DetikNews
2015/09/29 15:20:28 WIB

Menengok 'Jalur Maut' Saketi-Bayah

Sudrajat - detikNews
Halaman 1 dari 3
Menengok Jalur Maut Saketi-Bayah Foto: Dikhy Sasra
Jakarta - Beragam ekspresi diperlihatkan warga di sekitar Pasar Saketi, Pandeglang, saat melihat rombongan "Napak Tilas Jalur Kereta Saketi-Bayah" tiba di sana pada Senin, 21 September 2015. Ada yang cemas, senang, pasrah, sinis, tak ramah, juga menutup diri saat disapa. "Memang akan diaktifkan kembali ya keretanya. Kapan?" tanya seorang pemilik warung dalam bahasa Sunda saat majalah detik singgah untuk membeli minuman ringan.

Ia mengaku senang bila jalur kereta yang dibangun pada masa pendudukan Jepang itu aktif kembali. Sebab, mobilitas warga akan lebih mudah karena mendapatkan alternatif sarana transportasi. Tapi di wajahnya juga tergores kecemasan akan nasib keluarganya yang sudah berpuluh tahun menempati lahan milik PT Kereta Api Indonesia. "Kira-kira kami dapat ganti rugi atau diusir seperti warga Kampung Pulo di Jakarta?" si ibu kembali bertanya.

Jalur Saketi–Bayah di Banten Selatan sepanjang 89 kilometer merupakan lintas cabang dari lintas Rangkasbitung-Labuan. Jalur ini sudah tidak aktif selama sekitar 60 tahun. Lahan maupun jalurnya sudah banyak yang rusak, beralih fungsi, dan ditempati menjadi permukiman warga. Bangunan Stasiun Saketi, misalnya, saat ini ditinggali dan dirawat oleh Mumu Mudjaya, menantu mantan Kepala Stasiun Saketi, Jasuri. Sedangkan di sepanjang jalur rel berdiri puluhan rumah warga dan pasar.

Jalur Saketi-Bayah (foto: Dikhy Sasra)


Menurut mantan Ketua Indonesian Railway Preservation Society Aditya Dwi Laksana, yang memandu acara Napak Tilas, pembangunan jalur rel kereta sepanjang 89 kilometer dari Saketi ke Bayah dilakukan selama 14 bulan, yakni mulai Februari 1943 hingga Maret 1944. Puluhan ribu romusa yang didatangkan dari Purworejo, Kutoarjo, Purwodadi, Semarang, dan Yogyakarta dikerahkan untuk pembangunan proyek tersebut.

Jepang membangun jalur ini untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar kereta api dan kapal laut. Di Bayah terdapat lokasi tambang batu bara yang belum dieksplorasi oleh Belanda. Potensinya 20-30 juta ton dengan ketebalan 80 sentimeter. "Mulai 1 April 1943, Jepang mengeksploitasi tambang batu bara lewat perusahaan Sumitomo," ujarnya.
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed