Belajar dari Jamil, Gembong Narkoba yang Ikhlas Dihukum Mati

Andi Saputra - detikNews
Jumat, 29 Mei 2015 08:17 WIB
ilustrasi (ari saputra/detikcom)
Jakarta -

Pengemudi truk yang membawa 8 ton ganja, Jamil menerima dihukum mati oleh Pengadilan Negeri (PN) Siak, Riau dan siap dieksekusi. Dalam komplotan ini, Ibrahim juga dihukum mati, Budiman dihukum penjara seumur hidup dan dua lagi dihukum 20 tahun penjara.

"Satu hal yang amat mengesankan dari Jamil bahwa dia manusia jujur dan tidak munafik. Buktinya ketika dia divonis mati, siap menerima risiko yang terberat yaitu eksekusi hukuman mati," kata sosiolog Musni Umar saat berbincang detikcom, Jumat (29/5/2015).

Musni menduga setidaknya ada lima alasan mengapa Jamil menerima hukuman mati tanpa melakukan upaya hukum apapun. Pertama, Jamil menyadari tidak ada gunanya banding karena hakim Pengadilan Tinggi hampir dipastikan akan mengukuhkan putusan PN Siak karena dia adalah bandar narkoba kambuhan yang sudah pernah dihukum dan kembali melakukannya.

"Kedua, upaya kasasi yang bakal diajukan ke Mahkamah Agung (MA) tidak akan mengurangi hukuman mati yang dijatuhkan kepadanya," ucap Musni. Jamil sebelumnya pernah membawa 7 ton ganja dan hanya dihukum dalam hitungan tahun.

Ketiga, Presiden Jokowi juga tidak akan memberi grasi kepada bandar narkoba sebagai mana yang sering dikemukakan. Keempat, masyarakat sudah dikondisikan bahwa bandar narkoba harus dihukum mati.

"Kelima, tidak ada gunanya menunggu lama pelaksanaan hukuman mati karena cepat atau lambat akan terjadi. Alhasil, Jamil menerima hukuman itu," ujar Wakil Rektor Universitas Ibnu Khaldun, Jakarta itu.

Truk Jamil dihentikan BNN di sebuah jalan lintas Sumatera pada 24 Oktober 2014 lalu. Ganja sebanyak itu akan dibawanya dari Aceh ke Jakarta. Untuk mengelabui petugas, ganja itu ditutupi dengan tumpukan kardus bekas.

"Amat mengagetkan karena vonis hukuman mati kepada Jamil justeru diterima dan siap dieksekusi," terang Musni.

Jamil diadili oleh majelis yang diketuai Sorta Ria Neva dengan anggota Alfonso dan Rudi Wibowo. Hukuman Jamil merupakan vonis mati ketujuh yang dijatuhkan Sorta dalam 2 tahun terakhir. Koleksi ini membuat Sorta dijuluki sebagai 'dewi pencabut nyawa'.

"Saya memberi apresiasi yang tinggi kepada hakim Sorta Ria Neva yang menvonis Jamil dan kawan-kawannya dengan hukuman maksimal karena menyelundupkan ganja 8 ton," kata Musni.

Usai mendengar vonis mati, Jamil mengangguk dan mengatakan dengan tegas menerima putusan hakim Sorta. Usai berkumpul dengan komplotannya di sel tahanan, Jamil tersenyum kepada teman-temannya.

"Saya tidak banding. Berani hidup, harus berani mati," kata Jamil.



(Andi Saputra/Ferdinan)