Perjalanan

Menjelajah Kisah "Tingwe"

Ariyanto Mahardika - detikNews
Sabtu, 03 Apr 2021 10:30 WIB
Cuaca yang tak menentu turut berimbas pada petani tembakau. Hasil tembakau yang tak maksimal membuat penghasilan para petani turun.
Tembakau kering (Foto: Muhamad Rizal)
Jakarta - Seorang lelaki muda, tanpa kutahu namanya, menyodorkan rajangan tembakau dalam plastik flip tebal. Tak hanya berisi tembakau, dalam wadah itu terdapat cengkih dan korek gas.

"Ses, Mas!" kata dia.
"Nggih, Mas. Sampun. Nuwun," kataku.

Aku menolak niat baik baik orang itu. Maklumlah, di masa pandemi seperti ini bertemu dengan orang, apalagi orang baru acap memunculkan waswas, harus jaga jarak. Obrolan pun sekadarnya, sambil menunggu ban sepeda motor yang diperbaiki montir akibat bocor dalam perjalanan Parakan menuju Solo via Sumowono.

Flip plastik itu rupanya sudah menjadi semacam starter pack yang mudah diperoleh di warung tembakau atau di markerplace maupun media sosial dengan beragam harga. Menggulung tembakau dengan membubuhkan rempah atau cengkih populer dengan sebutan tingwe akronim dari nglinthing dhewe atau melinting sendiri, bukan rokok buatan pabrik.

Di bengkel, pinggir desa di kawasan Kaloran, Temanggung itu ada beberapa pemuda yang tengah menongkrong. Sesekali warga desa dengan sepeda motornya mampir sejenak dan sekadar bertegur sapa setelah dari turun dari ladang.

Tegalan sekitar bengkel banyak tumbuh pohon sengon yang nantinya untuk menyuplai pabrik kayu lapis. Di sela-sela sengon yang menjulang tampak rimbun daun pohon kopi. Di depan rumah samping bengkel tampak beberapa batang pohon vanili. Kopi dan vanili, dua komoditas yang digadang bisa menjadi andalan seperti tembakau.

Ini berbeda dengan daerah Parakan yang letaknya di kaki Gunung Sindoro-Sumbing yang hampir seluruhnya ditanami tembakau pada saat akhir musim penghujan. Kata ses yang diucapkan pemuda tadi merupakan kata dalam Bahasa Jawa yang artinya rokok. Kata ini diperkirakan muncul sejak berabad-abad lalu dan dalam beberapa sebutan lain, seperti ngudud terselip dalam babad dan serat termasuk Centhini yang sering dijuluki ensiklopedia Jawa itu.

Tembakau di Hindia Belanda

Kata ses ini pula kujumpai dalam buku pelajaran lama yang terbit pada 1948 yang ada di rak buku di rumah. Buku Kembang Setaman 3 yang ditulis AC Deenik dan A. Van Dick (cetakan keempat) itu menampilkan percakapan antara seorang lurah dan mantri. Alih bahasa buku yang diterbitkan NV JB Walters Uitgeversmaaschappij ini dikerjakan Raden Sosragoenda. Pada salah satu penggalan percakapan dalam Bahasa Jawa, Pak Lurah bertanya:

"Kang Mas Mantri pandjenengan sapoenika kok kresa ses...." [Pak Mantri Anda sekarang kok mau merokok....].

Pak Mantri pun menjawab bahwa dia merokok karena terpengaruh tetangganya.

Buku setebal 116 halaman itu kali terbit pada 1927 dan terdapat dua bab yang secara ringkas membahas tembakau di Hindia Belanda mulai dari cara menanam hingga daerah utamanya. Wilayah Kedu, termasuk Magelang, Temanggung, Wonosobo dikenal sebagai penghasil tembakau terbaik. Buku ini juga menceritakan, untuk mencapai wilayah yang disebut terakhir, pada masa itu perlu menggunakan trem atau kereta api dari Muntilan menuju ke Stasiun Parakan, selanjutnya perjalanan dilakukan melalui moda lain.

Kala itu tlatah tersebut mempunyai jalur kereta api yang menghubungkan ke Secang selanjutnya ke Magelang hingga ke Jogja. Jalur Secang-Parakan selesai dibangun Pemerintah Hindia Belanda pada 1907, namun operasional jalur ini resmi dihentikan awal 1970-an. Untuk mencapai wilayah Wonosobo sebagaimana digambarkan dalam buku era kolonial itu harus melintasi jalan berkelok dan dingin, seperti Kledung yang terletak di antara Gunung Sumbing, yang juga menjadi latar novel berbahasa Jawa Ngulandara besutan Margana Djajaatmaja yang diterbitkan Balai Pustaka pada 1920.

