"Dampak dari pemerkosaan itu korban alami seumur hidup, maka pelakunya juga harus dihukum seumur hidup. Itu ancaman maksimalnya," kata Rudy dalam perbincangan dengan detikcom, Selasa (26/1/2010).
Kasus hukuman bagi pemerkosa kembali menjadi perhatian menyusul vonis ringan pada Kiki, pelaku pemerkosaan atas Indah (nama samaran). Ketua majelis hakim Jhon Pieter, Senin (25/1/2010),Β di Pengadilan Negeri (PN) Bekasi,Β memvonis Kiki dengan hukuman 4 tahun penjara, jauh lebih ringan dari tuntutan JPU yang 10 tahun penjara. Oleh korban, vonis ini dinilai terlalu ringan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berikut petikan wawancaranya detikcom dengan pakar hukum pidana dari Universitas Indonesia (UI) tersebut:
Pelaku pemerkosaan di Bekasi dijatuhi vonis 4 tahun penjara. Ada yang menilai terlalu ringan tapi ada juga yang merasa sudah cukup sebab KUHP menyatakan hukuman maksimal 12 tahun penjara. Bagaimana itu?
Ya memang tidak ada standartnya. Rentang masa hukumanya kan mulai 1 hari, 7 tahun, 12 tahun, kalau masih di angka itu ya masih bisa diterima secara hukum. Hakim juga referensi kasus lain dan mempertimbangkan unsur-unsur pemberatnya.
Apa saja unsur yang bisa memberatkan hukuman bagi pemerkosa?
Pemberatnya bisa karena dilakukan dengan tindak kekerasan, pelaku lebih dari satu orang, bukan pertama kali dilakukan dan lain-lain lagi.
Jadi sebenarnya masa hukumannya bisa lebih berat dari 4 tahun?
Kalau ada perubahan di KUHP yang bisa, tapi sekarang ini kan belum ada perubahan. Jadi sekarang ini secara yuridis formal ya begitulah.
Apa ancaman bagi pemerkosa di KUHP perlu diubah? Bagaimana perubahannya?
Jelas perlu diubah. Karena dampak dari pemerkosaan itu korban alami seumur hidup, maka pelakunya juga harus dihukum seumur hidup. Itu ancaman maksimalnya.
Bagaimana dengan hukuman mati seperti di Timur Tengah apakah bisa diberlakukan di Indonesia?
Kita kan taat pada hukum di Indonesia. Sekarang tidak ada lagi pidana mati kecuali narkoba.
Anda setuju bahwa hukuman empat tahun penjara bagi pemerkosa adalah tidak adil, ikuti Pro dan Kontra! (lh/iy)











































