Begini Wajah dan Konten Buku 'Radikal' untuk SMA yang Ditarik Menteri Anies

- detikNews
Kamis, 26 Mar 2015 13:31 WIB
(Foto: Enggran Eko B/detikcom)
Jombang - Buku Kumpulan Lembar Kerja Peserta Didik (KLKPD) untuk mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) SMA Kelas XI di Kabupaten Jombang tersisipi materi paham Islam radikal. Buku tersebut salah satunya mengajarkan boleh membunuh orang yang tidak menyembah Allah SWT. Seperti apa wajah dan konten buku tersebut?

Judul buku adalah "Pendidikan Agama Islam Sekolah Menengah Atas". Pada halaman 78 terdapat pemikiran tokoh Islam masa modern dari Arab Saudi, Muhammad bin Abdul Wahab. Tokoh asal Arab Saudi ini merupakan pencetus aliran Wahabiyah yang hidup pada tahun 1703 sampai 1787 masehi.

a. Yang boleh dan harus disembah hanyalah Allah Swt, dan orang yang menyembah selain Allah Swt telah menjadi musyrik dan boleh dibunuh
b. Kebanyakan orang Islam bukan lagi penganut paham tauhid yang sebenarnya karena mereka meminta pertolongan bukan lagi dari Allah, tetapi dari syekh atau wali dari kekuatan gaib. Orang Islam demikian juga menjadi musyrik
c. Menyebut nama nabi, syekh, atau malaikat sebagai perantara dalam doa juga merupakan syirik
d. Meminta syafaat selain dari kepada Allah Swt adalah juga syirik
e. Bernazar selain dari Allah Swt juga syirik
f. Memperoleh pengetahuan selain dari al-Qur'an, hadist dan qias merupakan kekufuran
g. Tidak percaya kepada qada' dan qadar juga merupakan kekufuran
h. Demikian pula menafsirkan al-Quran dengan ta'will (interpretasi bebas) adalah kufur

"Juga terdapat materi yang mengarah intoleransi," kata guru mata pelajaran PAI SMAN 1 Jombang, Mukani, kepada detikcom, Rabu (25/3/2015).

Buku itu dikhawatirkan akan mempengaruhi pemikiran para pelajar. Dampak terburuknya akan memunculkan sikap intoleransi terhadap umat seagama maupun antar agama yang tak sefaham.

"Kami khawatir materi tersebut menyesatkan dan menumbuhkan sikap intoleransi. Minimal harus ada revisi pada halaman 78," tandasnya.

Pada Jumat (20/3) lalu, Mendikbud Anies Baswedan menyatakan telah menarik buku tersebut. Dia menyebut, ada konten yang berbau radikal dan aktivitas romantis di dalamnya. Bagi Anies, ajaran-ajaran dalam buku tersebut sangat berbahaya dan dia mempertanyakan kenapa bisa lolos.

"Semua karena dikerjakan mengejar waktu. Akibatnya kita tidak bisa berkompromi dengan kualitas," keluh Anies di kantornya saat itu.

Apakah ada buku pengganti bila buku tersebut ditarik? "Ada buku-buku pengganti yang dan ada juga buku-buku sebelumnya yang kita gunakan di kurikulum sebelumnya," katanya.

(gik/try)