DetikNews
Selasa 04 Oktober 2016, 11:20 WIB

Mendagri: Ada 60 Orang Tokoh ISIS Tinggal dan Makan di Indonesia

Andhika Prasetia - detikNews
Mendagri: Ada 60 Orang Tokoh ISIS Tinggal dan Makan di Indonesia Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo (Foto: Lamhot Aritonang/detikFoto)
Jakarta - Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tjahjo Kumolo bicara soal berbagai ancaman terhadap negara, salah satunya terorisme. Dia pun meminta masyarakat lebih waspada.

Tjahjo bicara dalam Seminar Nasional Dharma Wanita Persatuan yang diadakan di Auditorium Manggala Wanabakti, Jalan Jenderal Gatot Soebroto, Senayan, Jakarta Pusat, Selasa (4/10/2016). Tjahjo didampingi istrinya Erni Guntarti. Seminar bertema 'Peran DWP Mendukung Sukses MEA' ini juga dihadiri Ketua Umum DWP Wien Ritola Tasmaya, Ketua DWP Provinsi DKI Jakarta Happy Farida Djarot dan para istri aparatur sipil negara (ASN) se-Indonesia.

Dalam sambutannya, Tjahjo menyinggung soal berbagai permasalahan yang dihadapi negara. Misalnya saja narkoba dan tingginya angka kematian ibu hamil.

Acara Seminar Nasional Dharma Wanita Persatuan (Andhika/detikcom)Acara Seminar Nasional Dharma Wanita Persatuan (Andhika/detikcom)

"Pertama, masalah narkoba. Per jam, rata-rata ada 5 sampai 6 orang meninggal. Tiap RT di seluruh Indonesia, rata rata ada 2 orang pengidap narkoba. Rata-rata bisa mencapai 60 orang per hari meninggal. Yang kedua, masalah angka kematian ibu hamil. Kita mencapai rekor tertinggi di dunia. Kemudian, masalah gizi anak dan masalah tentang ibu sangat penting. Padahal pemerintah-pemerintah di desa ada susu dan kacang hijau gratis. Mayoritas ibu di desa, susu tidak diberikan kepada anaknya, tetapi dijual. Alasannya, mayoritas butuh pegangan uang. Jadi, masalah pertama narkoba, masalah kedua ketimpangan gizi termasuk ibu hamil," jelas Tjahjo.

Mendagri Tjahjo Kumolo berpidato di acara tersebut (Andhika/detikcom)Mendagri Tjahjo Kumolo berpidato di acara tersebut (Andhika/detikcom)

Ancaman bangsa yang ketiga, lanjut Tjahjo, adalah korupsi. Ketika dirinya menjabat Mendagri pada 2014 lalu, ada 450 PNS yang terlibat korupsi. "Saya mohon ibu-ibu sekalian turut serta membantu memberantas hal ini," ucapnya. Keempat menurut Tjahjo, Indonesia juga dihadapkan dengan masalah radikalisme dan terorisme.

"Contoh kecil, organisasi Gafatar, rekruitmen tertutup dan terbukanya tidak ketahuan. Ini merupakan kelompok masyarakat ekonomi menengah ke atas, yang tujuannya mendirikan negara dalam negara. Dan masih banyak organisasi lain, yang katanya berdasar Pancasila, tetapi pemimpinnya berkata anti Pancasila. Sekarang ini bahaya terorisme mulai mengancam NKRI. Contoh, ada 60 tokoh ISIS tinggal dan makan di Indonesia. Ini yang membuat repot polisi, TNI, intel untuk mengontrol mereka. Ini yang menimbulkan keresahan kita," papar Tjahjo.

Karena itu, Tjahjo berharap para kaum ibu di organisasi DWP bisa berperan aktif dalam mencegah empat masalah bangsa tersebut.

"Pada forum ini, DWP melalui ibu-ibu, kami mohon untuk bisa menggerakkan dan organisir mulai dari lingkungan kecil hingga besar, memberikan pemahaman kepada masyarakat dan ibu-ibu untuk bahaya masalah paham radikalisme, terorisme, narkoba, korupsi, dan ketimpangan sosial. Kuncinya, adalah bagaimana DWP dan organisasi lain seperti PKK, adalah bagaimana bisa menyatukan, adanya sinergi dan komunikasi yang baik mengenai masalah yang ada," imbuhnya.
(hri/fdn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed