DetikNews
Senin 14 November 2016, 17:33 WIB

Misteri Suku Banjar yang Bermigrasi dan Jadi Nenek Moyang Orang Madagaskar

Nograhany Widhi K - detikNews
Misteri Suku Banjar yang Bermigrasi dan Jadi Nenek Moyang Orang Madagaskar Foto: Perempuan Madagaskar hari ini (Foto: AFP)
Jakarta - Riset membuktikan nenek moyang orang Madagaskar berasal dari Indonesia, terutama dari Suku Banjar. Perjalanan Suku Banjar ke Madagaskar masih menjadi misteri.

Butuh waktu setahun bagi periset multidisiplin ilmu dari Indonesia, yang diwakili 2 periset dari Lembaga Biologi Molekuler Eijkman dan FK UI- termasuk Herawati Sudoyo-, Prancis, Selandia Baru dan Australia ini untuk mencapai kesimpulan bahwa Suku Banjar lah yang menjadi nenek moyang orang Madagaskar.

Setahun sebelumnya, beberapa hipotesis yang menjadi nenek moyang orang Madagaskar mengemuka. Hipotesa bahwa Suku Dayak Maanyan lah nenek moyang orang Madagaskar sudah dicoret setahun lalu. Padahal secara etimologis, bahasa Malagasi yang digunakan orang Madagaskar dan bahasa Dayak Maanyan berdekatan.

(Baca juga: Dari Indonesia Bagian Mana 28 Perempuan Nenek Moyang Orang Madagaskar?)

Lantas, hipotesa beralih ke beberapa suku bahari di Kalimantan dan Sulawesi, termasuk Suku Bajo, yang terkenal hidup nomaden di laut, Suku Buton hingga Suku Bugis. Semua Suku Dayak di Kalimantan, Bajo, Bugis dicocokkan DNA-nya.

Tim periset kemudian menganalisa 211 sampel DNA dari darah donor dewasa yang terdiri dari 169 orang dari etnis Dayak Maanyan dan 49 lainnya dari suku Dayak lainnya yang beragam. Tim periset setahun sebelumnya sudah mengumpulkan DNA 266 penduduk asal Madagaskar dan mencocokkan DNA-nya. Dari riset DNA dan etnisitas seperti bahasa, ternyata orang dari Suku Banjar di Kalimantan Selatan paling tinggi kecocokannya dengan orang Madagaskar.

"Oh ya betul, Banjar. Karena yang (Dayak) Maanyan itu sama sekali tidak ada kesamaan genetiknya. Tapi memang bahasanya (Dayak Maanyan) ada, bisa aja, kan sungainya dulu besar sekali, kaya laut. Jadi orang Maanyan turun dan bercampur dengan orang Banjar, itulah yang dibawa. Bukan orang Maannyan yang kemudian bermigrasi, orang Banjar yang kemudian bermigrasi. Dan ini sudah terkonfirmasi, dari genetikanya," jelas Herawati.

Hal itu dijelaskan Herawati di sela seminar bertajuk "Collaborative Research in Population Study: A Story of Human Dispersal in Indonesia" di Ruang Auditorium Sitoplasma Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, Jl Diponegoro No. 69, Jakarta Pusat, Senin (14/11/2016).

Dalam seminar, periset Nicolas Brucato PhD dari Laboratorium Antropologi Molekuler Universitas Toulouse Prancis, mengatakan bahwa 40% genom orang Madagaskar dibawa dari Indonesia. Namun secara genetika, gen Suku Dayak Maanyan tidak bisa ditemukan dari gen Indonesia yang ditemukan dalam gen orang Madagaskar. Meski, bahasa Dayak Manyaan dan Madagaskar berdekatan.

"Jadi tidak ada korelasi antara genetika dan bahasa di Malagasi (orang Madagaskar-red). Dari analisa haplotipe (model urutan sekuens DNA-red), ada kesamaan yang tinggi antara Malagasi dan Kalimantan bagian tenggara, khusunya Banjar," kata Nicolas.

Secara struktur genetik, lanjutnya, Suku Banjar memiliki campuran 75% genetik Melayu dan 25% genetik Dayak Maanyan. "Jadi secara genom, Malagasi diturunkan dari migrasi nenek moyang Suku Banjar. Suku Banjar yang menetap dan membentuk sekelompok orang di Malagasi," papar dia.

Riset yang mengkonfirmasi Suku Banjar adalah nenek moyang orang Madagaskar ini sudah dimuat di jurnal ilmiah Nature, yang dipublikasikan online pada tanggal 18 Mei 2016 lalu dengan judul "Contrasting Linguistic and Genetic Origins of the Asian Source Populations of Malagasy". Selain dari FK UI, Lembaga Biologi Molekuler Eijkman dan Universitas Toulouse Prancis, riset ini juga melibatkan periset dari Universitas Massey Selandia Baru dan Universitas Melbourne Australia.

Kelanjutan dari riset ini, menurut Hera, pertanyaan selanjutnya, bagaimana Suku Banjar bermigrasi ke Madagaskar di kawasan Afrika Timur itu? Padahal, Suku Banjar bukanlah suku pelaut nomaden seperti Suku Bajo.

"Nggak ya, nggak sea nomad. Tapi dari bahasanya Malagasi yang 5 persen itu yang campur-campuran nggak karuan itu ada Malay, ada Jawa Kuno, ada macam-macam di situ. Bisa saja itu bahasa dibawa, pinjaman atau orang-orangnya di sana," tutur Herawati.

"Sekarang pertanyaannya, apakah mereka bermigrasi sekaligus, berlayarnya sekaligus? Perpindahannya di mana? Berhentinya di mana? Itu yang perlu dibuktikan, ada nggak?," imbuh Herawati.

Riset ini merupakan kelanjutan riset yang awalnya dilakukan sejak tahun 2005. Tahun 2005 itu riset dilakukan dengan melakukan pencocokan DNA. 2.745 sampel penduduk Indonesia yang berasal dari 12 pulau; Sumatera, Nias, Mentawai, Jawa, Bali, Sulawesi, Sumba, Flores, Lembata, Alor, Pantar dan Timor, dicocokkan dengan 266 sampel penduduk Madagaskar.

Sedangkan sampel DNA penduduk Madagaskar berasal dari tiga kelompok besar etnik yang dibedakan berdasarkan budaya dan tempat tinggal, yaitu: Mikea (pemburu), Vezo (nelayan), dan Merina (dataran tinggi).

Indikator paling kontras adalah perkembangan budaya asal di Madagaskar yang merupakan budaya Indonesia. Seperti budaya bercocok tanam, pemrosesan besi, adanya kapal cadik dan musik gamelan. Budaya tersebut sudah lebih dulu dikembangkan pada saat Kerajaan Sriwijaya.

Misteri Suku Banjar yang Bermigrasi dan Jadi Nenek Moyang Orang MadagaskarFoto: Budaya bertani di Madagaskar dibawa dari kebiasaan nenek moyang yang orang Indonesia (Foto: Reuters)


Dari penelitian yang dilakukan selama tujuh tahun hingga 2012, didapati bahwa nenek moyang asli penduduk Madagaskar adalah 28 perempuan asal Indonesia yang berlayar ke Madagaskar 1.200 tahun silam. Dan 4 tahun kemudian, tahun 2016 ini, terkonfirmasi bahwa perempuan Indonesia itu berasal dari Suku Banjar.
(nwk/trw)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed