Adu Gagasan

Ini Solusi Macet Jakarta dari Ahok, Anies dan Agus, Siapa Lebih Baik?

M Iqbal - detikNews
Rabu, 12 Okt 2016 16:17 WIB
Foto: Ilustrasi kemacetan Jakarta (Rachman Haryanto/detikfoto)
Jakarta - Kemacetan menjadi masalah paling pelik untuk diselesaikan di Jakarta. Karena itu macet jadi 'jualan' paling favorit cagub-cawagub setiap Pilgub 5 tahunan. Di Pilgub 2017 kali ini ada 3 bakal cagub dan cawagub. Bagaimana program mereka atasi macet?

Berikut uraian tiga bakal kandidat cagub cawagub DKI, soal kemacetan Jakarta yang diurai dari visi misi dan program seperti dikutip, Rabu (12/11/2016):
Foto: Dokumen Visi Misi Ahok-Djarot (KPU RI)Foto: Dokumen Visi Misi Ahok-Djarot (KPU RI)

Ahok-Djarot
Bakal pasangan calon incumbent ini membahas spesifik dan detail isu kemacetan Jakarta dalam salah satu dari 11 program kerja. Yaitu "Transportasi: Membebaskan Jakarta dari kemacetan dengan mendorong perbaikan transportasi publik dan pembatasan penggunaan kendaraan pribadi."

Berikut uraiannya:
1. Menyelesaikan pembangunan MRT Tahap 1 agar beroperasi di tahun 2019, memulai konstruksi Tahap 2 rute Bundaran HI - Ancol Timur sepanjang 13,5 kilometer di tahun 2019, dan konstruksi East-West Tahap 1 rute Ujung Menteng-Kembangan sepanjang 27 kilometer di tahun 2020.
2. Meningkatkan pelayanan transportasi bus dengan penambahan jumlah armada sebanyak 3.000 bus, penambahan rute TransJakarta serta penerapan fleet management berbasis IT untuk mencapai 1 juta penumpang/hari.
3. Mengintegrasikan seluruh operator bus dalam Transjakarta agar standar pengelolaan dan pelayanan bus di seluruh rute bisa bersaing dengan kota-kota maju di dunia serta bisa dievaluasi berkala dengan indikator yang terukur.
4. Peremajaan angkutan umum kecil (angkot) dengan bus sedang yang beroperasi di daerah pemukiman padat penduduk dan terintegrasi dengan Transjakarta.
5. Membangun jaringan 7 koridor LRT dalam kota sepanjang 110 kilometer, dimulai dengan rute Kelapa Gading-Velodrome sepanjang 6 kilometer untuk Asian Games 2018.
6. Menciptakan sistem respon cepat kemacetan berbasis IT dengan penempatan petugas di titik-titik rawan macet.
7. Mengimplementasikan Electronic Road Pricing (ERP) di jalan-jalan utama guna mengurai kemacetan dan mendorong masyarakat menggunakan transportasi publik.
8. Mendorong terimplementasinya sistem transportasi di Kawasan Jabodetabek melalui integrasi jalur lintas berbagai moda transportasi publik dengan sistem single ticketing.
9. Melanjutkan target realisasi pembangunan 45 flyover dan underpass di Jakarta dalam rangka percepatan pencapaian road ratio sebesar 11% dan mengurangi perlintasan sebidang.
10. Pengembangan fungsi terminal sebagai Transit-Oriented Development (TOD) untuk mendorong penggunaan angkutan umum, dimulai dari pengembangan TOD untuk terminal tipe A seperti Kampung Rambutan dan Pulo Gebang.
Merevitalisasi 1.413 halte bus untuk meningkatkan kenyamanan masyarakat dengan penambahan fasilitas, ruang tunggu, dan toilet.
11. Memasang Terminal Elektronik Parkir (TPE) di seluruh gedung milik Pemda dan ruas jalan strategis untuk menyelesaikan masalah parkir liar dan meningkatkan pemasukan daerah.
12. Meningkatkan pelayanan bus sekolah gratis dengan menambah luas area pelayanan dengan penambahan armada sebesar 2 kali lipat.
13. Membangun sarana park and ride untuk menyelesaikan masalah parkir liar dan memudahkan warga untuk menggunakan angkutan umum.
14. Mengoperasikan bus lower deck dan bus tingkat gratis di jalur-jalur wisata dan komersil.

