Kedua imam masjid yang tidak disebut namanya ini, diketahui memimpin masjid yang dikelola oleh Yayasan Kebudayaan Islami Jenewa yang merupakan masjid terbesar di Swiss. Masjid itu terletak di dekat kantor Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) dan markas organisasi internasional lainnya di Swiss.
Dilaporkan media-media Swiss dan dilansir AFP, Jumat (27/11/2015), kedua imam itu tinggal di kota perbatasan Prancis, Ferney-Voltaire. Dalam pernyataannya, pihak yayasan membenarkan adanya penggeledahan pada Rabu (25/11) malam oleh otoritas wilayah Ain, Prancis.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kepolisian setempat enggan mengomentari soal pernyataan pihak yayasan tersebut. Alasan penggeledahan itu sendiri tidak diketahui pasti.
"Yayasan akan membahas dengan otoritas Jenewa dan Prancis demi menyingkap titik terang alasan penggeledahan," terang mereka.
Pada Agustus lalu, media Swiss melaporkan bahwa 2 atau 3 imam yang berbasis di masjid Jenewa memicu kecurigaan otoritas keamanan nasional Prancis. Pada Kamis (26/11) waktu setempat, mantan juru bicara masjid tersebut, Hafid Quardiri menuturkan kepada surat kabar Tribune de Geneve bahwa gelombang radikalisasi benar ada di pusat-pusat keagamaan.
Quardiri menuturkan kepada surat kabar tersebut, beberapa pejabat tinggi masjid itu menganut pandangan ekstremis. Masjid Jenewa diresmikan tahun 1978 oleh mantan Raja Arab Saudi, Khaled Ben Abdulaziz.
(nvc/ita)











