Catatan Ong Hok Ham dan Amen Budiman dalam Hikayat Kretek menyebut, berdasarkan tulisan RJL Kassendranger yang terbit pada 1841 tembakau asal Kedu itu merupakan yang terbaik di Pulau Jawa. Kemasyhuran tembakau asal wilayah ini juga menjadi reportase Madjalah Gappri, Gabungan Perserikatan Paberik Rokok Indonesia, edisi 22 Desember 1958. Mohammad Sobary dalam berbagai buku kumpulan kolomnya mengatakan tembakau kawasan ini sebagai terbaik di dunia.

Hadirnya tembakau di daerah berhawa sejuk itu juga diwarnai mitos. Sebagaimana dikisahkan warga Lamuk Legok dan desa lain di lereng Sumbing yang dikenal sebagai tembakau srinthil yang tenar itu. Eva Laily, melalui bukunya Srithil Saujana Lereng Sumbing, merekam tuturan warga soal muasal tembakau ke desa itu yang konon dibawa oleh murid Sunan Kudus yang keturunan Tionghoa, Ma Kuw Kwan.

Dia diangkat murid Sunan Kudus seusai lolos dan melarikan diri dari sergapan pasukan Capiturang. Setelah dinilai mumpuni, dia diberi tugas menyebarkan agama sekaligus mengajarkan bertani di wilayah yang bertanah subur itu. Suatu kali ada warga yang sakit, Sang Kyai pun menyembuhkan dengan tumbuhan yang belum diketahui namanya. Sambil berujar setengah memekik, Ma Kuw Kwan berucap, "Iki tambaku," yang dalam Bahasa Jawa artinya ini obatku. Dari tambaku supaya lebih singkat kemudian menjadi mbako, sedangkan Ma Kuw Kwan dilidahjawakan menjadi Mukukuhan.

Menyebarnya tembakau sampai ke Hindia Belanda termasuk Pulau Jawa juga dikisahkan AC Deenik dan A. Van Dick. Mereka yakin pohon ini dibawa oleh Bangsa Belanda, sebagaimana disampaikan Thomas Stanford Raffles dalam The History of Java. Namun, Ong Hok Ham dan Amen Budiman sepakat tembakau dibawa ke Jawa oleh Bangsa Portugis. Ini didasarkan pada kata tembako atau bako yang lebih dekat dengan istilah Portugis, tabaco atau tumbaco daripada tabak, kata yang dalam Bahasa Belanda artinya tembakau.

Sebelum dibuat pabrikan, di masa lampau orang menggulung sendiri tembakaunya. Ada yang menggunakan enau, ada pula memakai klobot, daun jagung yang dikeringkan, dan kini menggunakan kertas tipis layaknya kertas rokok pabrikan. Alat penggulungnya pun baik yang sekadar lembar plastik hingga berbahan kayu seperti di pabrik kretek pun tersedia di pasaran. Makin naiknya harga rokok akibat naiknya cukai hampir membuat sebagian orang kembali menggulung sendiri tembakaunya.

Menghindari Pajak

Kata tingwe entah kapan muncul. Namun, Lance Castles mencatatnya dalam buku Tingkah Laku Agama Politik dan Ekonomi di Jawa: Industri Rokok Kudus yang terbit pada 1982, sedangkan versi asli Bahasa Inggris buku ini terbit pada 1967. Castles berpandangan tingwe dilakukan untuk menghindari pajak yang dipungut melalui penjualan cukai.

Tingwe semula dilakukan oleh pekerja kerah biru dan petani di perdesaan. Ada yang memang jadi kebiasaan harian, ada juga yang selingan karena di waktu tertentu seperti hajatan mengisap buatan pabrik. Memang ada suatu masa dimana rokok beserta jenis dan mereknya menunjukkan strata sosial.

Namun kini melinting tembakau bagi sebagian orang menjadi aktivitas yang mengasyikkan. Naiknya harga rokok, kondisi ekonomi yang terganggu akibat pandemi, bertambahnya waktu luang karena sebagian besar pekerjaan dilakukan di rumah membuat aktivitas tingwe kian leluasa. Layaknya penggemar kopi yang mencampur atau nge-blend beragam kopi, tingwe juga memadukan aneka tembakau dari berbagai penjuru. Ada yang meramu agar aroma dan rasanya seperti rokok favoritnya, ada pula yang pengin original.

Tak mengherankan warung tembakau pun juga bermunculan. Sebagian menyatu dengan warung kopi yang sebelumnya berdiri. Meski demikian ada yang patut diingat seperti termuat dalam buku pelajaran jadul yang ditulis 94 tahun lalu itu, anak-anak harus dihindarkan dari rokok, sedangkan yang dewasa harus mengingat kesehatan.

"Jen kowe dhewe mestine doeroeng oedoed sebab mbako ikoe ora betjik, jen kanggo botjah marakake roesak marang awak. Senajan wong toewa pisan, jen kakeahan oeodoed, ja ora betjik dadine," tulis AC Deenik dan A. Van Dick.

Ariyanto Mahardika freelancer, meneliti media dan informasi

Simak juga 'Unik! Nasi Goreng Tembakau Khas Temanggung':

[Gambas:Video 20detik]



(mmu/mmu)