Selain di program transportasi, macet juga disebut oleh Ahok-Djarot dalam program 'Penataan Kota: Mewujudkan kota yang semakin nyaman bagi warga'. Pada poin ketiga Ahok-Djarot menjabarkan:

"Membangun rumah susun yang terintegrasi dengan pasar tradisional, terminal, gelanggang olah raga (GOR), sekolah, dan waduk di berbagai lokasi di Jakarta yang diperuntukkan bagi warga kelas menengah ke bawah, dan membangun apartemen sewa murah di pusat kota yang terjangkau bagi warga kelas menengah untuk mengurangi kemacetan antar kota."

Isu kemacetan juga muncul dalam program "Optimaliasasi Teknologi: Memaksimalkan penggunaan teknologi untuk meningkatkan kualitas pelayanan Pemda dan kenyamanan hidup warga". Yaitu "Meningkatkan keamanan dan ketertiban kota dengan pengawasan terpadu melalui pemasangan 8.000 CCTV di titik-titik yang rawan persoalan kota (kriminalitas, kemacetan, genangan/banjir, tawuran, sampah, dll)".
Foto: Visi misi Agus-Sylviana (Dok. KPU RI)Foto: Visi misi Agus-Sylviana (Dok. KPU RI)

Agus-Sylviana

Isu kemacetan diulas olah Agus-Sylviana dalam "Program Aksi untuk Mewujudkan Jakarta yang Nyaman dan Bermartabat". Berikut uraiannya:

a. Penataan manajemen lalu lintas untuk mencegah kemacetan.
b. Tersedianya fasilitas publik terutama di lembaga-lembaga pemerintahan yang ramah terhadap penyandang disabilitas.
c. Meningkatkan akses dan fasilitas untuk kesejahteraan lansia.
d. Meningkatkan kuantitas dan kualitas infrastruktur jalan, baik untuk kendaraan bermotor, sepeda, dan pejalan kaki.
e. Menambah feeder untuk Transjakarta dan mendorong berdirinya sarana parkir vertikal di lokasi-lokasi tertentu.
f. Mendirikan sosial centre yang mewadahi kebutuhan masyarakat khususnya kaum muda akan olah raga, budaya dan kreativitas yang terintegrasi dengan konseling untuk kaum muda.

"Dengan program aksi ini waktu yang ditempuh para pengguna jalan raya bisa dihemat antara 10%- 20% dari kondisi saat ini sehingga akan menambah waktu produktif untuk kerja dan waktu bersama dengan keluarga," tulis Agus-Sylvi.

Selain program di atas, tak ada uraian atau penjelasan rinci lain soal kemacetan dalam visi, misi atau program Agus-Sylviana yang secara keseluruhan berisi 5 bab 40 halaman itu.
Foto: Visi misi Anies-Sandiaga (Dok. KPU RI)Foto: Visi misi Anies-Sandiaga (Dok. KPU RI)

Anies-Sandiaga

Bakal pasangan calon yang diusung Gerindra dan PKS ini tak merinci isu kemacetan dalam program kerja mereka. Program kerja yang terkait dengan kemacetan ditemukan pada salah satu poin di program 'Perbaikan Lingkungan Hidup dan Tata Ruang Jakarta'.

Pada poin kedua ditulis: Melakukan evaluasi ulang terhadap master plan transportasi Jakarta melalui pelibatan publik dan memastikan pelaksanaan secara benar sesuai proyeksi pertumbuhan kota.

Baca juga: Membandingkan Cara Ahok, Anies dan Agus Selesaikan Banjir Jakarta



(miq/van)