Sidang Suap Bappebti

Kumpulkan Fee, Eks Kepala Bappebti Berkilah untuk Peningkatan Pialang

- detikNews
Rabu, 15 Okt 2014 12:54 WIB
Jakarta - Mantan Kepala Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti), Syahrul Raja Sempurnajaya, mengaku mengumpulkan fee transaksi PT Bursa Berjangka Jakarta (BBJ). Syahrul berkilah pengumpulan duit digunakan untuk peningkatan asosiasi pialang berjangka.

"Saya melontarkan ide itu untuk meningkatkan peran. Terus terang saja komoditi berjangka belum mempunyai pendidikan formil, jadi bagaimana kita (buat) embrio kurikulum dalam pendidikan," kata Syahrul saat diperiksa sebagai terdakwa di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Rabu (15/10/2014).

Syahrul mengakui membicarakan pengumpulan fee transaksi dengan dengan Dirut PT BBJ Made Sukarwo dan Dirut PT KBI Surdiyanto Suryodarmodjo. Namun Syahrul mengklaim tak tahu menahu adanya perjanjian pembagian fee transaksi yang ditandatangani Made dan Surdiyanto pada 29 April 2011. Perjanjian itu berisi kesepakatan penyisihan uang untuk biaya pengembangan yang akan dikelola Asosiasi Pialang Berjakngka Indonesia (APBI).

Untuk mengecek realisasi penyisihan fee, Syahrul memerintahkan Sekretaris Kepala Bappebti Nizarli untuk menanyakan kepada I Gede Raka Tantra (APBI) dan Fredericus Wisnubroto, Ketua Ikatan Perusahaan Pedagang Berjangka Indonesia (IP2BI).

"Saya tanyakan (Nizarli) apakah realisasi mereka sudah ada," sambungnya.

Duit yang dikumpulkan kemudian dikelola Kepala Seksi Sekretariat di Bappebti Diah Sandita Arisanti. Belakangan fee transaksi malah digunakan untuk kepentingan operasional Syahrul. Sebab Syahrul kerap meminta bawahannya mengurus kebutuhan kegiatannya termasuk pemesanan tiket pesawat.

"Setelah terakhir saya tahu itu," jawab Syahrul tanpa bisa merinci nominal duit yang digunakan untuk keperluan pribadinya.

Syahrul mengakui permintaan fee transaksi dilakukan karena kewenangannya sebagai Kepala Bappebti yang mengawasi PT BBJ.

Pada dakwaan pertama, Syahrul didakwa melakukan pemerasan terhadap I Gede Raka Tantra dan Fredericus Wisnubroto untuk menyisihkan fee transaksi. Duit yang terkumpul mencapai Rp 1,675 miliar dan digunakan untuk kepentingan operasional dirinya. Syahrul didakwa dengan Pasal 12 huruf e atau Pasal 11 UU Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

(fdn/aan)