Pembunuhan Monica

Kekasih Tega Bunuh Monica karena Air Mineral yang Tidak Dingin

Edward Febriyatri Kusuma - detikNews
Rabu, 03 Jun 2015 16:37 WIB
Jakarta -

Monica (19) tewas dibunuh kekasihnya sendiri Arifin bin Erwan (22) di rumah indekos di Jalan KH Agus Salim RT 02/04 Kelurahan Bekasi Timur, Kota Bekasi. Pelaku membunuh karena emosi usai cekcok beberapa kali.

Keterangan itu disampaikan Kapolres Bekasi Kota, Kombes Daniel, saat rilis di Aula Polres Bekasi Kota, Rabu (3/6/2015). Pertengkaran pelaku dan korban pertama kali terjadi pada Minggu (31/5) lalu sekitar pukul 22.00 WIB.

Ketika itu Arifin baru pulang kerja dan mendapati Monica tengah asyik memainkan game di handphone di dalam kamar. Pelaku kemudian menegur korban agar berhenti main game. Bukannya berhenti, korban malah marah-marah dan menyuruh pelaku dengan nada kasar untuk membelikan nasi uduk.

Karena tak ingin ribut-ribut, Arifin kemudian pergi keluar rumah dan membelikan nasi uduk berikut air mineral. Namun ketika diberikan, Monica tidak mau makan dan minum. Ia kembali marah-marah karena air mineral yang dibelikan Arifin tidak dingin.

"Keributan antara korban dengan pelaku terjadi kurang lebih 1 jam, setelah itu korban dan pelaku tertidur," ucap Daniel.

Keesokan harinya sekitar pukul 06.00 WIB, Arifin dibangunkan dari tidur oleh Monica dengan cara yang kasar. Pelaku kemudian emosi dan kembali terjadi keributan besar antara keduanya. Pada satu kesempatan, Arifin pun kalap membunuh Monica.

Arifin mengambil boneka beruang besar warna pink. Ia menekankan boneka itu ke kepala korban yang sedang tidur tengkurap dengan posisi kedua tangan menutup wajah selama 20 menit.

Setelah 20 menit, Arifin mengangkat boneka beruang besar tersebut. Korban dilihatnya sudah dalam kondisi tidak bergerak. Ia kemudian pergi keluar rumah untuk bekerja.

Untuk menutupi kejahatannya, Arifin membuat laporan ke Polsek Bekasi Timur seolah-olah kekasihnya itu dibunuh oleh orang lain. Polisi yang curiga karena menemukan banyak kejanggalan dari keterangan Arifin kemudian melakukan penyelidikan. Kejahatannya pun terbongkar.

"Dia sengaja melaporkan supaya tidak dicurigai, akan tetapi alibi yang dibuat pelaku tidak masuk akal. Saat kita tanya korban tewas kenapa, pelaku malah menjawab 'saya tidak tahu tahu-tahu tidak bernyawa'," ucap Daniel.

Atas perbuatannya Arifin dijerat dengan pasal 338 KUHP dengan ancaman pidana maksimal 15 tahun penjara.



(Herianto Batubara/Rachmadin Ismail)