompok orang bisa melakukan kejahatan di tempat yang mereka tuju tanpa rasa takut jika merasa aman. Karena itu dia menangkap kesan pembiaran dari aparat.
"Ini sebenarnya sangat memalukan. Terjadi di RS tentara yang tidak jauh dari kantor polisi. Bayangkan, terjadi di depan hidung aset milik negara," imbuhnya.
Mustafa mengingatkan pesan Presiden SBY agar tidak membiarkan kejanggalan yang dapat berujung apada aksi anarkisme. Karena itu polisi ditutut bergerak lebih cepat dan lebih tegas agar tidak memunculkan kesan pembiaran.
"Kalau tidak, preman akan semakin berani membunuh di tempat terbuka. Waktu itu di Ampera, depan pengadilan. Sekarang di RS tentara. Kalau dibiarkan bukan tidak mungkin mereka berani beraksi di Mabes Polri," tuturnya.
Seperti diketahui, puluhan orang tiba-tiba menyerang kerumah duka RSPAD Gatot Subroto, Jakarta Pusat, Kamis (23/2) dini hari. Para pelaku menyerang kelompok korban dengan senjata tajam.
Dua orang tewas dalam peristiwa tersebut. Sementara empat lainnya mengalami luka berat dan luka ringan. Para korban saat itu tengah melayat keluarganya yang meninggal di RSPAD karena sakit kanker.
Tidak butuh waktu lama, polisi langsung mengamankan 7 orang pasca kejadian itu. Tiga orang di antaranya telah ditetapkan sebagai tersangka.
(vit/vit)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru
Indeks Berita »
-
Rabu, 23/05/2012 01:26 WIB
Ungkap Kasus Korupsi Indosat, Kejagung Periksa Pejabat Kemenkominfo
-
Rabu, 23/05/2012 01:16 WIB
Jakarta Harus Bisa Jadi Kota Jasa Bertaraf Internasional
-
Rabu, 23/05/2012 01:10 WIB
Istana Bantah Ibu Ani akan Kunjungi Situs Gunung Padang
-
Rabu, 23/05/2012 00:14 WIB
Perusahaan Bakrie di Jambi Minta Perusakan Kamp Karyawan Diusut
-
Selasa, 22/05/2012 23:08 WIB
Kabupaten OKI Terpilih Sebagai Jaringan Kota Hijau Dunia
-
Selasa, 22/05/2012 16:09 WIB
Gara-gara Lady Gaga, Ruhut & 2 Aktivis Muslim Adu Mulut Sengit
-
Selasa, 22/05/2012 12:32 WIB
Ayahanda Korban Sukhoi: Susana Tetap Manis & Cantik
-
Rabu, 23/05/2012 00:48 WIB
Ada Penumpang Mencurigakan, Pesawat Tujuan Charlotte Dialihkan
-
Selasa, 22/05/2012 12:05 WIB
Keluarga Tampak Tabah Usai Melihat Jasad Korban Sukhoi
-
678 Komentar
-
451 Komentar
-
227 Komentar
-
225 Komentar
Lapsus
Index »
-
Senin, 21/05/2012 12:10 WIB
Berapapun Dibayar Asal Bungkam
-
Kamis, 17/05/2012 09:18 WIB
Mukjizat yang Tak Terulang
-
Selasa, 22/05/2012 14:27 WIB
Andi Arief: Gunung Padang Tunjukkan Apakah Dulu Ada Peradaban Maju
Cari Penawaran Terbaik di Sini
Info Promosi Travel
- Rp 2,790.000
- Rp 6,087.000
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer








Sending your message



_(baru).gif)

_2.gif)
_3.gif)
